Tampilkan postingan dengan label sivia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sivia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 November 2011

Ku Temukan Penggantinya last part

Hari ini pertengahan November, malam harinya hujan turun dengan sangat lebatnya membasahi bumi. Tak kalah hebatnya suara petir yang bersahut-sahutan. Beberapa jam kemudian hujan mulai reda dan suara petir menghilang, seiring berhentinya hujan lebat. Yang tersisa hanya rintih air hujan.


Ini sudah lewat tengah malam kira-kira pukul 1 dini hari waktu setempat. Oik sudah tak bisa tidur nyenyak semenjak hujan turun beberapa jam yang lalu, ia berusaha memejamkan matanya dan mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Tapi tetap saja semua posisi tak nyaman menurutnya. Sementara Cakka tertidur lelap, suara hujan dan guntur beberapa waktu lalu tak menggoyahkan tidurnya.
“Cakka…”Oik berusaha membangunkan suaminya itu. Namun Cakka tak juga bangun.


Akhirnya ia segera bangun dari tempat tidurnya, perutnya mules sekali dengan jalan perlahan Oik segera menuju toilet. Rasa mules itu hilang dan timbul begitu saja, Oik sudah tak tahan dengan ketidak nyamanan itu.
“Auhhhh….”rintih Oik sambil terus berjalan perlahan mendekati tempat tidurnya lagi.
Cakka segera terbangun karena mendengar suara Oik barusan, ia segera mendekati istrinya itu.


“Kamu kenapa Ik?”tanya Cakka panik saat melihat Oik meringis kesakitan.
“Perut aku daritadi mules terus, sepertinya mau melahirkan nih Kka. Apalagi anak ini nendang-nendang terus”jelas Oik sambil memegangi perutnya.
“Sebaiknya kita langsung kerumah sakit sekarang”Cakka menuntun Oik menuju mobilnya, dan segera tanjap gas menuju rumah sakit.

Karena terburu-buru tadi Cakka maupun Oik tidak sempet menyiapkan segala sesuatu yang perlu dibawa kerumah sakit seperti perlengkapan bayi. Bahkan Cakka saja masih mengenakan celana pendek dan kaos t-shirt. Yang sempet dibawa hanya Hp dan dompetnya saja.


Ini masih jam 2 pagi semua klinik bersalin tutup pastinya, kecuali jika langsung ke rumah sakit yang memang buka 24 jam. Anaknya ini sangat merepotkan padahal masih didalam kandungan gimana kalau sudah lahir?.


“Ik kamu tahan ya, bentar lagi kita sampai rumah sakit”kata Cakka menguatkan Oik saat mobilnya berhenti dilampu merah. Oik tak menjawab, ia hanya merintih menahan sakit.

^^^

Cakka duduk di ruangan bersalin, tangannya sibuk memencet tombol di Hpnya berusaha menghubungi ibu mertuanya itu untuk segera datang ke Jogja. Dan juga menghubungi kedua orang tuanya yang lagi di Batam.


Dan ibu mertuanya itu baru bisa datang besok, Cakka ingin kembali pulang mengambil perlengkapan yang di butuhkan Oik dan anaknya nanti. Baru saja dia hendak melangkah namun tiba-tiba saja perutnya terasa sakit.


“Arghhh….”rintih Cakka sambil meremas perut, ia pun berjalan menuju toilet karena perutnya mules sekali.
Setelah kembali dari toilet rasa sakit itu belum juga hilang, Cakka segera menelpon pembantu di rumahnya untuk datang kerumah sakit dan membawa perlengkapan untuk Oik dan anaknya karena tadi terburu-buru dan belum sempat mempersiapkan.
Setengah jam kemudian pembantunya datang. Membawa tas yang isinya perlengkapan yang di minta Cakka, ponselnya berdering ada telpon dari Mamanya.
“Hallo, Ma”.
“Iya, belum lah ini juga lagi nunggu”.
“Iya…iya, ok. Udah dulu ya Ma nanti aku kabari”Cakka segera menutup sambungan telpon dengan Mamanya.

Setelah beberapa jam menunggu, terdengar suara tangisan bayi memecah kesunyian rumah sakit, waktu menunjukkan hampir subuh. Pintu ruang bersalin terbuka lalu keluarlah seorang suster sambil menggendong bayi, Cakka segera menghampiri, rasa sakit di perutnya tadi sudah berangsur menghilang.
“Selamat ya mas, bayi nya lahir dengan selamat dan normal. Jenis kelaminnya cowok”jelas suster tersebut sambil menyerahkan bayi itu di gendongan Cakka.
“Terima kasih suster”kata Cakka senang, karena anak yang sudah dinantikannya telah lahir. Sebenarnya Cakka ingin sekali anak pertamanya ini cewek tapi jika lahir cowok ya apa mau dikata. Mau cewek ataupun cowok anak itu adalah anugerah tuhan.


Cakka membelai pipi bayinya yang masih merah itu, kemudian mencium keningnya. Ia pun memasuki ruang rawat dan segera menghampiri Oik yang terbaring lemas, kemudian duduk disamping tempat tidurnya.
“Lihat Ik, wajahnya sangat mirip denganku. Hanya saja pipinya sepertimu temben sih, begitu pula matanya”kata Cakka saat mengamati setiap inchi wajah bayinya.
“Jelaslah Kka, dia kan cowok. Lucu sekali kan kalau dia mirip aku, kamu ini bagaimana sih”jawab Oik, meskipun fisiknya masih lemas namun dia masih tetap bisa bercanda.
Cakka terkekeh. “Hehehe iya juga sih”.
“Jadi siapa nama yang cocok untuk dia?”.
“Gimana kalau nama depannya kita ambil dari nama tengah ku dan nama belakangmu. Ramadlani dan Kawekas jadinya Raka. Gimana?”usul Cakka, Oik berfikir sejenak.
“Boleh juga itu, lalu terusannya?”tanya Oik lagi, Cakka berfikir sejenak.
“Duh susah, kamu saja deh Ik yang lanjutin”ucap Cakka pasrah.
“Kamu gimana si Kka, masa ngasih nama anak sendiri saja tidak bisa”gerutu Oik, ia berfikir sejenak untuk nama anaknya.
“Hmm…gimana kalau Raka Andreas Raynaldi Nuraga, panggilannya Aga”akhirnya Oik menemukkan sebuah nama untuk bayinya itu.
“Andreas? Raynaldi? Bagus juga itu namanya, kamu ambil dari nama siapa?”tanya Cakka.
“Itu nama aku ambil dari nama personil SIB, Debo dan Ray ehehehe. Jadi kamu setuju kalau namanya itu tadi”jelas Oik sambil meminta persetujuan suaminya itu, Cakka mengangguk yang artinya setuju.


Cakka menyerahkan Aga di gendongan Oik, agar Oik bisa memberikannya ASI. Setelah selesai
“Aku mau tidur dulu, Kka”kata Oik yang terlihat masih lemas, kemudian menyerahkan kembali Aga ke gendongan Cakka.
“Iya istirahatlah, kelihatannya kamu lelah”kini Cakka beralih duduk di sofa.

Hujan turun lagi dengan deras, udara dingin mulai menerobos masuk melalui ventilasi jendela. Meskipun AC ruangan sudah di matikan namun dingin masih terasa. Cakka mempererat pelukannya ke Aga, memberikan rasa nyaman dan hangat kepada anaknya itu mengingat udara cukup dingin.
Cakka mengambil Hpnya yang tergeletak di pinggirnya, memencet nomor di kontak dan segera menghubungi Mamanya. Awalnya tidak ada jawaban, namun Cakka menghubungi kembali panggilan kelima baru di angkat.
“Ah…lama sekali sih Ma, angkatnya”omel Cakka.
“Aku cuman mau kasih kabar, kalau anak aku sudah lahir ma, cowok”Cakka menjelaskan.
“Mamanya Oik sih datangnya besok pagi mungkin”.
“Oke, nanti aku kirim”ucap Cakka mengakhiri sambungan telpon dengan mamanya. Meletakkan ponselnya kembali.

Sekali lagi Cakka memperhatikan wajah anaknya itu, sangat mengemaskan sekali. Ia mencubit pipinya yang chubby itu secara perlahan sambil sesekali mencium keningnya. Cakka jadi teringat kembali, jika saja waktu itu Oik tidak mengalami pendarahan yang membuat salah satu janinya gugur. Mungkin saat ini dia bisa menggendong dua bayi sekaligus, pasti lucu sekali.

^^^

Hujan masih rintik-rintik, rasanya agak malas jika melakukan aktivitas di tambah lagi ini hari minggu, dimana semua orang libur kerja. Oik terbangun dari tidurnya disampingnya sudah ada Mamanya, Oik tersenyum.
“Ma, kapan datangnya?”tanya Oik kemudian merubah posisinya menjadi duduk.
“Tadi Ik, sekitar jam lima lah”jelas mama Winda, Oik melihat mamanya sedang menggendong Aga.
“Cakka dimana, ma?”tanya Oik.

“Itu sedang tidur, kayaknya dia kelelahan Ik”mama Winda menunjuk sofa, dilihat suaminya yang tidur pulas di sofa itu. Oik segera turun dari ranjang sambil membawa selimut, ia sudah kuat berjalan kembali meskipun pelan-pelan. Oik menghampirinya, menyelimutkan kain itu ke tubuh Cakka membelai rambutnya yang agak berantakan itu dengan perlahan.


“Mama senang banget lho, Ik. Akhirnya kamu dapat suami seperti Cakka”kata mama Winda ikut senang.
“Iya ma!!!”.
“Setidaknya dia lebih baik dan bertanggung jawab dari pada Alvin itu”.

“Ma, jangan bahas dia lagi dong. Oik masih sakit hati dengan Alvin, yang sudah mengambil Lani”Oik agak kesal saat mama Winda membicarakan mantan suaminya itu.
“Kamu tidak boleh gitu Ik, justru kamu harus memperbaiki hubunganmu dengan Alvin demi Lani biarpun kalian bukan suami istri lagi”mama Winda menasehati anaknya itu.

“Tapi Oik tidak tau kabar Lani sekarang gimana”.
“Makanya kamu harus balik ke Jakarta untuk mencari tau keadaan Lani, lagipula dia masih membutuhkan mu. Mengingat usianya masih balita”saran mama Winda.
“Aku balik ke Jakarta jika Aga udah besar ma, lagian kasian dia kalau jika di ajak berpergian sekarang. Aku yakin Alvin bisa kok mengurus Lani”.



Mama Winda menyerahkan Aga ke gendongan Oik. “Sejak tadi Aga tenang dan nggak rewel”.
“Aku rasa juga gitu ma”Oik memperhatikan setiap detail wajah Aga, suara hujan dan percakapan bundanya dengan oma nya barusan tak mengusik tidur lelapnya.
“Mungkin saja dia mewarisi sifat ayahnya itu”Oik mengalihkan pandangannya ke sofa, mama Winda mengikuti.
“Hahaha kamu ini ada-ada saja Ik”mama Winda tertawa kecil mendengar penuturan Oik.
“Beneran kok ma, lihat saja sendiri Cakka kalau tidur biarpun ada suaru berisik dia tidak terusik kok” Oik bercanda dengan mamanya, tanpa terasa matahari sudah mulai tinggi.



Jam menunjukkan pukul 8 pagi cuaca cukup dingin karena matahari masih bersembunyi dibalik awan sehingga tak bisa menghangatkan bumi. Hujan sudah mulai reda kabut pagi masih menyelimuti sudut-sudut kota Jogja, langit masih mendung.


Cakka menggeliatkan tubuhnya meregangkan otot-ototnya yang kaku itu gara-gara tidur di sofa badannya jadi sakit semua, kemudian menghampiri Oik yang sedang asyik nonton berita kebetulan di kamarnya ada televisinya.

“Eh Kka kamu sudah bangun rupanya!!!”kata Oik, Cakka segera duduk disampingnya.
“Mama mana Ik?”tanya Cakka yang tak melihat ibu mertuanya itu.
“Mama pulang untuk menyiapkan segala sesuatu jika nanti kita pulang ke rumah, seperti kamar tidur Aga”Oik menjelaskan. “Terus Aga?”tanyanya lagi.
“Suster sedang memandikannya”Oik kemudian mengambil rantang yang ada di meja, dan membukanya satu per satu.
“Sebaiknya kamu sarapan dulu ya, tadi mama udah belikan ini makanan buat sarapan kamu”jelas Oik sambil mempersiapakan sarapan untuk suami tercintanya itu.
“Bentaran deh Ik, aku masih ngantuk nih”kata Cakka manja sambil merebahkan kepalanya dibahu Oik.
“Sekarang tidak boleh males gitu ah…nanti aku dimarahi mama kalau kamu sakit”.

Cakka dan Oik sedang bahagia karena kehadiran Aga kini. Di tempat lain diwaktu yang sama sepasang kekasih sedang bahagia duduk di pelaminan, sekarang ini mereka resmi menjadi suami istri. Ya Alvin Jonathan Sindunata dengan Sivia Azizah sedang menyelenggarakan acara pernikahan mereka. Sudah tak tampak kesedihan di wajah Alvin yang baru beberapa bulan lalu kehilangan istrinya.

Tampak juga Lani dan Zahra yang ikut bahagia, mereka berdua sedang asyik menghabiskan pudding bersama.

Alvin memulai lembaran hidup baru bersama kedua putrinya dari ibu yang berbeda dan dengan Sivia tentunya. Kini ia harus merubah sikapnya yang kasar dan keras itu mengingat kedua putrinya kini sudah mulai beranjak dewasa nantinya.

Hari-hari yang dilalui Oik kini semakin indah dan menyenangkan bersama Aga dan Cakka tentunya.

Epilog

Kini Aga sudah berusia 4 tahun. Malam harinya Oik sudah mengajaknya belajar.
“Mulai besok kamu sudah masuk TK, jadi kamu harus banyak belajar supaya apa?”kata Oik kepada Aga setelah anaknya itu selesai belajar.
“Supaya pintar dong, bunda”jawab Aga, yang sudah lancar berbicara bahkan mengucapkan kata R dan S, dia sudah bisa.
“Hahaha…betul sekali, anak bunda pintar sekarang ini”kata Oik sambil mengacak-acak rambut anaknya
“Ya sudah kamu sekarang tidur ya”suruh Oik. Aga segera menuju kamar, sementara Oik membereskan buku-buku.

Aga tidak segera menuju kamarnya melainkan dikamar disebelahnya, membuka handle pintu dan masuk ke kamar menghampiri Cakka yang sedang asyik memainkan Hpnya.
“Ayah…”panggil Aga mendekati Cakka, kemudian naik ke kasur duduk disebelah ayahnya itu.
“Kamu sudah selesai belajarnya?”tanya Cakka memastikan.
“Sudah dong, sekarang bunda menyuruhku tidur. Biar nanti pagi tidak kesiangan bangunnya”jelas Aga dengan tingkahnya yang lucu, membuat Cakka gemas.
“Ya sudah sekarang Aga tidur ya”Aga malah merebahkan tubuhnya disamping Cakka.
“Kok tidur disini? Tidur di kamar kamu sendiri dong”tegur Cakka.
“Tidak mau, Aga mau tidur disini bareng sama Ayah”jelasnya. “Ya nanti bunda kamu tidur dimana?”.
“Biar bunda tidur sendiri, kan bunda sudah besar masa tidur sama ayah terus sih”balas Aga yang sudah mulai bisa membantah omongan Cakka.
“Tapi kan bunda, istrinya ayah. Jadi ya bunda tidurnya sama ayah dong, lagian kamu udah gede harus berani tidur sendiri”Aga tak kehabisan akal agar bisa tidur bersama ayahnya.
“Hmm…gimana kalau kita tidur bertiga saja”Aga memberikan usul.
“Tidak. Mendingan kita tidur dikamar kamu saja, biar bunda tidur disini”kata Cakka akhirnya, jika nanti Aga tidur bersamanya sudah pasti ia tak bisa leluasa bermesraan dengan Oik diatas ranjang.
“Setuju”kata Aga dengan wajah berseri, mereka berdua segera menuju kamar disebelahnya. Jika sudah tertidur lelap nanti Cakka akan pindah ke kamarnya sendiri.

^^^

Keesokan harinya Oik sedang bersiap-siap mengantarkan Aga kesekolahnya. Kini Oik berada diruang makan menikmati sarapan pagi ini bersama suami dan anaknya.
“Nanti kamu tidak usah bawa mobil sendiri kalau ngantar Aga, bareng aku saja. Kebetulan nanti aku pulangnya siang kok”jelas Cakka setelah selesai makan. Oik hanya mengangguk
“Asyik, berarti nanti sepulang aku dari sekolah. Kita jalan-jalan yah”kata Aga girang, jika yang mengantar jemput ayahnya pasti dia bisa meminta kemanapun sesukanya. Tapi jika Oik yang mengantar pasti Oik enggan jalan-jalan.
“Sipp…nanti siang kita ke jalan-jalan, kemanapun sesukamu”Cakka menyanggupi.
Setelah selesai makan ketiga Nuraga itu segera menuju sekolah, yang tidak terlalu jauh dari perumahan mereka.
“Ik, aku berangkat dulu ya”pamit Cakka, setelah mereka sampai didepan gerbang sekolah.
“Ok…hati-hati ya”ucap Oik sambil mencium tangan Cakka. Kini Cakka beralih ke Aga, ia sedikit berjongkok.
“Ayah berangkat kerja dulu ya, kamu sekolah yang rajin supaya pintar dan jangan bandel ok. Biar tidak dimarahi sama bunda”pesan Cakka kepada anaknya itu sembari berpamitan.
“Ya…”jawabnya singkat, ketika Cakka hendak berdiri. Aga memanggilanya lagi.
“Ayah…ayah…”panggil Aga sembari menunjuk-nunjuk pipinya yang artisnya sebelum Cakka pergi dia harus menciumnya terlebih dahulu. Cakka mengerti ia merendahkan badanya sedikit agar bisa mencium pipi anaknya itu.
“Masa gitu saja bisa lupa”omel Aga.
“Maaf habisnya ayah sudah buru-buru sayang”Cakka menjelaskan. Oik segera menegurnya.
“Aga waktunya kita masuk sudah setengah delapan ini, nanti dimarahi ibu guru kalau telat masuknya”Oik melerai kemesraan ayah dan anak itu.

Aga segera menggandeng tangan Oik untuk memasuki kelas, tangan kanannya melambai kearah ayahnya, setelah Oik dan Aga menghilang dari pandangannya Cakka segera memasuki mobilnya.

Karena masih TK, maka Oik mendampingi Aga saat proses pembelajaran didalam kelas. Mulai dari menyanyi, menggambar dan mewarnai. Ya bisa dikatakan Oik sekolah TK lagi, untunglah Aga sudah bisa melakukan itu semua sendiri tanpa bantuan Oik. Teman-temannya masih banyak dibantu sama ibunya.

^^^
Setelah pulang dari sekolahnya Oik dan Aga serta Cakka jalan-jalan di Amplas Jogja, menghabiskan waktu mereka bersama-sama sampai sore menjelang. Mulai shopping, makan, nonton film di bioskop.

Kini Oik sudah menemukkan pengantinya Lani dan Alvin. Namun kenangannya bersama Alvin dan Lani akan tetap hidup didalam hatinya, entah kapan dia bisa bertemu dengan anak pertamanya itu.

Sabtu, 02 April 2011

Kaulah hidup dan Matiku Cerpen (versi Cakshill)

_________Enjoy This Story________

Kaulah darahku juga nadiku…
Kaulah nafasku juga jantungku…
Engkaulah hatiku dan jiwaku…



Bel tanda istirahat berbunyi,siswa di pulangkan lebih awal dari biasanya karena semua guru ada kepentingan mendadak. Seorang gadis rambutnya sepunggung jalan terburu-buru menuju parkiran,kemudian temannya menghampiri.

“Shill mau kemana buru-buru amat sih?”Tanya Sivia sambil membarengi langkah Shilla.
“Ada kepentingan mendadak nih”jawab Shilla sambil terus berjalan.
“Oh….”mereka berdua sampai diparkiran.
“Vi…aku balik dulu ya”pamit Shilla yang sudah ada didalam mobilnya.
“Ok hati-hati ya”kata Sivia.

Beberapa menit kemudian mobil Shilla meninggalkan halaman parkir SMA Kartika,di jalan Shilla memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Shilla tak mau orang itu menunggu dirinya terlalu lama,sampai akhirnya mobil Shilla berhenti di parkiran rumah sakit,kemudian dia berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit hingga langkahnya terhenti diruang C.09.

Dibuka pintu kamar tersebut.

“Maaf ya udah bikin nunggu kamu terlalu lama”kata Shilla sambil mendekati orang yang duduk ditempat tidurnya.
“Gpp…kok cepet banget pulangnya ini kan baru jam 9”kata Cakka.
“Katanya para guru ada kepentingan jadi semua siswa dipulangkan lebih awal,dan aku langsung kesini takut kamu kelamaan nunggunya”jelas Shilla.


Cakka hanya mengangguk mengerti.
“Tadi dokter bilang aku bisa pulang hari ini”kata Cakka memberi tau Shilla. Sementara Shilla hanya menanggapi dengan senyuman.
“Senang rasanya akhirnya aku bisa pulang,habis bosen dirumah sakit terus”Cakka tersenyum senang,Shilla terdiam dalam hatinya perkataan Cakka barusan malah membuatnya miris.
“Makannya kamu cepet sembuh Kka!” Cakka hanya tersenyum simpul.
“Kita pulang sekarang Shill”kata Cakka yang udah nggak sabar sambil berdiri dari tempat tidurnya.
“Aku bisa jalan sendiri kok”seru Cakka saat Shilla mengambil kursi roda untuknya.
“Kamu yakin?”tanya Shilla,Cakka hanya mengangguk.
Shilla menuntun Cakka menuju mobilnya yang ada ditempat parkir,lalu Shilla membuka pintu depan mobilnya dan membantu Cakka masuk. Beberapa saat kemudian mobil Shilla sudah meninggalkan parkir rumah sakit.


“Ini kan bukan jalan menuju rumahku…Shill”seru Cakka saat ada ditengah perjalanan pulang.
“Memang bukan kita kerumahku,lagian dirumah kamu kan nggak ada siapa-siapa pembantu kamu lagi pulang kampung kan,kalau pulang kerumahku setidaknya aku bisa merawat kamu”Shilla membelai rambut Cakka. Cakka tersenyum pada Shilla,itulah yang disukai Cakka dari sosok Shilla peduli padanya.


Mereka berdua sampai dirumah Shilla,Shilla menuntun Cakka menuju rumahnya.
“Kamu bisa tidur disini,ini ruang tidur tamu kebetulan nggak ada yang nempati”jelas Shilla sambil membantu Cakka berbaring ditempat tidur.
“Kalau gitu aku keluar dulu ya,sekarang kamu bisa istirahat”ucap Shilla.
“Shilla….”kata Cakka sambil menahan lengan Shilla.
“Apa?”tanya Shilla. Cakka menarik Shilla kedalam pelukannya.
“Makasih ya untuk semuanya”kata Cakka tulus,Shilla balas memeluknya.
“Nggak perlu berterima kasih segala,semua yang ku lakukan ini tulus karena aku bener-bener mencintaimu Cakka,aku nggak mau kehilanganmu”mata Shilla mulai berkaca-kaca,segera mungkin ia menghapusnya karena tak mau Cakka melihatnya menangis.



Aku mau hidup denganmu…
Aku mau matipun karenamu…
Aku mau disisa waktuku bersamamu…

Sore hari langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung,beberapa saat kemudian butiran-butiran air jatuh dari langit membasahi bumi dan bertambah lebat,suara gemuruh petir bersahut-sahutan diluar sana cukup mengerikan memang. Udara diluar cukup dingin sekali,Cakka segera bangkit dari tempat tidurnya karena ia ingin melihat suasana diluar seperti apa,membosankan memang jika cuman tidur-tiduran saja pikirnya.
“Hujan…”guman Cakka yang sudah berdiri dibalkon rumah Shilla dilantai atas.
Pemandangan di sekitar tak terlalu jelas dimata Cakka karena tertutupi oleh lebatnya hujan,suara gemuruh petir tak membuatnya gentar.
Cakka menadahkan tangannya ke atas,seketika air hujan membasahi tangannya. Air itu terlalu dingin sampai terasa menusuk jantungnya buru-buru dia menarik tangannya kembali. Angin bertiup kencang.


Shilla menuju kamar Cakka yang ada di lantai dua rumahnya sambil membawa makanan dan susu hangat karena dia tau daritadi pagi Cakka belum makan. Shilla sampai di lantai atas kebetulan kamar Cakka terbuka dia langsung masuk saja,tapi Cakka tak ada disana.
“Cakka……..”panggil Shilla namun tak ada jawaban. Shilla keluar dari kamar Cakka di balkon dia melihat sosok lelaki berdiri disana Shilla segera menghampiri.
“Kok malah diluar sih,kan udara cukup dingin nggak baik untuk kesehatan kamu”ucap Shilla cemas.
“Aku gpp Shilla,kamu nggak perlu khawatir kaya gitu”kata Cakka yang merasa dirinya baik-baik saja.
“Ya udah kita masuk dulu yuk,aku udah siapin makanan buat kamu. Daritadi pagi kamu belum makan kan”ajak Shilla.
“Ini kamu makan dulu ya” kata Shilla sambil menyerahkan semangkuk bubur.Cakka geleng-geleng kepala tanda nggak mau makan.
“Ayo dimakan dong,kan sejak tadi pagi kamu belum makan katanya mau sembuh”bujuk Shilla.
“Iya aku makan tapi suapin ya”pinta Cakka manja. Dengan senang hati Shilla akhirnya nyuapin Cakka ckckck.


Keesokan harinya Cakka membereskan semua pakaiannya yang ada dilemari.
“Kamu mau kemana Cakka?”tanya Shilla heran saat melihat Cakka sambil membawa tas ranselnya.
“Hari ini aku mau pulang kerumahku sendiri Shilla,lagian para pembokat juga udah balik lagi”jelas Cakka.
“Nggak…jangan hari ini”cegah Shilla yang keberatan.
“Disini aku terlalu menyusahin kamu,mending aku pulang saja”.
“Kok gitu ngomongnya,kamu sama sekali nggak nyusahin aku”Shilla menahan tangan Cakka.
“Lagian aku juga ingin lihat keadaan rumah seperti apa,besok aku balik kesini kok”bujuk Cakka.
“Ya udah kalau itu mau kamu,biar supir ku yang ngantar kamu pulang”Cakka hanya mengganguk.



Kaulah senyumku juga tawaku…
Kaulah damaiku juga bahagiaku
Engkaulah teduhku…
Tempat ku bernaung…


“Sebentar lagi ulang tahun Shilla yang ke 17”kata Cakka sambil melihat kalender yang ada di meja kamarnya.
“Aku harus siapkan kado yang spesial buat Shilla,mungkin ini kado terakhir buat kamu sayang”. Cakka segera menganti pakaiannya,beberapa saat kemudian dia sudah siap.
Cakka meminta supirnya untuk mengantarnya ke Mall,dia tak mungkin menyetir mobilnya sendiri dalam keadaan seperti ini.


______Kisah Hidupku________

‘Ashilla Zahrantiara nama yang cukup indah bukan? Sebentar lagi usianya genap 17 tahun saat tanggal 25 Febuari. Dia adalah gadis yang spesial di hatiku,karena dialah aku masih bisa bertahan sampai sekarang ini di tengah kerapuhanku,dia jugalah yang menjadi penyemangat dalam hidupku. Entah sampai kapan aku bisa terus ada disampingnya? Jika boleh memilih aku ingin selalu bersama Shilla selamanya tanpa ada kata ‘pisah’.

Kini aku mengidap suatu penyakit…….’Gagal jantung’ penyakit ini membuatku lemah dan putus asa,dan karena penyakit itu juga mama meninggal sesaat setelah aku di lahirkan. Dari kecil aku tak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu,papalah yang selalu merawat dan membesarkan ku seorang diri. Hingga usiaku beranjak 13 tahun aku harus menerima kenyataan pahit kehilangan seseorang yang berarti di hidupku…yupp papa meninggal karena kecelakaan tepat sehari sebelum ulang tahunku yang ke 13. Kini aku hidup sebatang kara tapi untunglah masih ada pak Hardy dan bi’ Ellis yang masih setia bekerja dirumahku meskipun papa sudah nggak ada. Walaupun mereka cuman pembantu tapi sudah ku anggap sebagai orang tuaku sendiri.

Saat aku berusia 14 tahun,pagi itu entah kenapa tubuhku terasa lemah jangankan untuk jalan, bangun dari tempat tidur saja sulit bahkan aku mulai sesak nafas. Bi’ Ellis yang melihat keadaanku seperti itu langsung membawaku kerumah sakit.
Aku bener-bener syok saat dokter memberi tau penyakit yang ku derita ini,lengkap sudah penderitaanku kini. Dokter bilang aku hanya bisa bertahan untuk 2 tahun mendatang? Apa 2 tahun berarti aku hidup hanya sampai usia 16 tahun,kecuali jika ada seseorang yang mau mendonorkan jantungnya untukku. Hey…tapi adakah orang yang mau? Bukankan organ jantung yang dimiliki manusia cuman satu,jika di donorkan ke orang lain berarti dia harus siap mati.

Saat itulah sikapku jadi berubah,aku jadi suka menyendiri,pendiam dan selalu di penuhi rasa ketakutan (ketakutan tentang bayangan kematian yang selalu menghantuiku). Tapi setelah aku bertemu dengan Shilla gadis cantik dan ceria itu,membuat semangat hidupku kembali lagi dan karena dialah aku bisa bertahan sampai umurku memasuki 18 tahun. Tapi aku tak tau lagi kapan aku bisa terus bertahan,ku serahkan semua pada kuasa-Nya?!.
______End________

“Kira-kira hadiah apa ya yang cocok untuk Shilla”kata Cakka sambil memikirkan sebuah kado yang akan dia berikan pada Shilla.
“Menurut bapak kado yang cocok untuk Shilla apa?”Cakka meminta pendapat pada supirnya.
“Gimana kalau sebuah liontin den”usul supirnya Cakka.
“Boleh juga usulnya”Cakka segera mencari liontin yang cocok untuk Shilla,setelah dua jam mencari akhirnya dia menemukan kado yang cocok untuk hadiah ultah Shilla.


Aku mau hidup denganmu…
Aku mau matipun karenamu…
Aku mau disisa waktuku bersamamu…


Di kelasnya Shilla nggak konsen dengan pelajaran hari ini,entah apa yang ada dipikirannya yang jelas Shilla mulai gelisah. Kemudian bel tanda istirahat berbunyi.
“Shill lu mau kemana?”tanya Sivia saat melihat Shilla membereskan semua buku matpelnya kemudian mengcangklong tasnya.
“Aku mau pulang Vi”jawab Shilla tanpa memandang kearah Sivia.
“Kok pulang awal,lu sakit ya?”tanya Sivia khawatir,Shilla hanya menggeleng.
“Aku lagi nggak siap sama pelajaran hari ini,dari pada ngga konsen mending aku pulang”jelas Shilla sambil berjalan meninggalkan kelas.

Didepan pintu gerbang Shilla melihat supir Cakka disana,saat melihat Shilla dia segera menghampiri.
“Ada apa pak kok kesini?”tanya Shilla.
“Saya mau jemput non Shilla,bisa ikut bapak sekarang”pintanya.
“Kemana pak?”tanya Shilla heran.
“Ke rumah sakit,kemarin penyakit den Cakka kambuh lagi neng”jelasnya singkat.
“Apa kambuh…kok bisa pak?”tanya Shilla kaget.
“Iya sehabis mencari kado buat ultah neng Shilla kemarin”jelas supir Cakka.
“Kado buat saya? Hmm ya udah kita kerumah sakit sekarang saja pak”ucap Shilla khawatir,di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit hati Shilla diselimuti rasa gelisah.


Kau yang selalu setia menemaniku…
Meresapkan harumnya cinta dihatiku…
Kau yang menyayangiku setulusnya…

Shilla berjalan terus menyusuri lorong-lorong rumah sakit,matanya mulai berkaca-kaca langkahnya terhenti di ruang ICU. Tangannya bergetar saat membuka pintu ruang tersebut,hingga air matanya jatuh membasahi pipinya yang chubby.
“Cakka…..”panggil Shilla sambil mendekati Cakka yang terbaring koma,tak ada jawaban.
“Sebentar lagi aku ulang tahun,kita rayain sama-sama ya seperti tahun lalu pasti seru dan menyenangkan”ucap Shilla yang seperti berbicara sendiri,tangannya mengenggam erat jemari Cakka.

Shilla keluar dari kamar Cakka untuk menemui dokter Lia. Dia berjalan menuju ruang dokter yang menangani Cakka.
“Selamat siang dokter”sapa Shilla saat masuk ke ruang dokter Lia.
“Siang juga,ada yang bisa saya bantu? Oh ya silahkan duduk dulu”sapa balik dokter Lia sambil mempersilahkan Shilla duduk.
“Terima kasih dokter”Shilla kemudian duduk.
“Bagaimana keadaan Cakka dokter? Terus kapan dia bisa sadar dari komanya?!”tanya Shilla antusias.
“Saya tidak tau kapan dia sadar,lebih baik kamu berdoa saja. Kalau kondisinya sekarang ini jujur saat katakan terus memburuk,Cakka saat ini membutuhkan donor jantung tapi mencari pendonor itu tidak mudah,kalaupun ada belum tentu cocok”jelas dokter Lia panjang lebar.
“Kalau gitu bagaimana kalau saya saja dokter yang menjadi pendonor untuk Cakka,saya bersedia kok,dan kalau bisa langsung sekarang saja.”kata Shilla enteng tanpa berfikir dulu.
“Tidak semudah dan secepat itu Shilla,saya juga harus meminta persetujuan dari keluarga kamu,itu pun belum tentu kalau hasilnya nanti cocok,dan kamu tau kan resikonya dari semua itu? Nyawa ”dokter Lia memberikan penjelasan pada Shilla.
‘Kalau aku harus meminta persetujuan dulu dari papa mama pasti mereka nggak bakal setuju apalagi kak Iel’batin Shilla.
“Saya tidak perduli dengan resiko itu,yang penting Cakka bisa selamat”paksa Shilla.
“Tidak bisa Shilla”kata dokter Lia lagi.
“Tolong dokter biarkan saya mengikuti tes itu,saya nggak sanggup jika harus kehilangan dia”kata Shilla memelas,dokter Lia yang melihat ketulusan Shilla merasa iba.
“Baiklah kamu bisa melakukan tes itu”ucap dokter Lia akhirnya,Shilla senang mendengarkannya.
“Terima kasih dokter”kata Shilla,kemudian melakukan tes tersebut. Setelah selesai dari ruang labolatorium Shilla menuju ruang dokter Lia lagi.
“Hasilnya bisa di lihat besok”terang dokter Lia.
“Kalau gitu saya permisi dulu dokter”Shilla keluar dari ruang dokter Lia dan menuju kamar Cakka di ruang ICU.

Sesampainya di dalam Shilla mendekati Cakka dan duduk di samping tempat tidurnya,Shilla memperhatikan setiap guratan wajah Cakka yang terlihat tenang dan damai,hal itu membuat Shilla semakin miris. Diraihnya tangan cowok itu.
“Sebentar lagi kamu bakal sembuh Cakka”kata Shilla senang.
“Semoga hasilnya bisa cocok”ucap Shilla optimis.

Karena bau alcohol bercampur obat yang memenuhi ruangan ICU membuat kepala Shilla pusing dan akhirnya dia tertidur disamping Cakka.
Keesokan harinya suara suster yang memasuki ruangan membangunkan Shilla ketiduran sejak tadi malam di ICU.
“Pagi….”sapa suster tersebut pada Shilla.
“Pagi juga suster”kata Shilla yang masih sedikit mengantuk nyawanya masih melayang belum sepenuhnya kembali.
“Ya ampun jadi sudah semalaman aku ketiduran disini”guman Shilla dilihat jam tangannya waktu menunjukkan pukul 6.30 WIB.
“Aku pulang dulu ya sayang,nanti sore aku bakal balik lagi kesini”pamit Shilla ke Cakka sambil mencium keningnya. Beberapa saat mobil Shilla meninggalkan rumah sakit.


Siang harinya Shilla teringat sesuatu…
“Oh ya….aku harus kerumah sakit sekarang juga untuk nemui dokter Lia”kata Oik kemudian dia segera menuju rumah sakit,sesampainya di sana Shilla berjalan menuju ruang dokter Lia. Kebetulan dokter Lia ada diruangannya.
“Selamat siang dokter”sapa Shilla.
“Siang juga Shilla,silahkan duduk”sapa balik dokter Lia sambil mempersilahkannya duduk.
“Gimana hasil tesnya kemarin dokter Lia?”tanya Shilla udah nggak sabar. Dokter Lia yang sudah tau maksud kedatangan Shilla langsung membuka tumpukan mapnya dan mengambil selembar amplop berwarna putih dan memberikan pada Shilla.
“Ini hasil langsung dari labolatorium dan belum saya buka”jelas dokter Lia sambil menyerahkan amplop yang masih tersegel rapi.
“Tidak ada manupulasi apapun dalam tes itu,asli dari lab nya”Shilla menerima amplop itu,dia sudah tak sabar ingin membukanya.
“Terima kasih dokter”kata Shilla sambil membukanya…Dan Shilla tak percaya setelah melihat hasilnya ‘Tidak Cocok’.

“Apa nggak cocok?”pekik Shilla.
“Nggak…nggak mungkin,ini hasilnya pasti salah kan dokter”kata Shilla tak percaya.
“Bukan Shilla,hasil yang ada di situ memang asli,jantung kamu memang nggak cocok untuk Cakka,selain itu juga nggak ada kecocokan darah antara kamu dan Cakka”jelas dokter Lia.
Shilla segera bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan dokter Lia dengan perasaan kecewa dan tak percaya.
“Shilla…Shilla….”panggil dokter Lia namun Shilla tak menjawab apalagi menoleh.

Shilla berjalan lunglai menuju keruangan tempat Cakka di rawat,air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya. Tangannya meremas kertas hasil tesnya barusan lalu membuangnya.
Didepan ruang Cakka Shilla melihat seorang suster berbicara serius dengan bi’Ellis,Shilla segera menghampiri.
“Kenapa bi…”seru Shilla saat mendengar bi Ellis dengan suster tersebut membicarakan dirinya.
“Itu…den Cakka udah sadar dan dari tadi memanggil nama neng Shilla terus”jelas bi Ellis.
“Udah sadar bi”kata Shilla senang.
“Iya sebaiknya neng Shilla masuk saja”suruh bi Ellis Shilla menurut dan langsung masuk.
Shilla mendekati Cakka.
“Cakka…kamu udah sadar”panggil Oik. Cakka menatap kedatangan Oik,dia tersenyum senang karena masih bisa melihat wajah itu. Perlahan tangannya membuka masker oksigen, agar ia lebih mudah berbicara.

“Shill…Shilla.”rintihnya.
“Iya ini aku….Shilla”tangan Shilla membelai lembut rambut Cakka.
“Selamat ulang tahun ya,maaf mengucapakannya sekarang dan semoga apa yang kamu impikan selama ini bisa tercapai”suaranya Cakka terlihat jelas tidak seperti orang sakit lainnya.
“Kok kamu ngucapinnya sekarang kan ultahku sepuluh hari lagi”kata Shilla sambil mengenggam tangan kanan Cakka.
“Karena aku nggak bisa menemani ultahmu seperti tahun lalu,oh ya aku juga udah mempersiapkan kado buat kamu”jelas Cakka,kini ditangan kirinya sudah memegangi sebuah kotak berwarna ungu.
“Nggak…jangan sekarang Cakka ultah ku bukan hari ini”tolak Shilla. Cakka tak memperdulikan omongan Shilla,dia segera menyerahkan kotak yang ditangannya itu ke Shilla.
“Sekarang kamu bisa buka hadiah dari ku”suruh Cakka,Shilla menurut.
“Liontin….”kata Shilla.
“Kamu pakai ya terus ya liontin ini”kata Cakka,Shilla memakainya.
“Hadiah dari kamu bagus banget”kata Shilla sambil terisak menahan tangis.
“Kok malah nangis harus kamu senang kan bentar lagi mau ultah yang ke 17,jangan nangis lagi ya karena nanti aku tak kan sanggup lagi untuk menghapusnya”perintah Cakka sambil menghapus air mata Shilla dengan tenaga yang masih tersisa.
“Aku senang dan nggak nangis lagi kalau kamu sembuh”Shilla mempererat genggamannya.
Perlahan Cakka tertidur lagi bersamaan dengan datarnya garis dimonitor yang menunjukan kalau detak jantungnya sudah tak ada. Cakka pergi untuk selamanya.
“CAKKKKKKKKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”teriak Shilla sambil memeluk tubuh Cakka yang sudah tek bernyawa.


Aku mau hidup denganmu…
Aku mau hidup denganmu…
Aku mau matipun karenamu…
Aku mau disisa waktuku bersamamu…
Hanya bersamamu…


Setelah kepergian Cakka,akhir-akhir ini Shilla lebih sering mengurung diri di dalam kamarnya,saat ini dia tak ingin melakukan apapun. Dia terus saja melamun seperti orang yang nggak punya semangat hidup.

Gabriel masuk ke kamar Shilla sambil membawakan makanan untuk adiknya itu,dia miris melihat keadaan adiknya sekarang ini yang berubah menjadi orang pendiam dan pemurung.
“Mau sampai kapan kamu terus kaya gini? Kamu harus bisa terima kenyataan ini,kalau Cakka udah pergi untuk selamanya”jelas Gabriel,Shilla tak menjawab.
“Oh ya besok kakak mau pergi ke Bali karena ada study tour,kamu baik-baik ya di rumah”ucap Gabriel sambil membelai rambut adiknya itu. Kemudian dia segera beranjak dari kamar Shilla.

Shilla tak henti-hentinya memandangi foto dirinya bersama Cakka.
“Kenapa kamu ninggalin aku sendirian,kamu jahat…Cakka”umpat Shilla,dia melihat liontin yang melingkar di lehernya.
“Gara-gara kado sialan ini kamu harus pergi secepat ini”Shilla melepas paksa liontin yang melingkar di lehernya,liontin itupun putus.
“AKU BENCI HIDUP INIIIIIIIII………………..”teriak Shilla sambil melemparkan liontin tersebut.
“Buat apa aku hidup jika nggak ada kamu lagi di dunia ini…Cakka”kata Shilla putus asa,dia melihat pisau buah yang ada di mejanya. Shilla segera mengambilnya.
“Tak ada yang bisa pisahkan kita meskipun kau telah tiada kan ku pastikan itu. Ku akan memeluk dan mencium mu di surga”kata Shilla sambil mensayatkan pisau itu ke pergelangan tangannya.
“Awww….”rintih Shilla menahan rasa perih akibat luka sayatan,darah segar menetes dari pergelangan Shilla. Rasa perih itu tak sebanding dengan rasa perih di hatinya saat Cakka pergi untuk selamanya.
Kemudian pandang berubah menjadi gelap di mata Shilla,dia pun jatuh pingsan,darah terus mengalir dari pergelangan tangannya.


Kaulah hidupku dan juga matiku…

Hari ini Shilla baru pulang setelah mengikuti study tour ke Bali selama 3 hari.
“Shilla……”panggil Gabriel namun tak ada jawaban,kebetulan pembantunya lagi pulang kampung jadi dirumahnya hanya ada Shilla seorang diri.
“Kemana sih…Shilla”guman Gabriel karena sudah beberapa kali dia memanggil Shilla namun tak ada jawaban. Dia memutuskan untuk ke kamar Shilla kebetulan kamarnya juga tidak di kunci jadi Gabriel langsung masuk saja.
“Shilla kamu di dalam ya”panggil Gabriel namun kamar Shilla kosong sampai akhirnya….
Dayat menemukan tubuh Shilla tergeletak dilantai kamarnya dalam keadaan sudah tak bernyawa di tangan kirinya memegangi secarik kertas,serta luka sayatan di pergelangan tangan Shilla dan darah yang sudah mengering. Gabriel menyesal karena meninggalkan Shilla seorang diri,dan nggak nyangka kalau Shilla bakal senekat ini.

Sehari setelah pemakaman Shilla. Gabriel membaca surat dari Shilla yang ditulis untuk dirinya.

To:Kakak ku tersayang.
Maafin Shilla ya kak,kalau Shilla sudah melakukan hal sebodoh ini.
Setelah kepergian Cakka,aku nggak bisa menerima kalau dia udah nggak ada lagi disampingku lagi,kakak tau kan kalau aku sangat mencintai dia,aku nggak sanggup harus kehilangan Cakka.

Waktu penyakit Cakka kambuh saat itu aku menemui dokter Lia,dokter yang menangani nya untuk melakukan tes,aku ingin mendonorkan jantungku untuk dia walau ku tau kalau bayaran atas semua ini adalah NYAWA,aku mau asal Cakka bisa sembuh. Namun malang tak dapat di halang,ternyata hasil nggak cocok.

Buat apa aku hidup jika udah nggak ada Cakka lagi di sampingku…kak,cintaku hanya untuk dia seorang.
Semoga aku bisa bahagia di sana ‘Di Alam Keabadian’ selamanya bersama Cakka tanpa ada kata perpisahan lagi.
Dan semoga juga kakak bisa bahagia bersama dengan wanita yang kakak sayangi.


~~~~~~Selesai~~~~~~~

Kamis, 10 Maret 2011

Love Miracle Part 25 (Kau Masih Kekasihku/First Love)

_____Enjoy This Story______

Beberapa hidangan ala negara Eropa sudah tersedia di meja Sivia dan Sion mulai dari pesto chicken,cannelloni,croque monsieur,coq au vin. Awalnya mereka mau nonton film di bioskop,tapi berhubung film yang di sukai Sivia udah habis tiketnya. Maka mereka sepakat untuk dinner saja.
“Mau kemana Vi?”tanya Sion yang melihat Sivia hendak beranjak dari kursinya.
“Toilet…toilet,kenapa? Mau ikut ya”jelas Sivia singkat sambil berlalu dari mejanya.
“Hehehe nggak…jangan lama-lama ya”kata Sion sementara Sivia hanya tersenyum saja.

Ternyata Sivia nggak ketoilet,dia mencari seseorang. Orang yang telah lama ia rindukan walaupun kini Via udah ada yang punya.
“Kemana ya dia?”guman Sivia sambil terus berjalan menyusuri lorong-lorong Mall.


Dan…orang itu berdiri didekat KFC.
Sivia berjalan terus dan pura-pura nggak lihat,otomatis dia langsung nabrak orang itu.
“Eh maaf ya saya nggak sengaja”ucapnya,orang itu melihat ke arah Sivia.
“Lho Sivia,sendirian aja nih?”.
“Iya nih Day,kamu sendiri sama siapa? Terus ngapain berdiri didepan KFC sgala”tanya balik Sivia.
“Sendiri juga…Habis bosen dirumah terus yaudah mending jalan-jalan aja kesini,ini juga mau makan soalnya laper sih hhe”jelas Dayat.
“Kebetulan aku juga laper nih,gimana kalau kita makan disini aja”ajak Sivia.
“Hmm gimana ya”Dayat tampak berfikir.
“Hadehh mau makan aja pakai mikir segala,mau nggak?”ucap Sivia sambil menyeret Dayat masuk ke KFC,dia nurut aja.


Setelah mendapatkan tempat duduk mereka memesan makanan.
“Mau pesen apa Vi?”tawar Dayat.
“Colonel’s yakiniku aja lah”Sivia membolak-balik daftar menu.
“Terus minumnya Fruity Fresh ya,yang rasa strawberry pine lime”lanjut Sivia sambil menunjukan gambar yang ada di daftar ke Dayat.
Dayat segera bergabung dengan orang yang mengantri untuk mendapatkan pesanan.



Semetara di Italian Restaurant,meja Sion.
“Yang namanya cewek kalau ke toilet lama banget sih”gerutu Sion sambil melihat kearah jam tangannya. Kemudian mengaduk-aduk pesto chicken yang udah dingin dengan garpu di tangan kirinya.


Setelah mendapatkan pesanannya Dayat kembali ke meja Sivia.
“Terima kasih”ucap Sivia singkat kemudian mengambil pesanannya dari tangan Dayat.
“It’s Ok”Dayat segera duduk.
“Emang kamu pesen apa’an sih?”tanya Sivia.
“Power B’fast,mau coba?”tawar Dayat.
“Boleh deh”Sivia mengangguk setuju. Dengan sepotong B’fast Dayat menyuapin Sivia.
“Lumayan juga rasanya”coment Sivia.
“Nah…sekarang kamu coba ya yakiniku”sekarang giliran Sivia yang nyuapin Dayat.

Sambil makan mereka bernostalgia saat masih belum putus. Kala malming tiba mereka sering jalan bareng mulai dari nonton,dinner,main di timezone dll.

Setelah selesai makan.
“Temenin aku main di Timezone ya,udah lama aku nggak main kesana”pinta Sivia.
“Eh Vi,emang nggak ada yang marah kalau aku jalan berdua sama kamu?”tanya Dayat was-was.
“Duh santai aja lagi,nggak kok emang siapa ya yang marah”kata Sivia santai.
“Ya cowokmu,ok lah lagian ini juga masih jam 8”Dayat mengangguk setuju,tak ada yang perlu di khawatirkan batinnya.
“Tenang dia nggak bakal marah”.


Sivia dan Dayat main beberapa permainan yang ada di Timezone dan cukup banyak juga poin yang mereka dapat.
Setelah dirasa cukup,Dayat menukar poin-poin tersebut dengan boneka panda lumayan besar juga.
“Lihat deh Vi,mirip kamu ya hihihi…”goda Dayat.
“Ihh masa aku disama’in ma tuh boneka -,-”ucap Sivia sambil manyun.
“Biarpun manyun tetep cantik kok :’)”puji Dayat.
“Udah jam 10 nih,waktunya pulang”Sivia melihat kearah jamnya
“Naik taksi? Gimana kalau aku anterin saja,bahaya tau cewek pulang sendirian larut malam”tawar Dayat.
“Nggak usah,ntar ngrepotin lagi”tolak Sivia sok jaim.
“Ngrepotin? Sama sekali nggak kok. Mau ya?!”
“Ya udah deh”Sivia mengangguk setuju.

Mobilnya Dayat sampai didepan gerbang rumah Sivia,dia segera turun.
“Ma’ kasih ya udah di anterin pulang”ucap Sivia setelah turun dari mobil Dayat.
“Nggak perlu berterima kasih segala”.
“Mau mampir dulu?”tawar Sivia.
“Lain kali saja,nggak baik juga bertamu ke rumah orang malam-malam gini”tolaknya.
“Ok lain kali mampir ya”suruh Sivia.
“Sipp…kalau gitu aku pulang dulu ya Vi”pamit Dayat kemudian menutup kaca pintu mobilnya.

Sivia seneng banget hari ini bisa jalan berdua sama Dayat,kaya waktu dulu. Tapi tunggu ada yang menganjal di hati Sivia.
“Oh God…gue ninggalin Sion sendirian direstaurant tadi”Sivia memukul jidatnya sendiri.
“Aduh gimana ini,masa’ gue harus balik lagi ketempat tadi…ishh”keluh Sivia.
Dia mencoba menghubungi Sion,ternyata di Hp nya ada 40 panggilan tak terjawab+ 5 pesan baru.
“Ini siapa lagi yang miscall gue”setelah di buka ada nama Sion disitu.
“Pasti dia call gue,karena keasyikan ketemu sama Day sampai lupa gue kalau lagi jalan bareng sama Sion -.-“.

To: Via Azizah
Kamu kmna sih Vie,kq nggak balik2?.

Sms berikutnya isinya sama kaya yang pertama.

From:Via Azizah
Sorry aku udh smpe rmah nih.

Sivia memencet tombol send,kemudian segera masuk ke rumahnya.Merebahkan tubuhnya di sofa yang empuk untuk melepas rasa lelah gara-gara main di Timezone tadi.
Drtttt….hp Sivia bergetar ada 1 pesan masuk. Via segera membukanya.

To:Via Azizah
Whattttttt? Kamu udah nyampe rmah! Tau nggak aq tuh nunggu’n kmu d’restorn tdi smpe lumutan :@. Trus knpa mw plang ngga blang2?!.

“Tuh kan dia marah”Sivia makin bingung cari alasan yang selogis mungkin. Nggak mungkin dia ngasih alasan yang sesungguhnya.

From:Via Azizah
Tdi mama nyuruh q plng cpet ad urusn mnda2k,dn ngga smpet ngasih tw km maaf ya :’(.

To:Via Azizah
Ngga ush nangis sgala ya udh klu gtu,maaf ya udh mrah2 :’). Tpi lain kle blang za.

Setelah melihat sms balasan dari Sion tadi,Sivia tersenyum lega walaupun harus berbohong.

From:Via Azizah
Oc ;). Thx ya syang :*.



Hari ini…hari minggu Alvin baru saja bangun dari tidurnya tepat jam 5.00.
“Hoooaaaaaaaammmmmmm”Alvin menguap lebar-lebar sambil merentangkan tangannya.
“Ya ampun masih pagi banget sih”guman Alvin sambil melirik jam wekkernya di meja.
“Olahraga aja kali ya,mungkin bisa bikin pikiran fresh :D”Alvin beranjak dari tempat tidurnya dan menganti pakaiannya.

Kemudian turun ke lantai 1.

“Mau kemana Vin pagi-pagi gini?”tanya Oik yang melihat Alvin sudah rapi.
“Jogging donk,lu mau ikut?”ajak Alvin.
“Nggak ah males,lagian dingin di luar”tolak Oik.
“Susah ya mau ngajak orang buat hidup sehat ckckck”Alvin berdecak.
“Up to you lah”ucap Oik cuek kemudian meninggalkan Alvin.

“Mending ngajak Cakka saja deh”Alvin bergegas menuju kamar Cakka. Didepan kamarnya Cakka udah siap-siap ternyata.
“Rapi banget,pasti mau jogging ya?”tanya Alvin,Cakka mengangguk.


Dijalan sekitar perumahan.
“Emang lu udah berapa lama sih jadian sama Oik? Kok lu mau sama tuh cewek. Oh ya dia tuh cerewet,bawel,nyusahin,nyebelin hidup pula”cerocos Alvin.
“Berapa lama ya Vin? Kayanya sejak kelas satu deh”jawab Cakka.
“Tapi menurut gue Oik nggak kaya gitu”.
“Ya sama lu kan sok manis-manis gitu,tapi kalau sama gue beda lagi hho,udah ah jangan ngomongin dia”Alvin menutup pembicaraannya.

Selesai upacara sekolah Alvin hendak menuju perpus dengan membawa banyak buku ditangannya,dan……….
BRAKKKKKKKK……..
Seseorang menabrak Alvin dari depan tanpa sengaja. Orang itu dan Alvin jatuh bebarengan bersama buku-bukunya yang berserakan di lantai.
“Aduh maaf ya aku nggak sengaja”ucap orang itu meminta maaf.
“Hey kalau jalan lihat-lihat donk,gue tuh berat bawa nih buku. Eh lu main tabrak gue aja”omel Alvin.
Dia kemudian membantu Alvin mengambil buku-buku yang berserakan.
‘Semalam gue mimpi kejatuhan duren,dan pagi ini gue ketemu sama bidadari secantik ini’batin Alvin senang.
“Hallo…”cewek itu melambaikan tangannya kewajah Alvin.
“Eh iya”Alvin tersadar dari lamunannya. Cewek itu menyerahkan buku itu ke Alvin.
“Oh ya nama lu siapa?”tanya Alvin yang bermaksud mengajak kenalan.
“Shilla. Kamu sendiri siapa?”tanya balik cewek yang bernama Shilla tersebut.
“Nama gue Alvin”.
“Nama yang bagus”puji Shilla.
“Nama lu juga cantik,secantik orangnya hhe…”Alvin senyam-senyum geje.
“Kalau gitu aku bantu’in ya bawa buku-buku ini”tawar Shilla.
“Nggak usah ngerepotin,gue bisa kok bawa sendiri”tolak Alvin.
“Gpp lagi,aku juga mau ke perpus”.


Sementara itu dikelasnya Obiet merebahkan kepalanya di meja,kemudian mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Kenapa gue bisa jadi kaya gini sih…arghhh”erang Obiet,dia tau kalau saat ini masalah yang dihadapi sangat rumit.
“Kali ini gue harus minta bantu’an temen-temen,setidaknya mereka punya saran gitu. Tapi siapa yang enak di ajak curhat”guman Obiet.
“Debo…ah nggak mungkin,pacaran aja belum pernah mana ngerti dia soal cinta”.
“Minta saran ke Patton saja…tapi tunggu,ya sama saja kaya si Debo -,-“kata Obiet pasrah.
Beberapa menit kemudian.
“Oh ya…mending gue minta saran saja ke Cakka,pasti dia bisa bantu”Obiet tersenyum senang.
“Tapi dia kemana ya?”kata Obiet yang tak melihat Cakka ada di bangkunya.
“Cari dia dulu ah….”Obiet beranjak dari kelasnya.

Kebetulan Cakkanya lagi ada di luar,Obiet langsung nyamperin dia.
“Cakka ada yang mau gue bicarain ke lu penting”kata Obiet tanpa basa-basi.
“Penting…soal apa ya?”Cakka balik nanya.
“Ngomongnya nggak disini tapi hhe”.

Cakka dan Obiet kembali ke kelasnya,kebetulan jam pelajaran kosong dan yang ada di kelas cuman beberapa anak sibuk dengan kegiatan masing-masing.

“Mau bicara soal apa Biet,serius amat kayanya”kata Cakka.
Obiet kemudian menceritakan semuanya ke Cakka tentang hubungannya sama Gita saat ini sedang renggang.
“Gimana lu punya saran nggak buat gue. Apa yang meski gue lakukan?”.
“Kalau menurut gue sih,mending lu temu’in Gita sekarang. Terus lu minta maaf dan jelasin semua ke dia”jelas Cakka,Obiet nampak ragu dengan usulan Cakka.
“Tapi gimana kalau gagal,dan dia malah semakin membenci gue”kata Obiet was-was.
“Yang penting lu udah usaha,kalau lu nya gini terus nih masalah nggak bakal selesai Biet”.
“Betul juga kata lu ya…Kka,kalau gue gini terus yang ada masalah ini tambah rumit. Gue harus siapin mental nih sebelum ketemu dia”kata Obiet semangat.
“Thanks ya Kka atas sarannya”kali ini Obiet sudah merasa agak tenang.
“Itulah gunanya teman Biet”.


Semenatar itu di kelas Sivia.
“Via kemaren lu jalan sama siapa?”tanya Zahra.
“Kemaren…ya sama Sion lah”jawab Sivia singkat.
“Masa sih? Kayanya bukan Sion deh,gue lihat lu kemaren makan di KFC”kata Zahra lagi.
“Beneran deh gue sama dia”sahut Sivia.
“Ah bukan deh Vi,siapa sih dia wajahnya kaya nggak asing lagi”Zahra sambil berfikir.
“Udah ah nggak usah di bahas nggak penting juga kan”Sivia berusaha mengalihkan perhatian.
“Kekantin yuk lapar ini”Sivia langsung beranjak dari kursinya.
“Eh tunggu Vi,gue ingat-ingat lagi siapa tuh cowok,yang pasti dia bukan Sion deh”Sivia tak memperdulikan ocehan temannya tersebut.

Sore harinya Cakka jalan-jalan di sekitar perumahan tempat tinggal Oik. Bosen jika harus di rumah terus.
Tiba-tiba saja ada mobil yang berhenti disampingnya,orang yang ada di dalam mobil itu turun.
“Shilla….????!!!!!!”kata Cakka.
“Ia…lagi apa,kok sendirian disini?”tanya Shilla heran.
“Jalan-jalan aja bosen aja kalau di rumah terus
“Kamu sendiri mau kemana Shill?”giliran Cakka yang bertanya.
“Hari ini aku mau ziarah kepemakaman mama”jawab Shilla dengan nada sedih.
“Kalau gitu aku temenin ya”tawar Cakka. Shilla mengangguk setuju.
“Maaf kalau merepotkan”kata Shilla tak enak hati.
“Sama sekali nggak”jawab Cakka tak keberatan.

“Maaf ya…Ma. Shilla baru bisa ziarah kemakam mama sekarang ini”bisik Shilla di pusara mamanya. Sementara Cakka diam sambil memperhatikan Shilla.
“Shilla datang sama Cakka,yang dulu pernah Shilla ceritakan ke Mama”.Cakka menundukkan kepalanya,ia tau apa yang di rasakan Shilla saat ini.
‘Semua orang itu pasti bakal mati…Cakka,tinggal nunggu aja kapan waktunya. Termasuk gue,tapi gue nggak pengen mati secepat ini’batin Cakka sambil menguatkan hatinya.

Di samping mobil Shilla setelah selesai berziarah.
“Aku punya permintaan satu untuk kamu Cakka”ucap Shilla tiba-tiba.
“Apa?”Cakka balik nanya.
“Tapi kamu mau kan ngikuti saranku ini”kata Shilla tak yakin.
“Saran….? Saran apa ya”kata Cakka tak mengerti.
“Kamu mau kan ikut kemoterapi,ya walaupun tujuannya bukan menyembuhkan tapi setidaknya bisa mencegahkan”jawab Shilla
“Nggak…Shill. Aku nggak mau ikut kemoterapi atau sejenisnya itu”tolak Cakka.
“Lagian aku pasti bisa bertahan tanpa itu semua”lanjutnya.
“Tapi nggak selamanya….Cakka”kata Shilla.
“Pokoknya aku nggak mau. Pasti rasanya sakit banget dan nyiksa”tolak Cakka.
“Mana kamu tau kalau belum dicoba,kamu pengen sembuh kan,aku juga nggak mau kamu itu seperti mamaku yang harus berakhir dengan kematian”Cakka tersentak dengan kalimat terakhir Shilla.

Akhirnya dengan berat hati Cakka mengangguk setuju.
“Iya”.
“Ini nggak akan berlangsung lama kok,aku punya kenalan seorang dokter spesialis mungkin dia bisa bantu kamu”Shilla tersenyum senang.
“Ya udah balik yuk,sebentar lagi kaya’nya mau hujan nih”Shilla mengantar Cakka balik ke rumah Oik.

~~~~~~~~Bersambung~~~~~~~~~

Huaaaaaaa sekian dulu ya ceritanya :p.
Thanks yang udah setia nunggu ini cerita setelah berbulan-bulan ngaret.
Thanks juga buat Isti,Yessoy,Dinni dan Dessy atas saran-sarannya. Dan juga buat semua yang udah nunggu.
Keep Your Coment and Like ;).