Selasa, 18 Oktober 2011

Ku Temukan Penggantinya


Kesakitanku bertambah pahit…Ketika harus aku akui…Aku menahan rasa cintaku untukmu…Namun kau tak ada…




Seorang wanita berusia 23 tahun berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan menggendong babynya yang masih berusia 3 hari. Wajahnya wanita itu terlihat sedih dan kecewa saat dia melahirkan anak pertamanya, suaminya tidak ada disampingnya.
Mengambil ponsel di tasnya dan segera memencet salah satu nomor, menelpon salah satu supir pribadinya.

“Pak Budi sekarang bisa jemput saya dirumah sakit”kata wanita tersebut pada supirnya.
“Baiklah saya tunggu, jangan terlalu lama ya, Pak”wanita itu mengakhiri pembicaraan via telpon dengan supirnya.

Dilihatnya sekali lagi wajah babynya yang sangat cantik dan mungil itu persis dirinya hanya bibirnya yang mirip dengan sang ayah.
“Sabar ya sayang sebentar lagi kita akan pulang ke rumah dan kamu akan segera bertemu dengan Papamu itu”jelasnya sambil mengusap wajah mulus babynya.

“Ny Oik Ramadlani”panggil salah satu suster yang bertugas sebagai resepsionis, wanita itu berdiri sambil membawa babynya menuju resepsionis.
“Silahkan tanda tangan disini”suster itu menunjuk selembar kertas bukti pembayar perawatan dan persalinan Oik selama di rumah sakit.

Seorang lelaki tiba-tiba menghampiri Oik.
“Hai Oik”sapa orang tersebut kemudian duduk disampingnya.
“Eh hai juga Obiet, sedang apa disini?”ternyata orang itu adalah Obiet Panggrahito bos ditempat Oik bekerja.
“Ini lagi mengurus Asuransi kesehatan untuk para karyawan”Obiet menjelaskan, melihat Oik yang sedang sendirian ia mulai bertanya. “Kok sendirian disini?”.
“Iya ini lagi menunggu supir untuk menjemputku”jelas Oik.
“Menunggu supir? Memangnya suami kamu kemana?!”tanya Obiet membuat Oik sedikit murung.
“Eh maaf kalau pertanyaanku menyinggung mu”kata Obiet merasa tidak enak.
“Tidak apa-apa. Lagian aku berharap Alvin segera kesini agar dia melihat anaknya”sekali lagi Oik memandang wajah anaknya.
“Dia cewek atau cowok?”tanya Obiet. “Cewek”jelas Oik singkat.
“Boleh aku menggendongnya sebentar Ik?”pinta Obiet saat melihat anak Oik yang begitu lucu dan menggemaskan.
“Tentu saja boleh”Oik menyerahkan anaknya dalam gendongan Obiet.
“Dia bener-bener mirip kamu Ik, cantik dan imut”guman Obiet. “Jelaslah mirip aku, dia kan anakku”Oik memukul pelan lengan Obiet.
“Hahahahaha bercanda Ik”Obiet terkekeh. Kemudian lelaki paruh baya menghampiri keduannya ternyata itu pak Budi supir Oik.

“Nyonya Oik”panggil pak Budi. Oik menoleh ke sumber suara.
“Biet maaf ya aku harus pulang dulu”pamit Oik. Obiet segera menyerahkan baby tersebut dalam pelukan Oik.
“Ya. Lagian aku juga mau balik ke kantor kok”Obiet beranjak pergi meninggalkan Oik.

Sesampainya dirumah hanya ada pembantu-pembantunya, Oik berjalan menuju kamarnya. Menidurkan babynya yang tengah terlelap.
Mengambil ponsel di tasnya dan menghubungi suaminya, tidak ada jawaban. Yang ada hanya suara operator yang berbicara dari seberang sana.
“Sabar ya sayang sebentar lagi pasti papa akan pulang untuk melihat dan memelukmu”Oik mengecup pipi mulus anaknya.

Malam mulai menjelang, Oik tiduran di kamarnya. Seseorang mengetuk kamarnya dari luar.
“Masuk saja tidak di kunci”ucap Oik mempersilahkan orang tersebut masuk. Orang tersebut masuk yang tak lain adalah pembantunya sendiri..
“Ada apa bi?”tanya Oik. “Saya cuman memberitahu kalau tuan sudah pulang dan sekarang lagi di bawah”jelas pembantu Oik.
“Betulkah itu bi”kata Oik senang, pembantunya hanya mengangguk. Oik segera turun menuju ruang tamu, di lihatnya pria yang di cintainya sudah ada disana.
“Alvin”panggil Oik. Alvin menoleh kearahnya.
“Ya???”panggil Alvin datar, kemudian beranjak dari tempatnya berdiri menuju kamar. Oik merasa aneh dengan sikap Alvin yang tiba-tiba berubah gitu.

Oik mengikutinya dari belakang, sesampainya di kamar Alvin kaget melihat seorang bayi mungil dan lucu di tempat tidurnya.
“Itu anak kita, Vin. Apa kamu tidak ingin memeluk dan menggendongnya”Oik menjelaskan.
“Aku sedang capek Oik, dan pengen istirahat sekarang”Alvin segera meninggalkan kamarnya tapi Oik mencekal tangannya.
“Apa kamu tidak ingin memeluknya sebentar Vin?”pinta Oik, Alvin melepaskan tangan Oik dengan kasar.
“Nanti saja, aku ingin tidur”kali ini Oik tidak mencegah Alvin, menatap punggung suaminya dengan sedih.

Pagi-pagi sekali Alvin sudah rapi, dan bersiap pergi lagi. Ternyata Oik juga sudah bangun lebih dulu sambil menggendong anaknya.
“Aku mau berangkat ke kantor pagi ini soalnya ada janji dengan client”pamit Alvin yang sudah bersiap di mobilnya.
“Kamu tidak sarapan dulu? Aku sudah menyiapkan semuanya”.
“Nanti saja, aku bisa makan diluar. Maaf aku buru-buru Oik”Alvin langsung menutup pintu mobilnya.


Oik mulai merasa Alvin mulai berubah, dia merasa Alvin yang sekarang adalah orang lain. Sore menjelang sesuatu banget Alvin sudah pulang lebih awal dari biasanya.
“Tumben sudah pulang jam segini?”tanya Oik begitu suaminya sampai di rumahnya.
“Iya tadi cuman sebentar habis itu makan-makan dengan teman kantor”jelas Alvin. “Mana anak itu aku mau melihatnya?”tanya Alvin, Oik tersentak kaget kata-kata Alvin barusan.
“Dia ada di kamar sedang tidur”Alvin berjalan menuju kamarnya, Oik mengekor di belakangnya.

Sesampainya disana Alvin mendekati ranjang kecil dikamar, di dalamnya tidurlah seorang bayi mungil dan cantik. Memperhatikan setiap detail wajah anak itu.
“Aku ingin kamu yang ngasih nama buat anak kita”Oik tersenyum penuh harap.
“Anak kita? Lihat saja dia sama sekali tidak mirip denganku, Oik. Aku tidak mau memberikan nama untuk dia”ucap Alvin.
“Sekarang kenapa sikap kamu jadi berubah seperti ini, aku merasa kita jauh Vin bukan seperti suami istri lagi”terlihat kekecewaan dalam setiap kata-kata Oik.
“Mungkin saja dia bukan anakku, anak ini sama sekali tidak mirip aku”kata Alvin santai.
“Jadi kamu menuduhku?”kali ini habis kesabaran Oik melihat sikap Alvin.
“Kamu merasa sekarang, sebelum kita menikah kamu dekatkan sama Obiet atasan kamu itu kan. Mungkin saja ini anak dia”kata-kata Alvin tak kalah sengit dengan Oik.
“Ya ampun Alvin kenapa kamu berfikir seperti itu, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Obiet. Hanya sebatas atasan dan karyawan itu saja”.
“Kalau itu beneran terjadi, aku siap untuk menceraikanmu”kali ini Oik tidak menjawab lagi, ucapan Alvin malah seperti ancaman. Tanpa terasa air matanya mengalir deras.

Setelah kejadian itu Alvin pergi dan tak pernah pulang, Oik akhirnya memberi nama putrinya tersebut, Nathalani Cahaya Sindunata. Sampai suatu hari saat Alvin pulang ke rumah membuat Oik senang karena suaminya itu pulang, tiba-tiba Oik menemukan bukti pembayaran bahwa Alvin menginap dihotel dengan seorang wanita bernama Ashilla Zahrantiara. Saat Oik meminta penjelasan tentang siapa wanita bernama Ashilla ini, Alvin selalu memberikan jawaban yang tidak masuk akal.

Oik yang tidak puas dengan alasan Alvin akhirnya mencari tahu siapa wanita bernama Ashilla, dan ternyata itu adalah sekertaris Alvin. Oik datang ke kantor Alvin untuk menemui Ashilla, terjadi insiden kecil karena Oik langsung melabrak wanita itu. Alvin yang mengetahuinya sangat murka pada Oik.

PLAKKKK!!!! Sesampainya dirumah Alvin langsung menampar Oik yang menurutnya sudah lancang, Oik hanya bisa menangis.
“Beraninya kamu datang ke kantorku dan membuat keributan disana”geram Alvin.
“Jadi karena wanita itu kamu berpaling dariku dan tidak mau mengakui Lani sebagai anak kamu. Iya kan Vin”akhirnya Oik mulai berani berbicara.
“Lancang sekali kamu menunduh Shilla, baiklah kalau itu maumu. Aku akan segera menceraikan mu”ini sudah sudah kedua kalinya Alvin mengucap kata cerai, yang berarti Alvin sudah menjatuhkan talak pada Oik.

Oik memasuki kamarnya dan memilih mengalah, didalam kamarnya ia hanya bisa menangis karena rumah tangganya dengan Alvin mengalami keretakan. Hingga seminggu kemudian seorang wanita yang Oik ketahui adalah Ashilla datang kerumahnya, dan mengaku kalau dia mau meminta pertanggung jawaban pada Alvin yang telah menghamilinya. Oik berusaha mengusir wanita yang telah merebut suaminya. Alvin juga kebetulan ada dirumah, melihat Oik yang berusaha mengusir Shilla. Alvin marah pada Oik yang sudah lancang mengusir tamunya itu.

“Berani sekali kamu mengusir Shilla”kata Alvin geram.
“Jadi bener apa yang dikatakan wanita itu, dan selama ini kamu selingkuh dariku Vin. Kenapa kamu lakukan itu kepadaku”mata Oik mulai berkaca-kaca.
“Iya. Karena aku sudah tidak mencintaimu lagi, dan satu hal yang perlu kamu ingat kalau Lani itu bukan anakku kan”tegas Alvin.
“Dan kamu masih menuduhku kalau Lani adalah anak Obiet?”.
“Itu sudah jelas karena selama ini kamu memang memiliki hubungan khusus dengan dia”Oik merasa Alvin hanya mencari alasan saja.

Setelah itu Shilla sering datang kerumahnya dan Alvin menyambutnya dengan ramah, Oik yang sudah tidak tahan melihat kelakuan Alvin yang tidak menganggapnya istri lagi. Berniat pergi dari rumah yang telah ditempatinya selama satu tahun lebih. Rumah itu akan menjadi kenangan setelah ia pergi dari situ.
“Nyonya mau kemana?”tanya pembantunya saat Oik mengemasi semua pakaiannya.
“Aku mau pergi dari sini bik. Aku sudah tidak tahan melihat kelakuan Alvin”ucap Oik disertai isak tangis.
“Tuan memang keterlaluan sekali”pembantunya berusaha menenangkan Oik.
“Terus nyonya mau tinggal dimana?”tanya pembantunya. “Sementara ini aku akan tinggal dirumah kontrakan bik”jelas Oik.
Supirnya yang tidak tega melihat Oik segera mengantarkannya mencari rumah kontrakan. Rumah kontrakan yang didapat Oik kecil dan hanya ada satu kamar disebuah pemukiman padat penduduk di sudut kota.
“Maaf ya sayang mama hanya bisa menyewa rumah seperti ini, kamu pasti tidak nyaman ya tinggal disini”Oik berusaha menenangkan Lani yang sejak tadi tak berhenti menangis meskipun sudah diberikan susu.
Waktu terus berjalan, Obiet yang tidak tega melihat nasib Oik tinggal di tempat seperti itu segera mencarikan rumah yang nyaman untuk ditinggali, namun Oik menolak karena biar bagaimana pun dia masih sah sebagai istri Alvin, karena mereka belum resmi bercerai. Lagian jika Oik menepati rumah Obiet, Alvin pasti menyangka kalau ia pergi dari rumah karena mau tinggal bersama Obiet yang menurut Alvin sebagai selingkuhan Oik.

“Sebelumnya aku berterima kasih atas bantuanmu, tapi maaf aku tidak bisa menerimannya”tolak Oik secara halus.
“Kamu tahu kan kalau hubunganku dengan Alvin sedang tidak harmonis. Aku tidak mau Alvin menuduhmu nantinya”lanjutnya.
“Aku mengerti. Jika kamu butuh bantuan, aku siap membantu”kata Obiet sambil menggengam tangannya. Oik merasa terhibur sekarang, dan sesaat bisa melupakan masalah yang sedang menimpanya.

^^^
Suatu pagi di hari libur Oik sedang menyuapi Lani, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu dari luar. Oik berhenti menyuapi Lani untuk melihat siapa yang datang, saat Oik membuka pintu disana berdirilah seorang pria berpakaian rapi memakai jas dan membawa map. Perasaan Oik berubah jadi tidak tenang.
“Maaf anda siapa ya? Dan ada perlu apa?”tanya Oik.
“Saya Riko Anggara pengacaranya Alvin dan ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan pada anda”jelas orang tersebut. Oik mempersilahkan orang tersebut masuk.
“Maaf sebelumnya saya kesini di tugasi Alvin untuk mengurus surat perceraian antara kalian”penjelasan Riko bagaikan petir di siang bolong yang menyambar dirinya, Oik sudah memastikan hal ini akan terjadi juga.
Riko menyerahkan surat gugatan cerai itu, Oik menerima dan membacanya dengan seksama isi gugatan cerai itu ternyata alasan bahwa Lani bukan anaknya tertulis disana sebagai salah satu bukti dan juga hubungannya dengan Obiet sebagai selingkuhannya. Setelah selesai membacanya Oik menyerahkan berkas itu pada Riko.

“Silahkan tanda tangan disini?”Riko menunjuk kolom tempat Oik menanda tangani surat tersebut.
“Saya tidak mau tanda tangan dulu, sebelum bicara dengan Alvin”jelas Oik. “Bisakah anda bicara dengan Alvin untuk menemui saya”pinta Oik.
“Baiklah saya akan mengatur pertemuan anda dengan Client saya”Riko segera mengemasi semua berkas. “Saya permisi dulu”pamit Riko.

^^^
Akhirnya Oik bisa bertemu dengan Alvin disebuah Caffe.
“Perlu bicara apalagi Oik?”tanya Alvin dingin.
“Kenapa kamu masih tidak mengakui Lani sebagai anak kamu? Apa perlu kita adakan tes DNA!”tantang Oik.
“Buat apa melakukan tes itu? Toh aku yakin dia bukan anakku. Kamu melakukan itu karena mau meminta hartaku kan, itu tidak akan pernah terjadi jangan terlalu berharap banyak”Alvin menuduh Oik yang memintanya mengadakan tes DNA hanya karena ingin mendapatkan harta Alvin.
“Kenapa pemikiran kamu seperti itu, aku hanya butuh kejelasan status Lani bukan untuk meminta harta kamu. Lagian aku bisa mencarinya”Oik mulai kesal dengan tuduhan Alvin.
“Biar semua pengacaraku yang mengatur, aku tidak bisa mengobrol lama-lama denganmu. Masih banyak yang harus ku kerjakan”Alvin mengambil map dan menyodorkan ke Oik.
“Jangan lupa kamu cepet tanda tangan disitu, biar cepet selesai”ucap Alvin. “Agar kamu bisa cepet nikah sama Shilla”seru Oik.
“Harusnya kamu berterima kasih padaku Oik, aku mau menceraikanmu dengan begitu kamu bebas menikah dengan Obiet tanpa ada yang melarang”balas Alvin. Oik tidak membalas perkataan Alvin, jika diteruskan malah akan terjadi keributan apalagi ini tempat umum.

^^^
Seminggu kemudian….
Oik dan Lani berada di rumah sakit begitu pula dengan Alvin berserta pengacaranya menunggu hasil dari tes dari labolatorium.
“Jika terbukti kalau Lani bukan anakku kamu harus segera menanda tangani surat ini. Jika postif aku akan mengakui dia sebagai anakku”jelas Alvin yang membuat Oik lega.
“Aku yakin hasilnya nanti positif karena Lani memang anak kamu Vin”ucap Oik optimis.
“Jangan terlalu yakin dulu sebelum hasilnya keluar”.

Dokter kemudian keluar membawa hasil tes DNA dan menyerahkan pada Alvin. Ternyata hasilnya negative, Oik tidak percaya dengan hasil tes tersebut yang kemungkinan sudah direkayasa. Oik terpaksa menanda tangani surat gugatan cerai dari Alvin, buat apa mempertahankan rumah tangganya dengan Alvin yang sudah tidak menyayangi dirinya dan juga Lani. Mungkin cerai jalan yang terbaik Oik terlanjur kecewa dengan sikap Alvin, setelah tiga kali sidang Oik sudah resmi bercerai dengan Alvin. Kini statusnya adalah single parent. Kini Oik harus terbiasa hidup seorang diri dengan seorang anak yang masih membutuhkan kasih sayangnya, Alvin bahkan belum sama sekali menyentuh dan memeluk Lani. Waktu terus berjalan seperti air yang mengalir. Kini Lani sudah berusia 4 bulan.


Saat hendak menyiapkan makanan buat Lani ternyata bubur dan susunya sudah habis, hari ini Oik segera ke Mall untuk membeli makanan dan kebutuhan lainnya.
Setelah keranjangnya penuh dengan barang-barang Oik hendak melangkah ke kasir untuk membayar semua. Tiba-tiba saja dari arah yang berlainan seorang pria yang terburu-buru tanpa sengaja menabrak Oik.
BRUKKKKKKKKK!!! keduanya jatuh bersamaan seluruh barang bawaan Oik berjatuhan di lantai.
“Aduhh!!!”teriak Oik. “Kalau jalan lihat-lihat dong”umpat Oik kesal kemudian memungguti semua barang-barangnya.
“Maaf aku nggak sengaja tadi, habisnya terburu-buru sih”orang itu meminta maaf sambil membantu Oik memunguti barang-barangnya. Oik sepertinya tidak asing dengan suara pria tersebut, saat mendongakan kepalanya untuk menatapnya.
“Cakka!!!”. “Oik!!!”ucap keduanya bebarengan.
“Eh maaf soal yang tadi aku lagi buru-buru soalnya”jawabnya.
“Tidak apa-apa, kamu sekarang tinggal di Jakarta lagi?”tanya Oik memastikan karena dulu selepas SMA Cakka pindah ke Jogja.

Cakka adalah teman satu sekolah Oik dulu sewaktu SMA bersama Alvin, namum Cakka kemudian pindah ke Jogja mengikuti kedua orang tuanya, sehingga Oik udah lost contact dengan Cakka. Padahal mereka dulu teman akrab, Cakka mengajak Oik makan di Restoran sambil bernostalgia ke masa-masa SMA. Mereka mulai bercerita tentang kehidupan masing-masing namun Oik tidak bercerita tentang Alvin.
“Aku harus pulang sekarang”pamit Oik saat selesai makan.
“Kok buru-buru sih padahal aku masih ingin ngobrol lama denganmu”kata Cakka.
“Lain kali saja ya kita sambung lagi”Oik mengambil barang-barangnya. “Biar aku antar pulang, tidak apa-apakan?”tawar Cakka.
“Tidak usah lagian aku bisa naik taksi kok, nanti malah merepotkan kamu lagi”tolak Oik.
“Sama sekali tidak merepotkan, boleh kan aku mengantarmu pulang. Aku sedang tidak sibuk hari ini”Oik akhirnya mau di antar pulang Cakka lagian tidak akan ada yang memarahinya.
“Kamu tinggal dimana sekarang?”tanya Cakka. Oik menunjukan alamat rumah kontrakannya. Cakka tidak terlalu hafal sudut kota Jakarta karena baru seminggu dia tinggal di Jakarta setelah sekian lama. Mobil yang di kendarai Cakka memasuki jalanan sempit, membuatnya agak kaget jika Oik tinggal di perumahan kaya gini. Sesampainya di ujung jalan mobil Cakka terpaksa berhenti, karena mobilnya tidak bisa masuk kegang yang sempit.
“Makasih ya udah nganterin aku pulang”ucap Oik setelah turun dari mobil Cakka. “Tidak perlu berterima kasih segala. Aku boleh kan mampir ke rumahmu”tanya Cakka.
“Tentu saja boleh, tapi beneran nih kamu tidak apa-apa?”Oik memastikan Cakka, takutnya jika pria itu risih melihat rumah yang ditempati Oik.

Cakka mengikuti Oik menyusuri gang yang sempit, antara rumah satu dan yang lainnya berdempetan. Cakka tidak menyangka Oik tinggal di tempat yang menurutnya tidak layak huni padahal orang tua Oik juga orang berada. Mereka sampai di sebuah rumah kecil bercat coklat.
“Jadi selama ini kamu tinggal di sini”kata Cakka tidak percaya.
“Tidak. Baru saja empat bulan yang lalu. Masuk dulu yuk”jelas Oik sambil mempersilahkan Cakka masuk.
“Oik”panggil seseorang dari luar, ternyata itu adalah tetangga sebelah rumah Oik.
“Kamu sudah pulang ya. Aku cuman mau mengantarkan Lani, dia sedang tidur”Cakka agak kaget melihat ternyata Oik sudah memiliki anak.
“Kenapa tidak bilang kalau kamu sudah menikah dan memiliki anak. Aku kan jadi nggak enak jika harus mampir ke rumahmu, entar suami kamu marah lagi”ujar Cakka. Oik tersenyum pahit membuat Cakka bingung.
“Tidak perlu khawatir gitu. aku tinggal sendirian kok disini sama Lani”Cakka semakin tidak mengerti dengan ucapan Oik.
“Maksud kamu apa? Aku masih tidak mengerti”tanya Cakka.
“Kamu tau kan kalau aku dan Alvin dulu berpacaran. Dan membawa hubungan kami ke pernikahan”jelas Oik, Cakka mengangguk mengerti. Kemudian Oik mulai bercerita dari awal pernikahannya dengan Alvin dan memiliki seorang anak yang tidak pernah diakuinya, hingga perceraiannya yang harus menjadi solusi atas semua masalah antara dia dan Alvin.

“Aku tidak menyangka Alvin akan berbuat seperti itu padamu, padahal kalian dulu romantic sekali. Sabar ya”Cakka berusaha menghibur Oik.
“Iya. Sekarang aku sudah terbiasa hidup tanpa Alvin dan mengurus Lani sendirian”Lani mulai terbangun saat mendengar suara Oik dan Cakka yang sedang mengobrol.
“Heyy….anak Mama sudah bangun ya?”kata Oik senang sambil mengecup pipi putrinya tersebut.
“Dia cantik dan imut Ik, mirip sekali dengan kamu”jelas Cakka, Oik jadi heran banyak yang bilang Lani persis dirinya. Hal itu mungkin yang membuat Alvin tidak yakin Lani bukan anaknya karena tidak mirip dengannya.
“Lucu sekali. Bolehkah aku menggendongnya”pinta Cakka. semua orang yang melihat Lani selalu ingin menggendongnya andaikan yang meminta itu adalah Alvin betapa senangnya dia.
“Oh ya Oik aku harus pulang dulu udah sore ini”pamit Cakka kemudian menyerahkan Lani pada Oik.
“Oh ya. Makasih udah mau mampir kesini”ucap Oik senang.

Semenjak kejadian itu Oik sudah mulai akrab dengan Cakka, begitu pula dengan Lani. Terkadang Cakka juga mengantar Oik ke kantornya, Oik juga tidak keberatan selama dia bekerja Cakka membawa Lani ke rumahnya dan meminta pembantunya untuk mengasuh Lani. Dan setiap sore Oik menjemput Lani di rumahnya Cakka.
Cakka juga mulai senang ia bisa begitu dekat dengan Oik, karena sesungguhnya dia menyimpan rasa suka pada Oik semenjak SMA namun tidak berani mengungkapkan karena Oik lebih memilih Alvin. Kini kesempatannya untuk lebih dekat Oik, dan tidak masalah dengan status Oik yang single parent. Kini Lani sudah berusia setahun Cakka mulai mengajarinya untuk memanggilnya Papa.

^^^
Berakhir sudah pencarian cintaku…Jiwa ini tak lagi sepi…Hati ini telah ada yang miliki…

Suatu hari di pertengahan bulan Mei Cakka mengajak Oik dan Lani ke sebuah taman kota.
“Kenapa kamu mengajari Lani untuk memanggilmu Papa?”tanya Oik bingung, setiap kali ketemu Cakka putrinya itu selalu memanggilnya Papa.
“Memangnya kenapa? Lagipula nanti Lani juga bakalan jadi anakku kan”Oik kaget mendengarkan penjelasan Cakka barusan.
“Maksud kamu apa?”tanya Oik tidak mengerti.
Cakka menggengam jemari Oik, menyakinkan wanita yang sudah lama di cintainya tersebut.
“Maukah kamu menikah denganku?”Cakka mengeluarkan kotak kecil dalam sakunya dan membukanya yang ternyata isinya adalah dua pasang cincin.
“Menikah?”.
“Iya”
“Tidak. Eh…maksudku tidak semudah itu Cakka, lagian status kita sudah berbeda”tolak Oik secara halus.
“Aku tidak mempermasalahkan status kamu yang sekarang, lagipula apa kamu tidak kasihan sama Lani dia masih kecil”ucap Cakka meyakinkan Oik.
“Bukan…Bukan seperti itu yang aku maksud. Lagian masih banyak kan gadis lain yang masih single dari pada aku”.
“Aku tidak menyukai gadis manapun selain kamu Oik, bahkan rasa ini sudah ada sejak kita masih SMA”.
“Kenapa meski aku?”tanya Oik.
“Karena aku mencintaimu, Oik”Cakka menggengam jemari Oik semakin erat dan kedua mata mereka saling berpandangan.
“Maaf aku tidak bisa memberikanmu jawaban sekarang. Aku butuh waktu untuk berfikir”sebenarnya Oik mau saja menikah dengan Cakka lagian pria mana lagi yang mau menikah dengan Single Parent sepertinya, tapi di lain sisi apakah orang tua Cakka mau menerimanya.
“Tidak masalah aku akan tunggu jawabanmu. Kapanpun kamu siap”.



Oik tidak memikirkan jawaban apa yang harus dikatakan pada Cakka, ia sedang sibuk mengerjakan proyek di perusahaannya. Sementara Obiet ingin ketemu dengan Oik namun tidak ada waktu untuk ngobrol berdua, lagipula dia ragu apakah Oik mau menerimanya atau tidak. Mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan.
Dan tetangganya mulai menanyakan dimanakah Ayahnya Lani karena melihat Oik yang hanya tinggal berdua saja. Memang benar dia memang harus menikah lagi, lagipula Alvin juga sudah menikah dengan perempuan yang sudah membuat rumah tangganya hancur.
Kali ini Oik mengajak Cakka kesebuah taman tanpa membawa Lani, tempat dimana dia dan Alvin dulu menghabiskan waktu bersama ketika masih berpacaran. Oik ingin mengulang masa-masa itu meskipun bukan bersama Alvin.
“Aku mengajakmu kesini, karena aku akan memberikan jawaban kepadamu”jelas Oik tanpa ragu.
“Sungguh”kata Cakka sudah tidak sabar menunggu jawaban Oik.
“Iya. Mungkin kini saatnya aku membalas perasaanmu itu padaku”ucap Oik. “Aku mau menikah denganmu, lagian bener perkataanmu tempo lalu kalau Lani butuh seorang Papa”lanjutnya. Sebuah senyum mengembang dibibir Cakka saat mendengar jawaban Oik.
“Terima kasih Oik”kata Cakka senang sambil memasang sebuah cincin di jari manis Oik, begitu pula sebaliknya.
“Tapi…”masih ada yang menganjal didalam pikiran Oik. “Kalau soal Papa dan Mama kamu tidak usah khawatir, mereka menyetujuinya kok”jawab Cakka langsung, perasaan Oik mulai lega.
Hari itu tepat tanggal 7 Juni Cakka bertunangan dengan Oik di sebuah taman, tempat dimana Oik dan Alvin juga melakukan hal yang sama. Apakah di dalam hati kecil Oik dia masih mencintai Alvin? Entahlah hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Tiba diriku di penghujung mencari cinta…Hati ini tak lagi sepi…Kini aku tak sendiri…


Setelah itu Cakka mengajak Oik beserta Lani tinggal dirumahnya. Oik memang wanita yang rajin pagi-pagi sekali dia sudah bangun menyiapkan sarapan pagi untuk Cakka meskipun sudah ada pembantu, begitu pula Lani yang sudah bangun pagi dan meminta Mamanya untuk memandikannya. Setelah semuanya selesai kini saatnya membangunkan Cakka yang masih tertidur, membawakan segelas susu hangat. Lani mengikuti Mamanya untuk membangunkan Cakka.

Akhirnya Obiet memiliki waktu untuk ngobrol dengan Oik di Caffe dekat kantornya. Sepertinya Obiet tidak sabar ingin mengatakan sesuatu yang sudah lama ia simpan pada Oik.
“Ada sesuatu hal penting yang ingin aku bicarakan padamu”ucap Obiet memulai pembicaraan.
“Katakan saja aku siap mendengarnya”kata Oik sambil mengaduk-aduk jus jeruknya.
“Aku mengajakmu kesini karena aku ingin…”Obiet menggantungkan kalimat terakhirnya membuat Oik bingung.
“Ingin apa Biet?”tanya Oik ingin tau.
“Maukah kamu menikah denganku Oik”jelas Obiet sambil menunjukkan sebuah cincin. Oik terdiam sesaat antara kaget dan tidak percaya, menarik nafas dalam-dalam sebelum berkata.
“Menikah denganmu?”tanya Oik memastikan mungkin saja dia salah dengar. “Iya”Obiet mengangguk yakin.
“Tapi maaf sebelumnya Biet. Aku tidak bisa menikah denganmu”.
“Kenapa?”tanya Obiet.
Oik terdiam. “Aku tidak mempermasalahkan status kamu yang single parent itu”.
“Bukan…Bukan soal itu”.
“Lantas?”.
“Karena aku sudah bertunangan dengan orang lain, Biet”jelas Oik sembari memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
“Maaf aku tidak bisa menikah denganmu”.

Hancur hati Obiet saat mendengar penjelasan Oik, seandainya dari awal dia punya keberanian untuk mengungkapkan. Mungkin kini Oik akan menjadi miliknya, menurutnya betapa beruntungnya lelaki yang akan menikah dengannya.
Oik merasa tidak enak dan bersalah pada Obiet, tapi harus bagaimana lagi. Mendingan membatalkan yang belum terjadi dari pada yang sudah terjadi. Semenjak kejadian itu sikap Obiet menurut Oik agak berubah.
Kini Oik harus belajar untuk mencintai Cakka dan menikah dengannya bukan karena demi Lani saja, tapi untuk dirinya juga. Usia 24 tahun masih terlalu muda untuk hidup sendiri.
Tepat pada tanggal 20 November 2011. Oik dan Cakka melangsungkan pernikahan mereka dengan sederhana karena Oik yang memintanya. Obiet dengan berat hati datang kesana.
“Selamat ya Oik”kata Obiet sambil menyalami Oik.
“Terima kasih ya kamu sudah mau datang kesini”ucap Oik senang.
Obiet langsung pulang dia tidak mau berlama-lama disana, hanya bisa tersenyum pahit melihat Oik kini sudah menjadi istri orang lain lagi.

Saat aku mencoba merubah segalanya…Saat aku meratapi kekalahanku…Selama aku masih bisa bernafas…Masih sanggup berjalan...Dengarkan aku ku merindukanmu…

Setelah resmi menikah, Cakka membelikan sebuah rumah untuk Oik sebagai hadiah pernikahan mereka. Rumah itu malah lebih besar daripada rumah yang pernah dibeli Alvin.
Malam harinya Cakka dan Oik menginap disebuah hotel untuk menghabiskan malam pertama mereka.
“Kenapa meski di hotel sih, dirumah kan juga tidak masalah”kata Oik pada Cakka.
“Biar tidak ada yang mengangu kita”jelas Cakka sambil tersenyum. Dulu pernikahannya yang pertama Alvin juga mengajaknya menginap di hotel pada malam pertamanya.
“Terserah deh”
“Buruan mandi sana”suruh Cakka sambil melemparkan handuk. Oik mendekati Cakka dan mencium bibir pria itu dengan mesra, sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi.

Setelah selesai Oik keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalutkan handuk ditubuhnya, mendekati Cakka yang duduk di atas kasur.
“Aku sudah selesai mandi sekarang”Oik memegang lengan Cakka. “Aku sudah tidak sabar melakukan ini padamu”kali ini tangan Oik berpindah membuka seluruh kancing kemeja Cakka, kemudian melepas pakaian suaminya tersebut.

“Iya karena kamu sudah pernah melakukannya kan”Cakka menaikan tubuhnya diatas kasur, lalu di ikuti Oik.
“Kali ini aku harus melakukannya lagi denganmu”kata Oik senang, Cakka segera menarik handuk yang menutupi tubuh Oik. Kini Cakka bisa melihat seluruh tubuh Oik tanpa busana.

Kemudian Oik menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “Tidak masalah bagiku kalau aku yang kedua”Cakka menarik kembali selimut yang menutupi tubuh Oik. Kali ini malah nyali Oik yang ciut.

“Kamu tenang saja nggak sakitkan. Lagian kamu sudah pernah melakukannya”rayu Cakka sambil menciumi bibir Oik dengan gemas.
Oik melepaskan bibirnya dari Cakka“Bukan masalah aku. Tapi kamu yang belum pernah melakukannya”.
“Aku tidak mempermasalahkan itu Oik. Kamu tidak usah meragukanku”Cakka kemudian memeluk Oik dan menciuminya lagi dengan gemas. Napas hangat Cakka menggelitik di leher Oik. Membuatnya terkekeh geli.

“Ah, Cakka…Mmm…”.
“Aku sayang kamu”Cakka mulai membaringkan tubuh Oik ke kasur di ikuti dirinya dan menutupi tubuh mereka dengan selimut. Keduanya saling berpangutan. Oik meremas tubuh Cakka hingga membekas bagaikan luka cakaran yang panjang.

Malam itu begitu indah seperti taburan bintang di gelapnya langit hitam malam. Sinar rembulan menjadi penerang bumi kala dimalam hari. Hanya suara televise dengan volume keras yang terdengar.


____Bersambung____


Kamis, 06 Oktober 2011

Makna Sebuah Kehidupan part 3

Sesampainya dirumah Oik langsung merebahkan dirinya dikasur untuk beberapa saat dia hanya diam dan memejamkan matanya. Kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi duduk melangkahkan kakinya dengan malas ke kamar mandi.

Setelah selesai mandi kini pikirannya menjadi fresh kembali.mengganti pakaiannya, sepertinya Oik enggan balik kerumah sakit.
“Kenapa aku sekarang jadi kepikiran Cakka terus sih. Uhh menyebalkan melihat apa yang ku lakukan tadi sungguh bego sekali, tak seharusnya aku berteman dengannya”umpat Oik, memaki dirinya sendiri. Oik memutuskan tidak akan kembali kerumah sakit dan menunggui Cakka.


Dua hari berikutnya tepat saat hari kamis, seperti biasa Oik terlambat kesekolahnya. Hari ini dia memilih naik taksi saja. Sesampainya didepan sekolahnya, Oik memperhatikan kedalam sekolahnya berharap tidak ada satpam disana, setelah dipastikan tidak ada siapapun dihalaman sekolah.

Oik mulai memanjat pagar sekolahnya paling ujung tanpa ada kesulitan saat memanjatnya seakan ini sudah keahliannya, sesampainya diatas dia langsung melompat, mengendap-endap seperti kucing berjalan kearah kantin yang ada dibelakang gedung kesenian.

“Fiuh!!! Aman, tapi tumben sekali tidak ada satu guru pun yang berjaga seperti anjing disana”ucap Oik lega, sepertinya hari ini adalah hari keberuntungannya. Oik bergegas menuju kantin dan memesan makanan, pagi ini dia belum sempat sarapan karena buru-buru.

“Pesen nasi pecel satu sama es teh ya, nggak pakai lama”ucap Oik pada ibu penjaga kantin. Ibu itu diam saja saat Oik dikantinnya dan memesan makanan meskipun ini waktunya siswa masuk.
“Lauknya apa, Non?”tanya ibu kantin tersebut. “Ayam sama telor ceplok”jawab Oik dan duduk dibelakang kantin agar tidak ketahuan guru-guru yang mungkin berkeliaran ke kantin untuk menangkap siswanya yang bolos.


Setelah selesai sarapan dan membayar Oik langsung keluar kantin lewat pintu belakang kantin. Menuju kesebuah taman belakang sekolah, banyak pohon cemara menjulang tinggi disana membuat suasana dibawahnya teduh. Kemudian melemparkan tasnya dan duduk bersandar disalah satu pohon mengambil Mp4 memasang headset ditelingannya memutar lagu kesukannya dengan suara keras. Tangannya merogoh sesuatu dalam tasnya sebungkus rokok dan korek api.


Oik mengambil sebatang menyelipkan dibibirnya dan menyulut api ke rokoknya. Sambil menikmati lagu Oik menghisap rokoknya dengan santai, dia yakin tak ada yang kesini.
Setelah batang rokok itu hampir habis Oik mengambilnya sebatang lagi dan menyulutnya, tanpa disadarinya seseorang telah duduk disebelahnya, Oik tidak menyadari karena telingannya terpasang headset ditambah suara lagu yang kencang, matanya terpejam sambil menghisap rokoknya. Orang itu mencopot headset yang ada ditelinga Oik membuatnya tersentak. Menyadari siapa yang ada disampingnya tampang Oik langsung berubah kesal.


“Ternyata kau rupanya? Mau apa kesini”tanya Oik ketus. “Bertemu denganmu”jelas orang itu yang tak lain adalah Cakka.
“Buat apa? Kemanapun aku disekolah ini kau selalu mengikutiku”Oik hari ini sedang tidak ingin melihat Cakka muncul dihadapnya. “Mengucapkan terima kasih, kamu sudah menolongku kemarin”ucap Cakka tulus.
“Apa hanya itu yang ingin kau katakan padaku?”tanya Oik lagi kemudian membuang rokoknya. “Tidak”Cakka menggeleng.
“Kenapa kemarin tidak kembali lagi kerumah sakit, aku menunggumu disana”jelas Cakka. “Kau pikir aku pembantumu, menyuruhku sesukamu”kata Oik tambah ketus. Cakka hanya terdiam melihat sikap Oik sekarang jadi kasar lagi.
“Sekarang pergilah”usirnya.
“Aku tidak akan pergi dari sini, aku mau menemanimu”tolak Cakka. “Baiklah kalau itu maumu”Oik mengambil sebatang rokok dan mengulurkan pada Cakka. “Apa kau mau mencobanya sebatang ini sampai habis?”tantang Oik. Cakka hanya terdiam mengamati Oik.
“Penakut sepertimu jangan berharap ingin menjadi temanku, kalau kau tidak mau menghisapnya sebaiknya pergi saja”ledek Oik berharap Cakka segera menyingkir dari hadapannya. Cakka segera berdiri dan meninggalkan Oik.



Oik masih menikmati sisa rokoknya, beberapa siswi yang kebetulan lewat mempergoki Oik.
“Wah wah. Lihatlah sekolah kita telah dimasuki berandalan ternyata”kata salah satu diantara mereka. “Apa perlu kita adukan pada kepala sekolah biar dia dikeluarkan dari sekolah?”saran cewek rambutnya agak panjang tampang terlihat judes..
“Adukan saja memangnya kau pikir aku takut, Hah?”tantang Oik. “Kita memang mau melaporkanmu karena kau sudah melanggar peraturan sekolah”.
“Kau memang pengadu”umpat Oik kesal, mengambil sesuatu ditasnya, sebuah pisau lipat dan menacapkannya dipohon. “Kalau kau memang berani adukan saja pada kepala sekolah kalau perlu”kedua cewek itu memandang ngeri kearah Oik.
“Apa yang akan kau lakukan pada kita. Kau tidak bisa mencelakai kami”ucap salah satu diantara mereka yang bernama Shilla. “Menurutmu?”Oik mencabut kembali pisau itu dari pohon. Mereka langsung pergi karena takut Oik akan berbuat sesuatu kepadanya.
“Hahaha dasar penakut, sama pisau aja takut”Oik tertawa puas melihat cewek itu ketakutan.



Sore harinya Oik datang ke tempat biliar, sesampainya didalam dia langsung menghampiri meja paling ujung dilihatnya teman-temannya sedang bermain.
“Hallo Oik!!!”sapa Sion saat melihat siapa yang datang. “Hai juga”Oik membalasnya.
Siti menghampirinya dan berkata. “Kau datang tepat pada waktunya”Siti tersenyum padanya.
“Memangnya kenapa?”tanya Oik bingung. “Kau tidak akan percaya kalau dia sekarang ada disini”.
“Dia ada disini? Yang kau maksud dia, siapa?”tanya Oik. Siti menunjuk kearah orang yang sedang bermain biliar dua meja dari tempatnya berdiri, Oik mengikuti arah telunjuk Siti. “Mantanmu”bisik Siti.
“Maksudmu, Debo?”tanya Oik memastikan orang tersebut adalah mantan pacarnya. Siti mengangguk.
“Berikan tongkat itu padaku”pinta Oik, Siti menyodorkan tongkat biliar itu. Oik berjalan mendekati meja tempat Debo bermain.
“Apa kau mau main denganku?”tanya Oik, melihat siapa yang mengajaknya bicara Debo menoleh dan menghentikan permainannya. “Oik!!!”ucapnya setengah kaget.
“Iya. Aku ingin mengalahkanmu hari ini. Mumpung uangku masih banyak”Oik sedang berkonsentrasi pada sebuah bola dan menyodoknya, empat bola masuk ke lubang yang ada di tepian papan biliar.
“Ternyata kamu masih suka kesini?”tanya Debo. “Sudah jarang tidak sesering dulu, lagian aku sudah kelas tiga dan sebentar lagi mau ujian”jelas Oik berkonsentrasi lagi pada sebuah bola lagi.
“Sejak kapan kamu mulai mengurangi main biliar dan memikirkan tentang ujian?”tanya Debo setengah percaya dengan Oik kalau dia jarang ketempat biliar karena memikirkan tentang ujian.
“Apa kau tidak bosan menanyakan hal yang tidak penting buatmu. Hal itu kadang yang membuatku bosan berhubungan denganmu”Oik memandang kearah Debo.
“Baiklah aku tidak akan bertanya hal-hal yang membuatmu bosan”kini giliran Debo yang berkonsentrasi pada sebuah bola.


^^^


Hari sabtu jam pertama ada pelajaran olahraga dikelas Oik, ini adalah pelajaran yang paling mengasyikan dari pada yang lain. Dia bermain volly dengan siswa cowok setelah mengikuti teori tentang tolak peluru, sepertinya ceweknya cuman Oik yang ada dilapangan tersebut. Teman-teman ceweknya sudah meninggalkan lapangan untuk istirahat.

Setelah puas bermain volley Oik bergegas ke kantin untuk istirahat, kantin masih belum terlalu ramai.
“Sebaiknya kalian berhati-hati karena disekolah kita ini ada berandalan dan kalian jangan dekat-dekat dengannya, entar kalian dibunuh lho”ucap Shilla memberitahu semua siswa yang ada dikantin, kemudian melemparkan senyum sinisnya kearah Oik.
“Emangnya siapa Shill??”tanya salah satu diantara mereka.
“Dia juga sedang ada dikantin ini kok”seru Zevana. Oik memperhatikan apa yang akan dikatakan Shilla tentang dirinya.
“Siapa lagi kalau bukan teman satu kelas kalian yang sering terlambat dan gemar melanggar peraturan sekolah”kata Shilla pada cewek kelas XII Ips 1 merasa tersinggung dengan ucapan Shilla, Oik langsung menghampirinya.
“Coba kau ulangi perkataanmu yang tadi”ucap Oik. “Jadi kau merasa tersindir dengan kata-kataku tadi”ledek Shilla. Oik yang sudah muak melihat Shilla segera mengambil mangkok berisi sambel yang ada didepannya, dengan segera Oik menyiramkan dikepala Shilla. Gadis itu menjerit kesakitan karena sebagian sambel itu mengenai matanya.
“Kau memang cewek brensek, awas saja jika terjadi apa-apa dengan temanku”umpat Zevana setengah mengancam sambil menuntun Shilla keluar kantin. Oik segera menyusul mereka, ditengah koridor Oik melihat ember yang berisi air bekas yang digunakan cleaning service untuk mengepel lantai.


“Kasihan temanmu kalau kau bawa ke kamar mandi, mungkin dia menjerit karena perih kena sambil itu”seru Oik dan menyiramkan satu ember penuh air pel itu dikepala Shilla. Zevana tersentak kaget melihat Oik yang tiba-tiba menyiram mereka dengan air yang sudah keruh dan kotor itu.
“Akan ku buat kau menyesal telah melakukan ini padaku”ancam Shilla sambil mengusap wajahnya dengan sapu tangan, Oik hanya menanggapi dengan tertawa.
“Ze ayo kekamar mandi, aku udah nggak tahan mataku perih banget nih”Shilla segera berlari ke toilet, Zevana mengikutinya dari belakang.
“Puas banget deh hari ini udah bisa ngerjain orang. Hahahaha”ucap Oik puas dan berjalan menuju kelasnya. Setelah kejadian dikantin tadi teman sekelas Oik memandangnya saat dia memasuki kelas, tapi sekali lagi Oik cuek melihat sikap teman-temannya itu.

“Oik, kamu dipanggil sama bu. Oki disuruh menemui beliau diruangnya”ucap salah satu siswa memberitahu Oik.



Oik sudah mengira bahwa Shilla pasti bakal mengadu pada guru BP tersebut, tanpa ragu lagi Oik segera menuju ruang BP. Sesampainya disana kebetulan pintunya terbuka, Oik melihat Shilla dan Zevana sudah didalam ruang tersebut. Bu Oki yang melihat Oik diambang pintu, mempersilahkannya masuk sebelum Oik mengucapkan permisi.

“Silahkan masuk dan duduklah, Oik”bu Oki mempersilahkan, Oik berjalan kearah meja dan duduk disebelah Shilla yang memandangnya dengan penuh kebencian.
“Harus berapa kali saya harus memperingatkan kamu?”ucapnya, Oik hanya terdiam.
“Entah bagaimana cara yang tepat untuk membuatmu berubah, saya sudah melihat catatan dari sekolah-sekolah lama kamu”lanjutnya. “Bahwa kamu dikeluarkan dari sekolah karena sering bermasalah”.
“Sebaiknya siswa seperti ini langsung DO saja, bu”celetuk Shilla. “Sebaiknya kamu diam dulu Shilla, karena bukan wewenang ibu saja yang bisa memutuskan siswa dikeluarkan atau tidak”Shilla langsung terdiam.
“Dan tindakan kamu ke Shilla tadi sungguh keterlaluan, sebagai hukumannya kamu harus membersihkan gudang disebelah lap Ipa”.
“Masa Oik hanya dihukum seringan itu sih, ini tidak adil bu. Mata saya hampir buta gara-gara cewek sialan ini”kata Shilla tidak terima.
“Ini adalah keputusan saya, dan kamu Shilla sebaiknya kamu menjaga ucapanmu itu”tegur bu Oki.


Oik mengikuti bu Oki menuju ruang kebersihan, beliau segera menyuruh cleaning service mengambil sapu, tempat sampah, ember dan selembar kain.
“Jangan lupa habis itu kamu pel lantainya, jangan berhenti sampai bersih. Nanti ibu akan kesana”Oik menerima semua alat kebersihan itu dan berjalan menuju gudang disebelah lap Ipa.


Oik berjalan menuju gudang yang ada dibelakang labolatorium, disana kelas Ipa sedang praktik. Cleaning service membuka pintu gudang tersebut. Gudang tersebut sangat kotor penuh dengan sarang laba-laba, berdebu dan semua barang-barang berserakan dilantai.

“Yang bener saja bu.Oki menyuruhku membersihkan gudang ini sampai bersih seorang diri?”keluh Oik. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah mengeluarkan semua barang dari gudang, kemudian barulah dia bisa membersihkan langit-langit dan menyapu lantai.

Oik menyeret satu persatu meja dan kursi keluar ruangan, melemparkan keluar kerangka manusia dan patung anatomi manusia karena dipikir Oik benda-benda itu mungkin sudah tidak terpakai.

“Mengerikan jika itu beneran tulang manusia beneran”gumannya. Oik mulai menyapu ruangan setelah semua barang berhasil ia keluarkan.

Didepan gudang itu adalah labolatorium Ipa, suara berisik dari dalam lap membuat Oik penasaran apa yang sedang dilakukan mereka. Mengambil salah satu bangku dan memanjatnya, mengintip melalui jendela.

Ternyata siswa tersebut membereskan peralatan yang barusan digunakan praktik. Tiba-tiba saja kursi yang menopang tubuh Oik itu ambruk dan membuatnya terjatuh.
“Kursi sialan”umpat Oik sembari kakinya memendang kursi yang udah lapuk tersebut, mengambil sapunya kembali.
Terdengar suara langkah kaki mendekat, Oik memperhatikan siapa yang datang. Ternyata seorang siswa yang tak lain adalah Cakka yang sedang membawa kardus, berjalan kearahnya.

“Ngapain kau kesini?”tanya Oik. “Harusnya aku yang tanya gitu, dan apa yang sedang kamu lakukan dengan gudang ini”Cakka balik tanya karena melihat semua barang-barang digudang berserakan diluar.
“Kau tidak lihat, aku kan sedang membersihkan gudang ini”Oik menunjukan sapu yang dipegangnya ke Cakka. “Aku hanya ingin menaruh barang ini ke dalam gudang”jelas Cakka.
“Taruh saja disitu, karena aku sedang membersihkannya”saran Oik. “Boleh kan aku membantumu membersihkannya”tawa Cakka.

“Kenapa kau pakai izin segala, lagian aku tidak keberatan jika kau membantuku membersihkan gudang kelasmu itu”ucap Oik mengiyakan, menyerahkan pembersih lantai dan ember serta alat pelnya. Cakka segera melepas sepatunya dan mulai mengepel lantai seumur hidupnya baru kali ini ia ngepel lantai.
“Kenapa kamu membersihkan gudang ini? Di hukum lagi”tanya Cakka. Oik mengangguk.
“Tadi aku siram Shilla anak kelas Ipa 2 itu dengan semangkok sambal, terus dia ngadu ke bu Oki. Tapi aku puas banget udah ngebales dia”kata Oik menjelaskan.
“Kamu memang tidak punya perasaan, kan kasian dia”ucap Cakka.
“Biarin saja toh sambel itu setara dengan omongan dia ke aku”tiba-tiba saja sesuatu yang kecil dan berwarna coklat tua merangkak di kulit kakinya Oik, membuatnya agak sedikit geli. Karena penasaran Oik segera berdiri dan melihat dua ekor Kecoak di kakinya.


Oik berteriak histeris dan melompat kearah Cakka, saat itu Cakka sedang mengepel lantai. Karena belum siap saat Oik menerjang dan mendekap tubuhnya keduanya langsung ambruk ke lantai.
“Tolong singkirkan Kecoak itu dari kakiku”pinta Oik sambil bergidik ngeri tangannya lebih erat lagi mendekap tubuh Cakka.
Cakka bisa merasakan Oik sedang ketakutan karena seluruh tubuhnya gemeteran. “Gimana aku bisa menolongmu, kalau tubuhnya saja diatas badanku”kata Cakka.
Oik yang sadar langsung melepaskan pelukannya dan berdiri. “Jangan kau pikir saat seperti tadi kau bisa mengambil kesempatan untuk memelukku”.
“Seharusnya aku yang berkata begitu, ternyata kamu memang pintar sekali mengambil kesempatan”Oik tak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan rasa malunya.
“Aku tidak sengaja, karena aku kaget saja ada kecoak di kakiku. Aku memang phobia sama binatang itu”dengan susah payah Cakka menahan tawanya melihat wajah cewek di depannya saat ketakutan tadi.
“Apa yang sedang kau ketawakan, emangnya ada yang lucu dariku?”tanya Oik kesal.
“Tidak ada. Cuman aneh saja cewek sepertimu takut dengan kecoak dari pada kemarahan guru sekolah ini”jawab Cakka sambil tertawa pelan. Oik mulai mengumpat kesal dan merencanakan sesuatu untuk bikin perhitungan dengan Shilla.

Setelah selesai membersihkan gudang Oik segera balik ke kelasnya. Di dalam tasnya Oik mengambil sesuatu dalam kotak kecil dan berlari kelas tepat saat bel masuk kedua berbunyi.
“Pasti ini mobil dia”guman Oik sambil mengamati mobil berwarna putih di parkiran, mengeluarkan kotak kecil di dalam sakunya yang ternyata paku payung. Oik menuangkan sebagian ditangannya dan menebarkannya di bawah roda ban belakang kiri dan kanan.
“Saatnya pembalasan”Oik tersenyum licik. Kebetulan Cakka yang sedang melintas melihat Oik yang sedang berdiri di samping mobil segera menghampirinya.
“Apa yang sedang kamu lakukan disini?”tanya Cakka, ia melihat tangan Oik yang sedang menebarkan paku tersebut pada ban mobil.
“Seperti yang kau lihat, memangnya aku sedang apa?”kata Oik santai, kini paku ditangannya sudah habis.
“Kamu memang tidak pernah jera untuk melanggar peraturan sekolah”Cakka menunduk dan memungguti paku-paku tersebut.

Kebetulan bu Oki sedang melintas dan melihat dua siswanya sedang berdiri di parkiran segera menghampiri.
“Apa yang kalian berdua lakukan disini?”tanya bu Oki mengamati keduanya. “Dan kamu, Cakka. ibu tidak menyangka kamu melakukannya”ucap bu Oki tidak percaya saat melihat paku di tangan Cakka.
“Dan kamu sekarang mulai mengikuti Oik melanggar peraturan”Oik hendak menjawab namun Cakka menyelaknya.
“Tidak. Oik tidak terlibat, malahan dia mencegah saya melakukannya”Oik langsung cengo melihat apa yang dilakukan Cakka.
“Sekarang kamu ikut ibu ke kantor dan kamu Oik balik ke kelasmu”Cakka menatap Oik sebentar sebelum melangkah mengikuti bu Oki. Oik bergegas meninggalkan parkiran.

Oik enggan masuk ke kelasnya, ia tak habis pikir apa yang dilakukan cowok tadi bener-bener nekat. Oik ingin melihat hukuman apa yang diberikan bu Oki kepada Cakka.
Oik berjalan kearah lapangan tapi tidak ada siswa yang dihukum disana, kemudian langkahnya menuju toilet tidak ada juga, yang ada hanya seorang siswa yang kaget melihat Oik memasuki toilet laki-laki.


Langkahnya terhenti saat menangkap bayangan seseorang dari kejauhan berdiri di belakang gedung sekolah, Oik terus mendekat dan mengintip dari balik pohon. Ternyata orang itu adalah Cakka yang sedang menyapu halaman belakang gedung olahraga. Oik mengamatinya dari balik pohon kemudian beranjak pergi
30 menit kemudian Cakka selesai menyapu seluruh halaman belakang, baru kali ini merasakan dihukum rasa capek dan kepanasan mulai ia rasakan, Cakka sedang memikirkan bagaimana Oik yang sering kena hukuman tidak pernah mengeluh sama sekali. Cakka menyandarkan tubuhnya di salah satu pohon untuk melepas rasa lelahnya, dan mengusap keringat di dahinya.


Tiba-tiba seseorang menyodorkan sebotol air mineral dingin kearahnya. “Ini buatmu”kata orang tersebut, Cakka menoleh untuk melihat siapa orang tersebut, ternyata Oik yang sudah duduk disampingnya.

“Terima kasih”Cakka mengambilnya dari tangan Oik.
“Aku masih tidak mengerti denganmu. Kenapa kau tidak menyerah untuk menjadi temanku padahal jelas-jelas aku tidak mau. Kau memang nekad”kata Oik.
“Aku memang orang yang tidak pernah menyerah, sama sepertimu yang tidak pernah jera melanggar peraturan sekolah”.
“Dan kenapa kau mau jadi temanku? Padahal semua siswa disini tidak mau berteman dengan anak urakan sepertiku”ujar Oik.
“Aku sama sekali tidak keberatan jika punya teman seperti, lagian aku ingin merasakan seperti apa jadi berandalan itu”Oik tertawa mendengar penjelasan Cakka. “Hahaha… kau memang harus mencobanya sendiri agar bisa merasakan”Oik kemudian mengeluarkan rokok dan korek api dari sakunya.
“Kau harus mencoba ini dulu”Oik mengulurkan sebatang rokok ke Cakka. “Aku tidak merokok Karena itu tidak baik buat kesehatanku”Cakka menggeleng.
“Baiklah aku tidak memaksamu untuk menghisapnya”Oik memasukan lagi kedalam bungkusnya.
“Aku mau jadi temanmu, dan sepertinya hanya kau saja yang mau”Oik tersenyum dan mengulurkan tangannya, Cakka membalasnya.

Minggu, 02 Oktober 2011

Makna Sebuah Kehidupan part 2

Hari-hari Oik disekolah berlangsung seperti biasa selama dua minggu hanya dengan dua puluh kali hukuman, semua hukuman sudah dia rasakan mulai dari ngepel WC, menyapu halaman, lari mengelilingi lapangan, memotong rumput dan memunguti sampah hingga berdiri dibawah tiang bendera. Sudah bosan Oik harus menjalankan semua hukuman itu, dia ingin melihat kekreatifan guru-gurunya dalam menciptakan hukuman.


Jam pelajaran pertama dikelas Oik adalah matematika, dia bosan jika harus melihat rumus-rumus yang membingungkan tersebut saat pelajaran berlangsung sekitar 30 menit Oik meminta ijin pergi ke toilet. Namun bukannya ke toilet Oik pergi ketaman dibelakang sekolahnya disana ada sebuah danau kecil dan pepohonan rindang, memanjat salah satu pohon mengeluarkan pspnya dan memainkan salah satu game kesukaannya.


Lama kelamaan Oik mulai merasa bosan lalu mengedarkan pandangan keseluruh taman dan berhenti saat melihat orang yang duduk di bangku dekat danau. Oik segera turun dan berjalan kearahnya. Saat hampir dekat ternyata siswa itu adalah Cakka, Oik memperhatikan apa yang dilakukannya.

“Wow aku tidak menyangka ternyata diam-diam kau lebih parah dariku ya”Oik menegurnya. “Apa maksudmu?”tanya Cakka bingung. Oik mengamati butiran kecil putih ditangan Cakka.
“Tenang aku tidak akan mengadukanmu pada kepala sekolah, asal kau mau jujur padaku”Oik menepuk pundak Cakka kemudian duduk disebelahnya.
“Aku masih tidak mengerti apa yang kamu bicarakan?”Cakka bertanya lagi.
“Tidak usah berpura-pura lagi”Oik mendekat kearah Cakka. “Butiran ditanganmu itu narkoba kan”bisik Oik.

“Bukan. Ini bukan narkoba seperti yang kamu bilang tadi”selak Cakka. “Aku tidak keberatan jika kau mau membaginya denganku. Lagian aku belum pernah mencobanya kok”Oik mengambilnya sebutir dari tangan Cakka. Cakka segera merebutnya kembali dari tangan Oik.
“Aku bukan orang pengadu, tak kan ku laporkan. Kalau kau memang mengkonsumsinya. Aku jadi ingat perkataanmu yang dulu kau ingin berteman denganku kan, karena kita memang senasib”Oik mengambil buku disebelah Cakka dan membacanya.

“Semua yang kamu katakan itu salah, aku bukan pemakai”tegas Cakka, Oik menutup bukunya dan memandang Cakka tak yakin. “Aku sedang sakit! Dan tak boleh telat meminum obat ini ”sesaat Oik terdiam sesaat sebelum berkata lagi.
“Memangnya kau sakit apa? Tampangmu saja tidak menunjukan kalau kau sedang sakit”kata Oik tak yakin sambil tersenyum kecil.

Cakka memegang lengan Oik kemudian menatapnya dan berkata dengan tenang. “Gagal Jantung”senyum Oik menghilang untuk sesaat dia tak berkata sepatah katapun dan berhenti membaca buku kemudian memandang kearah Cakka. Untuk beberapa saat mereka saling diam dan berpandangan.


Gagal Jantung yang dalam istilah medisnya disebut dengan "Heart Failure atau Cardiac Failure" merupakan suatu keadaan dimana jumlah darah yang dipompa oleh jantung seseorang setiap menitnya tidak mampu memenuhi kebutuhan normal metabolisme tubuh. Dampak dari gagal jantung secara cepat berpengaruh terhadap kekurangan penyediaan darah, sehingga menyebabkan kematian sel akibat kekurangan oksigen yang dibawa dalam darah itu sendiri. Kurangnya suplay oksigen ke otak (Cerebral Hypoxia), menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran, sesak nafas bahkanberhenti bernafas dengan tiba-tiba yang berujung pada kematian.


“Oh gitu. Hmm aku balik dulu ke kelas”belum sempat Oik berdiri ternyata pak Duta sudah berdiri dihadapan keduanya.“Ternyata kamu disini, Oik? Bukannya tadi kamu mau ketoilet! Ternyata kamu bolos pelajaran saya”.
“Dan kamu Cakka kenapa disini?”tanya pak Duta. “Ini memang waktunya pelajaran diluar kelas pak”jelas Cakka.
“Kamu, Oik. Ikut bapak keruang BP dan hukuman apa yang tepat buat kamu”pak Duta melangkah pergi meninggalkan taman Oik mengikuti dibelakangnya. Mereka menuju ruang BP.

“Lagi-lagi kamu. Saya terpaksa harus mengirimkan surat peringatan kepada orang tuamu”kata bu Oki tegas. “Jadi kapan saya dikeluarkan dari sini?”tanya Oik santai.
“Ibu belum memutuskan untuk mengeluarkanmu dan memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki kesalahmu. Tapi sebaiknya kamu berhenti melanggar peraturan sekolah”bu Oki si guru BP mengambil buku catatan tentang pelanggaran siswa.
“Jika kamu dua kali bolos dalam matpel Matematika, seterusnya kamu tidak boleh mengikutinya. Dapat ibu pastikan kamu tidak akan naik kelas”ancaman bu Oki tak membuat getir Oik sedikitpun.
“Surat ini berikan kepada orang tuamu”bu Oki menyodorkan selembar amplop pada Oik.
Setelah menerimanya Oik kembali ke kelasnya dan mengikuti sisa pelajaran Matematika yang tinggal 20 menit lagi.
“Aku tidak berminat untuk menyerahkan lembaran ini pada Papa”Oik merobek surat tersebut dan membuangnya ketempat sampah saat istirahat berlangsung.

^^^
Malam harinya…
“Oik, Papa mau bicara padamu?”Oik yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya tanpa memandang Papanya.
“Bicara saja, aku pasti dengar kok”Oik masih sibuk dengan laptop dihadapannya.
“Mau sampai kapan kamu akan terus-terusan gitu? lagian kamu kan anak perempuan tidak sepantasnya bersikap begitu”kata Papanya langsung sambil mengulurkan selembaran surat, Oik langsung berhenti dan memandang Papanya.
“Selamanya!!!”jawabnya singkat. “Papa sudah tidak tahan melihat sikapmu yang seperti berandalan tak berpendidikan”lanjut Papanya.
“Oh. Jadi Papa tidak senang aku tinggal disini”kata Oik kesal. “Tidak, bukan begitu cuman Papa ingin kamu merubah sikap”.
“Baik kalau itu mau Papa. Besok aku akan ke Semarang dan tinggal bersama Oma”ancam Oik. “Tidak. Kamu akan menyusahkan Oma dengan perilakumu yang seperti ini”cegah Papanya.
“Seharusnya Papa yang berfikir kenapa aku jadi seperti ini. Papa dan Mama egois tidak pernah mengerti perasaanku saat itu”kata Oik matanya mulai berkaca-kaca dan berlari kekamar dan membanting pintu saat menutupnya, ucapan Oik barusan membuat Papanya tersentak dan bersalah.
“Oik…Oik. Maafin, Papa…sayang”Papa Oik melangkah kekamarnya, namun Oik menguncinya



Lima hari berikutnya meskipun masih enggan bicara dengan Papanya. Oik sudah mulai baikan dengan Papanya …

Pagi-pagi sekali Oik sedang sibuk ditaman sekolah, merobek lembaran dari buku paketnya dan melipatnya menjadi kecil kemudian memasukan kesaku roknya. Cakka yang penasaran apa yang sedang dilakukan gadis itu mendekatinya.

“Kamu nulis apa?”tanya Cakka sembari mengamati Oik yang sedang menulis catatan dikertas kecil. “Belajar lah kau kira aku sedang melukis apa?”jelas Oik tanpa mengalihkan pandangan dari kertas kecil dihadapannya.
“Belajar bikin sontekan ya?”tebak Cakka. “Ya seperti yang kau lihat”jawab Oik santai, Cakka segera merebut catatan itu dan merobeknya.
“Kamu tidak boleh membawa sontekan itu curang”melihat apa yang dilakukan Cakka membuat Oik kesal. “Beraninya kau merobek catatanku, apa sih maumu?” Oik memandangnya kesal.
“Mauku kamu tidak mencontek, ini sama saja kamu tidak menghargai kemampuanmu sendiri”tegas Cakka. “Kayak kau tidak pernah bikin sontekan saja”ledek Oik.
“Aku memang tidak pernah bikin sontekan sepertimu, karena aku lebih menghargai orang yang nilainya jelek tapi dia jujur”.
“Apa yang akan ku dapatkan kalau aku tidak menyontek selain nilai jelek?”tanya Oik kepada Cakka. “Baiklah kalau kamu tidak mencontek aku akan menuruti permintaanmu”jawab Cakka ngasal.
“Memangnya kau bisa menyanggupi permintaanku”tantang Oik, Cakka menatapnya dengan yakin. “Ok. jumat sore datanglah ke lapangan didekat taman kota”Oik segera mengemasi semua buku-bukunya.
“Aku akan datang sesuai keinginanmu”kata Cakka saat Oik berlalu dari hadapannya.

Saat ulangan Oik sengaja duduk dibangku depan dekat meja guru tanpa mencontek, dia berpikir keras mengerjakan soal-soal tersebut dan mengingat-ingat apa yang sudah dibacanya, namun tak ada satupun yang Oik ingat. Yang sedang ia pikirkan adalah apa yang akan dilakukannya terhadap Cakka jumat besok. Ulangan hanya berlangsung 45 menit dan setelah selesai dikoreksi guru sejarah tersebut langsung membaginya.


Saat bel istirahat Oik segera keluar dari kelasnya sambil membawa hasil ulangannya menuju kelas XII IPA 1. Menghampiri Cakka yang kebetulan duduk seorang diri sambil menulis sesuatu di bukunya. Oik berdiri disampingnya, Cakka yang menyadarinya menghentikan acara menulisnya kemudian menutup buku dan memandang Oik.

“Sudah selesai ulangannya?”tanya Cakka. “Ini sudah istirahat kan, jelaslah udah selesai pakai nanya segala”jawab Oik.
“Dapat nilai berapa?”tanya Cakka, Oik langsung menyodorkan kertas ulangannya. “Wow ini nilai terburuk yang pernah ku lihat”Cakka menggeleng, Oik mendesah kesal.
“Itu adalah hasil murni dari pemikiranku tanpa mencontek, dan aku bisa mengerjakan ulangan itu tanpa sontekan walaupun hasilnya jelek”jelas Oik. “Dan aku sudah menepati janjiku kan”.
“Baguslah kalau kamu tidak mencontek, aku menghargai usahamu. Kamu menepati janji”Cakka tertawa kecil. “Apa kamu tidak ingin memperbaikinya?”tanya Cakka. “Tidak. Lagian gurunya tidak memintaku untuk ulangan lagi”kata Oik.
“Kalau gitu apa permintaanmu padaku?”tanya Cakka mengingatkan, Oik teringat sesuatu dan tersenyum licik.
“Kebetulan besok ada pertandingan futsal dan teamku kurang satu orang, apa kau mau ikutan bergabung dan main”kata Oik, Cakka terdiam sesaat senyum menghilang. “Kau bisa main futsalkan?”Oik memastikan.
“Sedikit”jawab Cakka singkat. “Jadi datanglah besok, kan kau bilang akan memenuhi permintaanku. Aku yakin kau tidak akan ingkar janji”Oik berlalu dari kelasnya. Ditatapnya punggung gadis itu dengan ragu.

^^^
Sesuai janjinya Cakka datang ke lapangan dekat taman dengan naik taksi. Jika ijin dulu pada ortunya dapat dipastikan dia tak akan diijinkan, tetapi untungnya Papa dan Mamanya tidak rumah. Cakka berpamitan mau pergi ketoko buku dan memilih naik taksi karena dia agak lama disana tak ingin merepotkan supirnya.

“Temanku pasti datang, dan kau jangan meragukannya dia bisa bermain kok”kata Oik sedikit cemas Cakka tidak akan datang, memandang kearah luar lapangan yang dikelilingi pagar.
“Sesuai permintaanmu, aku datang”ucap seseorang dari arah samping mengagetkan Oik. Melihat siapa yang datang Oik tersenyum senang. “Kupikir, kau tidak akan datang kesini”.
“Sebenarnya aku keberatan menyanggupi permintaanmu, tapi tak mungkin aku ingkar janji”jelasnya saat menghampiri Oik. “Apapun alasanmu yang penting kau datang kesini. Kau datang tepat pada waktunya”Oik melempar seragam futsal ke Cakka. “Pakailah itu”.
“Hari ini aku tidak main, bang. Temanku yang akan menggantikannya”Oik memberitahu Sion sebelum pertandingan dimulai. “Oh ya aku lupa belum memperkenalkanmu dengan temanku”.
“Cakka kenalkan ini abang aku, namanya Sion”Oik memperkenalkan Cakka pada Sion. Dan sebaliknya. “Bang ini temanku yang tadi kuceritakan namanya Cakka”Sion langsung menjabat tangan Cakka.
“Selamat bergabung disini Cakka”Sion memberikan ucapan dengan senang hati. Cakka hanya menanggapi dengan senyuman yang sudah diartikan.

“Aku tidak yakin kalau bisa menang”bisiknya pada Oik. “Jadi kau meragukan kemampuanmu sendiri? Kau pasti bisa”ucap Oik yakin. Sebelum pertandingan dimulai Cakka tak mengalihkan pandangannya dari Oik.

Cakka sudah bersiap ditengah lapangan. Peluit berbunyi tanda kalau permainan sudah dimulai, ia berlari kearah lawan dengan gesit Cakka sudah berhasil mengambil bola tersebut dari kaki lawannya, Oik bersorak dipinggir lapangan menyemangatinya. Saat sudah didaerah pertahan lawan dan hendak dihadang dia mengoper bola tersebut kearah Sion, dia berhasil mengambilnya.


Cakka terbebas tidak ada yang menghalangi, dia segera berlari kearah gawang, melihat Cakka terbebas dari siapapun Sion mengoper lagi bola tersebut kearah Cakka, tanpa buang-buang waktu dia langsung menendang kearah gawang dan Cakka berhasil mencetak gol pertamanya. Semua bersorak dan tepuk tangan, baru kali ini dalam hidupnya Cakka merasakan bermain futsal secara langsung mungkin esok dia tak kan bisa memainkan lagi betapa aktifitasnya sangat terbatas.


“Permainanmu tadi bagus”kata Oik senang saat menghampiri Cakka pas pertandingan berhenti sesaat. “Aku baru pertama kali bisa main secara langsung dan tak kusangka ternyata aku bisa”ucapnya tak yakin dengan apa yang dilakukannya barusan, padahal dia jarang bermain futsal.
“Lanjutkan lagi permainanmu dan cetak gol sebanyak yang kau bisa”kata Oik semangat kemudian peluit berbunyi pertanda permainan akan dimulai.
Cakka memandang Oik sesaat sebelum menuju lapangan. Oik balik memandang Cakka dari ujung lapangan, berharap dia bisa menang sehingga Oik bisa menang taruhan lagi.


Saat hendak mengejar bola Cakka tiba-tiba berhenti dan hanya berdiam diri, ia mulai merasakan nyeri didadanya mencengkram tangannya sendiri berharap rasa sakit itu hilang. Oik yang melihat Cakka berdiam saja jadi sedikit khawatir. Namun nyeri yang dirasakan Cakka semakin hebat, ia merasakan nafasnya mulai sesak.

”Arrrgggh...” rintihnya kini tangannya beralih dan mencengkram kuat dadanya. Sion yang melihat Cakka kesakitan segera menghampirinya.
“Kau kenapa Cakka?”tanyanya cemas, namun Cakka tidak menjawab permainan dihentikan sementara. Oik segera menghampirinya.
“Apa yang terjadi dengan Cakka, bang?”tanya Oik kepada Sion, ada sedikit kecemasan menyelimuti wajahnya. “Aku tidak tau, sepertinya kau harus membawanya kerumah sakit”saran Sion. Ditengah kesakitannya itu Cakka bicara kepada mereka.
“Bolehkan aku berhenti main?”pinta Cakka. “Sepertinya kau memang harus berhenti sekarang, yang lain bisa menggantikanmu”jawab Sion. Oik meletakkan tangan kiri Cakka dibahunya dan menuntunnya keluar lapangan.
Setelah sampai dipinggir lapangan Cakka segera mencari sesuatu didalam tasnya.
“Kau tidak apa-apa? Apa yang kau cari?”tanya Oik, Cakka tidak memperdulikan pertanyaan Oik. Cakka mendesah pelan ternyata obatnya tidak ada didalam tasnya dia lupa membawanya, obat itu ketinggalan didalam tas sekolahnya.
“Apa sih yang sedang kau cari, mungkin aku bisa membantumu?”bentak Oik kesal karena Cakka mengacuhkannya.
“Sepertinya penyakitku kambuh kembali dan aku lupa tidak membawa obat”jelas Cakka lemah, nyeri yang dirasakan Cakka sekarang semakin sakit dan menyesakkan. Oik teringat beberapa waktu lalu saat dia melihat Cakka ditaman.
“Aku tidak terlalu paham penyakit apa yang sedang kau derita, tapi sepertinya parah dan aku harus membawamu kerumah sakit”.
“Tidak, aku ingin pulang sepertinya rasa sakitnya sudah mulai reda”kata Cakka bohong. “Jangan konyol jika kau memintaku membawamu pulang kerumah, kita harus kerumah sakit sekarang. Kebetulan Mamaku seorang dokter”Oik segera menuntun Cakka ke mobilnya, kini Cakka pasrah saat Oik membawanya kerumah sakit bukan kerumahnya.


Oik memacu mobilnya dengan kencang, menyalip kendaraan yang ada didepannya. Meskipun lampu merah Oik langsung menerobosnya, ia tak peduli dengan peraturan lalu lintas itu yang ia harapkan adalah sampai dirumah sakit. Oik sudah tak tahan mendengar Cakka yang tak henti-hentinya merintih kesakitan. Cakka memperhatikan wajah Oik yang khawatir, sebuah senyum terukir dibibirnya yang sedikit pucat.

^^^

“Bagaimana Ma keadaannya Cakka? Apa dia baik-baik saja?”tanya Oik saat Mamanya keluar dari ruang rawat Cakka. “Dokter Rangga sedang memeriksanya, seperti tidak apa-apa”jelas Mamanya.

“Syukurlah kalau gitu. Asal Mama tau untuk sampai disini aku harus lima kali menerobos lampu merah dan hampir menabrak penjual bakso”mendengarkan penjelasan Oik, Mamanya tersenyum. “Ada yang lucu Ma?”tanya Oik bingung.
“Kata Alvin kamu memang suka sekali menerobos lampu merah walau tidak dalam keadaan darurat”Oik kemudian tertawa kecil. “Hehehe tapi untung saja tidak ada polisi sehingga aku aman-aman saja”.

“Tapi tindakanmu itu bisa membahayakan dirimu dan pengemudi lain”tutur Mamanya. “Hmm Ma. Apa aku sudah boleh melihat Cakka sekarang?” kata Oik berusaha mengalihkan pembicaraan, ia bosan mendengar nasehat Mamanya itu.
“Silahkan. Mama juga tidak bisa berlama-lama ngobrol denganmu masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan”dokter Fenny mempersilahkan Oik sebelum berlalu darinya.


Oik melangkah menuju ruangan tempat Cakka dirawat, langkahnya terhenti didepan pintu saat dia mendengar dokter Rangga sedang bicara dengan Cakka.
“Tindakanmu tadi sangat ceroboh, untung hal itu tidak sampai merobek arteri jantungmu jika hal itu sampai terjadi maka kamu harus menjalani operasi”tegas dokter Rangga cemas.
“Aku tidak mau di operasi”tolak Cakka suara terdengar lemah. “Saya harus memberitahu kedua orang tuamu”.
“Mereka tidak dirumah, tolong jangan beritahu mereka, dok. Aku tidak mau melihat mereka sedih terutama Mama”pinta Cakka mencegah dokternya tidak memberitahu bahwa dia sedang dirumah sakit.
“Baiklah kalau itu maumu saya tidak akan memberitahu meraka. Dan saya tidak akan mengijinkanmu bermain futsal itu bisa membahayakan jantungmu”Cakka cukup lega mendengarkan saat dokter Rangga bilang tidak akan memberitahu ortunya.
“Terima kasih dokter tidak akan memberitahu orang tuaku”kata Cakka. “Ya. Tapi kamu jangan sampai telat meminum obatmu. Baiklah saya permisi dulu”Cakka mengangguk dan dokter Rangga berlalu dari kamarnya.

Oik segera menjauhi pintu saat dokter Rangga keluar dari kamar Cakka, melemparkan senyum kepada Oik sebelum berlalu. Oik bernafas lega dan memasuki kamar Cakka, mendekat kearahnya.
“Kau sudah membuatku khawatir setengah mati. Tapi syukurlah kau sudah tidak apa-apa”ucap Oik lega.
“Keadaanku sudah membaik kok tak perlu khawatir gitu. Hanya kelelahan saja dan perlu istirahat”jelas Cakka sambil tersenyum kecil.
“Maaf seharusnya aku tidak memintamu bermain futsal”ucap Oik menyesal. “Tidak masalah, aku malah senang menerimanya ini pertama kalinya aku bisa sebebas ini”.
“Tapi aku hampir saja mencelakaimu, tadi aku tak sengaja mendengarkan dokter Rangga bicara padamu”Oik kemudian duduk disebelah ranjang Cakka.

“Tidak usah merasa bersalah seperti itu. Lihat tampangmu yang barusan sangat lucu sekali”Cakka tertawa kecil mengingat wajah Oik yang panik beberapa waktu yang lalu.
“Itu sama sekali tidak lucu tau, harusnya aku tidak usah menolongmu tadi”kata Oik sebal.
“Hmm sudah sore dan hampir malam aku harus pulang dulu. Nanti kalau sempat aku bakal balik kesini”Oik memandang kearah jamnya saat itu waktu menunjukkan pukul 05.00 WIB. “Aku tunggu”.Oik hanya melemparkan senyum ke Cakka sebelum berbalik.

Hari ini Cakka senang sekali, Oik tidak sekaku dulu apalagi melihat ekspresi Oik yang ketakutan tadi menunjukkan bahwa Oik khawatir banget dengannya.

Jumat, 30 September 2011

Makna Sebuah Kehidupan part 1

Oik berjalan malas menuju sekolah barunya yang ke duabelas dalam dua tahun terakhir. Waktu sudah menunjukan pukul 06.45 WIB mengendari motornya pelan-pelan agar sampai disana telat. Dengan begitu dia tak perlu kesekolah baru itu. Saat sampai disekolah sepi tak ada satupun siswa disana, gerbang sudah tertutup hanya suara deru dari motornya yang memecah kesunyian pagi itu.

“Harus aku taruh mana nih motor sialan milik Alvin”katanya bingung sambil memperhatikan kedalam sekolah tak ada siapapun dihalaman sekolah. Gadis bernama Oik itu mondar-mandir disekeliling sekolah, kemudian menemukan gang disebelah pagar sekolah. Lalu menuntun sepeda itu dan meletakan digang sempit.

“Kalaupun hilang peduli amat, salah sendiri aku ditinggal”Oik meninggalkan motor Alvin digang kemudian berjalan kearah pagar.

Dari arah yang berlainan sebuah mobil silver mendadak berhenti tepat didepan gerbang sekolah. Oik mengamati mobil tersebut kemudian turunlah seorang cowok pakaiannya hampir sama dengannya dapat Oik pastikan dia juga siswa sini. Cowok itu berjalan menuju pintu gerbang dengan langkah santai Oik menghampirinya.

“Kau pikir dengan berdiri didepan pintu gerbang, itu pintu akan terbuka. Kau terlambat juga kan?”seru Oik dengan nada meledek dan bertanya kepadanya.

“Tidak. Tapi aku sudah ijin sama guru piket hari ini, kalau aku berangkatnya agak telat”jelas cowok itu tenang.

“Kamu sendiri telat kan?”cowok itu balik bertanya pada Oik.
“Aku memang sengaja telat, kau pikir aku mau jadi siswa disiplin tepat waktu datang pagi-pagi buta”jelas Oik tanpa ada rasa takut sedikitpun pada hukuman yang akan menantinya.

“Tidak pernah ku pikirkan kamu jadi siswa disiplin. Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, kamu siswa baru ya?”tanya si cowok tersebut lagi.

Oik memperhatikan cowok itu dari atas sampai bawah pakaiannya rapi, berbeda dengan dirinya.
“Ya aku siswa baru, ini hari pertamaku masuk sekolah dan ini adalah sekolah yang ke enambelas. Dan aku harap besok tak menginjakkan kakiku disini”cowok itu terperanjat kaget mendengar penjelasan Oik.
“Hahaha tak perlu kaget mendengarnya. Aku malah senang kalau menerima surat DO-nya sekarang juga. Ingin ku koleksi surat-surat itu”cowok dihadapanya itu menatapnya tak percaya.


Beberapa menit kemudian obrolan mereka terhenti terdengar suara pintu gerbang terbuka dan dari dalam muncul satpam badannya gendut dan kumisnya tebal, wajahnya yang agak galak menatap Oik tajam.

“Kenapa kamu terlambat?”tanya si satpam, Oik itu hendak menjawab sebelum akhirnya keduluan cowok disebelahnya.
“Dia teman saya dan siswa baru disini, Pak!!!”selak cowok tersebut.
“Baiklah kalian boleh masuk, tapi lain kali kamu jangan telat lagi jika tak ingin pulang lagi”satpam itu memperingatkan sebelum membuka pintu gerbang dan mempersilahkan meraka memasuki sekolah.

“Satpam tolol, dia pikir ancaman seperti itu bakal bikin aku jera apa? Baguslah kalau dia menyuruhku pulang jadi aku tak perlu repot-repot mencari jalan untuk masuk sekolah”umpat Oik kesal.


Cowok itu setengah takjub kepada Oik yang tak khawatir sedikitpun tentang hukuman sekolah.

“Jadi dimana ruang kelas XII IPS 1”kata Oik bingung.
“Dari sini lurus saja terus, jika sampai di ujung koridor ini kamu belok aja ke kiri. Ruang pertama dari ujung koridor ini kelas XI IPS”ucapnya memberi tahu.
“Baiklah tapi jangan berharap aku bakal berterima kasih kepadamu, karena kau sudah menolongku kan!!!”Oik langsung bergegas meninggalkan cowok itu.
“Aku tidak berharap kamu berterima kasih padaku. Aku cuman mau membantu”ucapnya setengah teriak tapi Oik tak menoleh, dia tak memperdulikannya.


Setelah sampai diujung koridor Oik berhenti dan menoleh kearah cowok tadi, namun cowok itu sudah tidak ada kemudian berpaling keruang kelas XI IPS1. Pintu kelas tersebut tertutup dapat dipastikan pelajaran sudah berlangsung 30 menit yang lalu.


“Aku tak perlu masuk keruang kelas. Dan berkenalan seperti siswa bego gitu setelah itu harus mengikuti pelajaran yang membosankan”gumannya kemudian berlalu dari arah depan ruang kelas yang belum dimasukinya.

Dilapangan belakang gedung tersebut sekumpulan cowok sedang asyik bermain basket, tertarik dengan permainan itu Oik langsung bergegas menuju lapangan.

“Heh. Aku boleh gabung bersama kalian. Maksudku main basket”tanya Oik lantang sambil berdiri disisi lapangan. Para cowok itu mendadak menghentikan permainannya dan menoleh kesumber suara.
“Apa mau gabung dengan kita? Memang cewek macam kau bisa apa!!!”ledek salah satu diantara mereka.

“Paling cuman bisa memegang bolanya saja”terdengar riuh suara tawa para cowok itu terkesan meledek. Oik mengambil bola volley yang tergeletak di pinggir lapangan dan menserve bola tersebut melesat mengenai kepala salah satu diantara mereka.
“Bakal ku buktikan kalau aku bisa bermain lebih hebat dari kalian semua”tantang Oik.
“Kami tidak ingin main dengan cewek sepertimu”semua siswa cowok itu langsung bubar dan meninggalkan lapangan.
“Kalau mau main. Main saja sendiri”salah satu dari mereka melepar bola kearah Oik.


Oik mendrible bola di lapangan memasukan kedalam ring sampai 30 kali dalam 5 menit, membosankan memang kalau harus bermain sendirian tanpa lawan. Mengedarkan pandangan disekeliling lapangan mencari orang yang mau diajaknya main basket, pandangannya kemudian berhenti pada orang yang sedang duduk dibangku. Oik melempar bola basket kearah orang tersebut lalu berlari menghampirinya.

“Ternyata kau cowok yang tadi ya. Ngapain disini?”tanya Oik.
“Harusnya aku yang tanya gitu. Bukannya kelasmu sedang ada pelajaran”cowok itu balik menatap Oik.
“Lagian percuma masuk kelas toh pelajarannya sudah berlangsung sejak tadi mungkin sekarang sudah mau selesai”jelas Oik. “Kau bolos ya sepertiku?”.
“Aku tidak membolos ini memang waktunya kelasku ada pelajaran olahraga”.
“Jika waktumu olahraga kenapa kau malah duduk saja disini?”tanya Oik. “Dan kau tidak memakai kaos olahraga, hmm mau main basket denganku?”tawar Oik mengambil bola yang tergeletak dikaki cowok tersebut.
“Tidak”tolaknya.
“Kenapa? Tidak bisa main basket ya”tebak Oik, cowok itu menggeleng. “Siapa namamu?”.
“Cakka”jawab cowok itu sambil mengulurkan tangannya ke Oik. “Aku hanya bertanya namamu saja, tidak memintamu berjabat tangan”Cakka menurunkan tangannya kembali.
“Kalau begitu nama kamu sendiri siapa?”kali ini Cakka bertanya. “Kau cukup panggil aku, Oik”jelasnya.
“Kita sudah saling kenal kan sekarang, kalau begitu bolehkan aku jadi temanmu lagian disekolah ini kamu belum kenal siapapun selain aku”ucap Cakka senyum mengembang dibibirnya.
“Jadi temanku? Jangan terlalu berharap banyak ya kau bisa berteman denganku”balas Oik dengan ketus. “Aku tidak mau berteman dengan orang sepertimu”.
“Mungkin saat ini kamu belum mau karena kita baru kenal. Tapi suatu saat kita bisa jadi teman. Aku selalu optimis”Cakka menatap mata Oik dalam. “Itu tidak akan pernah terjadi”perkataan Oik makin judes. Kemudian berlalu dari hadapan Cakka saat bel pelajaran kedua berbunyi.

^^^

“Aku tidak akan mengijinkanmu lagi memakai motorku tanpa bilang dulu, tidak besok dan seterusnya”omel Alvin saudara tiri Oik, usia mereka hanya terpaut beberapa bulan.

Oik berhenti mengunyah makanannya dan balik menatap Alvin “Itu tidak akan terjadi lagi, jika tadi pagi kau tidak meninggalkanku, Vin”.
“Jadi kamu menyalahkan aku? Memangnya hobi ku sepertimu terlambat kesekolah”gerutu Alvin.
“Baiklah, besok aku yang bawa mobilnya. Kau dan Ray naik motor saja”Oik memberikan saran.
“Tidak bisa aku tau kamu pasti bakal ngebut dijalanan. Aku nggak mau mobil kita hancur gara-gara kamu”Alvin menolaknya. “Papa bilang kamu tidak boleh menyetirnya”.


Kemudian papanya Oik menuju meja makan setelah mendengar keributan diruang makan. “Ada apa ini kok pada ribut?”.
“Kebetulan papa disini. Pokoknya besok aku mau bawa mobil sendiri, kalau papa tidak mengijinkan aku nggak akan kesekolah itu lagi”kata Oik setengah mengancam.

“Bukannya papa tidak mengijinkan kamu untuk nyetir sendiri. Cuman papa nggak mau kamu nabrak orang lagi”jelas Papanya. “Oh jadi Papa meragukanku?”mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan sesuatu kepada Papanya.
“Aku sudah punya SIM sendiri jadi papa nggak perlu khawatir. Toh dulu salah orang itu sendiri nyebrang tidak lihat-lihat”melemparkan kartu berwarna putih itu kearah papanya.
“Sejak kapan kamu punya SIM?”tanya Alvin bingung. “Kau nggak perlu tau. Alvin”.


^^^


Keesokan harinya Oik berangkat lebih awal karena dia membawa mobil ini adalah rekor pertamanya. Tidak mungkin dia berangkat terlambat saat membawa mobil karena tepat pukul 07.00 WIB gerbang sekolah sudah ditutup. Mobil Oik sampai di sekolahnya saat waktu menunjukan pukul 06.15 WIB, setelah memarkir mobilnya Oik berjalan sepanjang koridor sekolah barunya dan berhenti disalah satu ruang saat dia mendengar suara merdu yang mengalun indah dari petikan gitar.

Didalam ruang tersebut Oik melihat seorang siswa cowok sedang bermain gitar dan bernyanyi. Oik berdiri didekat pintu yang terbuka, memperhatikan siswa tersebut.

Tell me why you’re so hard to forget…
Don’t remind me, I can’t seem to face the truth…
I’m just a little too not over you, not over you…


Kemudian cowok tersebut menghentikan permainannya karena merasa ada yang mengawasinya dan mengarahkan pandangannya ke pintu, tatapannya bertemu dengan Oik.
“Hai!!!”sapanya sambil tersenyum memandang Oik. “Hai”Oik membalas sapaanya, dia tak menyangka kalau itu Cakka.
“Katanya kamu nggak ingin jadi siswa disiplin. Tapi sepagi ini sudah datang kesekolah”katanya sambil melirik kearah jamnya.
Dengan santai Oik menjawab. “Biar ada rekor kalau aku pernah berangkat sepagi ini”. Cakka meletakkan gitarnya dan memandang Oik.

“Ternyata kamu memang tidak keberatan kalau kita berteman”.
“Berteman? Jawabanku masih tetap seperti kemarin. TIDAK AKAN”Oik menekankan suaranya pada kata terakhirnya bahwa dia tak akan pernah mau berteman dengan cowok dihadapannya.

“Lantas kenapa berdiri disitu dan memperhatikanku terus? Aku yakin kamu sejak tadi disitu kan”tebak Cakka, Oik yang jadi salting berlalu dari ruangan tersebut sambil berkata. “Aku kebetulan lewat saja. Kau pikir aku penggemarmu apa?”Oik langsung melengos pergi, mendengar kata-kata gadis itu Cakka malah tersenyum, gadis itu sangat berbeda dan itu menarik baginya.

Dikelasnya Oik sudah mulai bosan mendengarkan gurunya yang menjelaskan pelajaran sejarah sejak sejam yang lalu, yang ingin dia lakukan adalah kabur dari kelas tersebut.


Pulang sekolah Oik tidak langsung pulang mobilnya menuju ke dalam gang sempit kemudian berhenti dilapangan yang sekelilingnya dipenuhi pagar besi yang sudah mulai karatan. Tanpa kesulitan saat memanjat Oik sudah berada diatas pagar meskipun pakai rok dan kemudian melompat.

Didalam sana sudah ada segerombolan anak seusianya, Oik mendekati mereka. “Kau Oik kan?”tanya salah satu diantara mereka. “Apa kalian sudah lupa sama aku, HAH!!!”.
“Tentu tidak, sudah lama kau tidak kesini. Kemana kau memangnya selama ini?”tanya cewek berambut pendek seperti laki-laki dengan tindikan dilidahnya.
“Aku tidak kesini dua minggu sudah kau anggap lama”Oik langsung menjabat tangan cewek tersebut dengan senang.
“Oh ya entar sore ada adu balap”salah satu cowok memberikan informasi. “Apakah kau mau ikut Oik?”tanya cewek tadi yang bernama Siti.
“Nanti ku usahakan datang kesini”ucap Oik tak yakin. “Ok kita tunggu, ada lawan baru lho, mungkin kau mau tanding dengannya!!!”ucap Siti setengah berbisik.
“Siapa? Aku ingin lihat dan mengalahkannya”ucap Oik penuh semangat sambil mengepalkan tangan tak sabar.


Tanpa halangan Oik akhirnya datang ke sirkuit balapan liar tersebut dengan membawa kabur motor ninja hijau milik Alvin. Suara deru motor Oik menjadi pusat perhatian mereka kemudian melepaskan helmnya. Siti menghampiri Oik.

“Akhirnya datang juga kau”ucapnya senang. “Tentu saja aku datang, karena aku ingin lihat lawan baru yang kau ceritakan itu”Oik mengarahkan pandangannya di kerumanan anak-anak muda.
“Itu lawan barumu, namanya Agni dia baru disini seminggu”Sion berbisik, Oik memperhatikan cewek tomboy tak jauh darinya tersebut.
“Aku pasti bisa mengalahkannya, model seperti ini bukan levelku”kata Oik enteng.
“Jangan anggap remeh, kemarin dia habis mengalahkanku dan Riko”Sion memberi tau. “Payah juga ternyata kau bang kalau kalah sama cewek kaya gitu”ledek Oik.
“Makanya aku memintamu jangan sampai kalah malam ini dengannya, aku sudah pasang taruhan tidak sedikit padamu”Sion mengeluarkan 6 lembar uang seratus ribu.
Oik menuju garis start dengan mengendarai motornya, mempersiapkan diri. “Jadi seperti ini tandinganku”ucap Agni meremehkan seperti halnya Oik yang meremehkan dia.
“Kau pikir setelah kau mengalahkan Riko dan Sion, merasa hebat apa?”Oik balas meledek. “Ok. Kita buktikan di sirkuit sekarang juga”Agni menatapnya tajam.


Beberapa saat kemudian adu balapan itu akan dimulai, Oik sudah bersiap begitu pula Agni suara bising motor sudah berkumandangan disekeliling jalan ditambah dengan suara sorakan penonton. Mereka mulai mengeluarkan uang ratusan ribu untuk taruhan, banyak yang mendukung Agni karena cewek itu sudah mengalahkan Riko juara bertahannya.

Siti berdiri ditengah-tengah Oik dan Agni sambil membawa sapu tangan, begitu sapu tangan itu diangkat start dimulai.
“Tidak ada peraturan pertandingan ini, tapi kalian tidak boleh saling mencelakai. Dan finishnya adalah kembali kesini lagi. Didepan ada belokan kalian pilih yang kiri dan kembali kesini lagi. OK”siti memberitahukan peraturan barunya.
“Ready!!!”ucapnya, kemudian mengangkat sapu tangannya. Kedua motor tersebut sudah melesat meninggalkan start. Mereka mulai memacu motor masing-masing dengan kecepatan tinggi jalanan yang sepi membuat mereka leluasa tak perlu khawatir kalau ada orang lewat, motor mereka saling mendahului.

Saat sampai ditikungan Agni mengurangi kecepatan hal ini dimanfaatkan Oik untuk memepet motor Agni, Agni menghindar dengan mengerem mendadak, setelah diakhir tikungan Oik memacu motornya dengan cepat meninggalkan Agni yang tertinggal agak jauh dibelakangnya, namun Agni berhasil menyusulnya. Mereka hampir mendekati finish sorak penonton semakin ramai, Oik menambah sedikit kecepatannya hingga motornya menyentuh garis finish lebih dulu dan di ikuti Agni.

Oik segera melepas helm dan jaketnya memandang sinis kearah Agni, Sion menghampirinya.”Hebat sekali kau malam ini, berhasil mengalahkan Agni. Tidak sia-sia aku memasang taruhan tinggi untukmu”kata Sion bangga sambil menepuk pundak Oik, memberinya selamat. Sion mengeluarkan rokok dan pematik api didalam sakunya menyelipkan dibibirnya sebelum menyulutnya dengan api, Oik menyambar bungkus rokok tersebut.

“Lain kali bagi-bagi dong bang”Oik mengambil sebatang rokok dan mulai menghisapnya dengan santai sambil menikmati kemenangannya
“Tapi dia bukan lawan yang biasa, aku tak boleh meremehkan tapi malam ini aku bolehlah bangga karena berhasil mengalahkan dia”ucapnya senang.
“Jadi pemenangnya adalah Oik”Siti mengangkat tangan Oik, dia tersenyum kepada para penonton, banyak yang kalah taruhan. Dua juta sudah ada ditangan Oik.”Lain kali kalau ada pertandingan jangan lupa kasih tau aku”Oik mengibaskan uang yang didapatnya.
“Aku harus pulang sekarang, soalnya sudah ku bawa kabur motor Alvin. Sampai ketemu nanti”Oik segera meninggalkan lapangan dan pulang kerumahnya.

Oik bersyukur saat pulang Alvin tidak dirumah hanya ada pembantunya dan Ray, kalau menghadapi Ray cukup mudah hanya dengan membelikan es krim kesukaanya bocah itu akan tutup mulut.
“Kau lapar tidak, Ray?”tanya Oik saat Ray duduk didepan computer memainkan game kesukaanya. “Tentu saja kak”Ray menghentikan permainannya dan memandang kearah Oik.
“Aku akan membelikanmu makanan apa saja, asal jangan bilang Alvin kalau aku membawa motornya tanpa ijin”kata Oik. “Apa saja yang ku mau?”Oik menangguk menyanggupi.

“Ok. Aku nggak akan bilang ke kak Alvin. Kalau kak Oik bawa kabur motornya” Ray segera menuju kamarnya dan mengambil jaket, mereka mengelilingi Mall mencari makanan tetapi Oik tidak bilang jika uang yang ia gunakan untuk mentraktir Ray adalah uang hasil menang taruhan.


^^^

Kamis, 12 Mei 2011

Seperti Hidup Kembali Cerpen

Kau temukan aku ketika ku rapuh…Terdampar membisu seperti hidupmu…Matahari seakan tak lagi menyinari hati sepi ini…



Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah gontai. Hingga langkah ku terhenti di ujung lorong tepatnya di depan ruang ICU. Bau alkohol menyeruak saat aku memasuki ruang itu tak lupa aku juga mengenakan baju khusus yang tersedia tujuannya agar ruangan tetap steril.

Ku dekati ranjang Cakka dan duduk di sampingnya, keadaannya tak jauh beda dengan yang kemarin. Udah tiga minggu ini ia terbaring koma, tak ada tanda-tanda kalau keadaannya akan membaik.

”Kapan kamu mau bangun? Jangan tidur terus karena kamu bukanlah putri tidur, lihat ada aku disini, aku capek jika terus-terusan melihatmu seperti ini “ujarku sambil membelai rambutnya meminta dia agar cepat membuka matanya. Rambutnya rontok dan menempel pada tanganku ini efek samping dari kemo itu sendiri. Jika orang lain lebih memilih mati daripada kemoterapi yang sakitnya luar biasa soalnya saat aku menemani dia kemo, dia sering teriak-teriak untung lah suara dia merdu.


“Aku mohon“ pintaku sekali lagi, tak ada jawaban. Tiba-tiba sesuatu yang hangat membasahi pipiku, ternyata aku menangis.
“Lihatlah aku menangis, kamu nggak mau kan lihat aku menangis untuk dirimu”aku mengusap air matiku dengan jemarinya, agar ia bisa merasakan kalau aku benar-benar menangis.


Aku tak tega jika melihat dia harus menderita seperti ini, ia masih terlalu muda. Aku takut jika dia bener-bener pergi meninggalkan ku selamanya. Aku tak sanggup jika itu bener-bener terjadi.
Dokter bilang kalau penyakit yang di derita Cakka sudah memasuki stadium 3, Leukemia.

Leukemia atau kanker darah. Penyakit ganas ini menyerang sel-sel darah putih, dimana sum-sum tulang memproduksi sel darah putih melebihi batas yang di butuhkan oleh tubuh, tujuan dari sel darah putih adalah mengubur sel darah merah yang sudah mati dengan cara memakannya. Jika sel darah putih jumlahnya melebihi batas maka dapat menggangu fungsi utama sel itu sendiri yaitu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sampai saat ini belum di ketahui secara pasti apa penyebabnya, tapi yang sering adalah faktor genetik (keturunan) dan juga akibat dari radiasi seperti radiasi nuklir.
Hanya itu saja yang aku ketahui tentang Leukemia, aku tidak terlalu paham betul dengan penyakit seperti itu lebih dalam lagi (sama kaya’ penulisnya).

Bau alkohol semakin menyengat bercampur dengan obat-obatan membuat kepala ku pusing dan rasa ngantuk mulai menyergapku, ku rasa bau itu seperti obat bius. Hingga tanpa sadar aku mulai tertidur di dekat ranjang Cakka. Kejadian tiga bulan yang lalu berputar kembali dalam mimpiku

Kau temukan aku ketika ku jatuh…Terhempas membisu terbalut pilu…Matahari seakan tak lagi menyinari hati sepi ini...


Alvin Jonathan Sindunata ,aku baru saja selesai menulis nama itu di atas kue dengan coklat…yupp hari ini dia ultah yang ke 17 sekaligus aku mau ngajak dia merayakan anniversary jadian kita yang pertama. Dia adalah orang yang special dihatiku. Saat pulang sekolah aku bermaksud nyamperin Alvin di kelasnya dengan membawa kotak berisi black forrest.

“Alvin pasti suka soalnya ini kan special gue sendiri yang bikin”gumanku sambil terus berjalan menyusuri koridor sekolah.

Sampai juga aku didepan kelasnya dia,kebetulan pintunya tertutup. Aku pun membuka pintu kelas Alvin dan……
Disana Alvin lagi berdua’an sama seorang cewek,aku mencoba positive thinking siapa tau itu temennya,tapi oh no……mereka pegang-pegangan tangan terus Alvin mencium pipi gadis itu dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.

BRAKKKKKKKK…………….kue yang ku pegang jatuh suaranya mengagetkan Alvin dan gadis yang belum ku ketahui.

“Alvinnnnnnnnnnnnnnnnnnnn……..”aku setengah berteriak.
“Oi…Oikk....”ucap Alvin gelagapan. Gadis itu menoleh padaku dan…oh God dia Shilla temen sekelasku sendiri.
“Shilla ngapain lo disini sama Alvin berdua’an pula,dasar cewek gatel”ucapku dengan nada marah sambil memaki Shilla.
“Dia itu cowok gue”lanjutku.
“Apa cowok lo? Hallo…ada juga lo tuh yang kegatelan sama Alvin,jelas-jelas dia itu cowok gue”Shilla balik memaki diriku.
“Asal lo tau ya Alvin tuh nggak pernah ada rasa sama lo”ucapan Shilla semakin membuat hatiku terasa perih tapi aku berusaha tenang.
“Jadi bener apa yang di omongin sama Shilla,ayo bilang Vin kalau itu semua nggak bener”aku mencoba meminta penjelasan Alvin.


Alvin malah diam seribu bahasa,aku mulai kesal dengan sikap Alvin.
“JAWABBBBBBB”ucapku dengan nada membentak.
“Iya…”jawab Alvin singkat. Hatiku serasa ditusuk oleh seribu pedang…ok ini lebay tapi itulah perasaanku saat ini :((.
“Kenapa lo lakuin ini,emangnya apa salah gue…HAH?”ucapku dengan nada kesal.
“Gue bisa jelasin ini ke lo”kata Alvin enteng.
“Nggak ada lagi yang perlu lo jelasin ke gue Vin, mulai sekarang kita putus, aku anggap nggak pernah kenal sama kamu”aku berlari keluar kelas.
“Oik…Oik…Oikkkkkkkk”teriakan Alvin bahkan tak ku hiraukan.

Luka tertinggal di hati terlalu dalam tuk pergi…Melumpuhkan seluruh hidupku…hidupku…

Setelah kejadian tadi siang aku menangis seharian di dalam kamar, hingga akhirnya papa mengajakku pergi menemui rekan bisnisnya itu, aku pun segera mengganti seragam sekolahku dengan pakaian biasa.

Sampailah aku dan papa di rumahnya Cakka. ya…Cakka adalah anak rekan bisnisnya papa, kami sering ketemu, kalau papaku sama papa dia lagi ketemuan untuk menjalankan bisnis. Cakka hanya tinggal berdua dengan papanya. Orang tuanya udah cerai sejak ia masih kecil, nggak tau kenapa dia lebih memilih tinggal sama papanya. Selain itu ia juga manja banget mungkin karena papanya selalu menuruti segala kemauanya. Kalau nggak di turuti dia selalu bilang ‘Kalau besok aku mati emang papa nggak nyesel’. Nyebelin banget tuh anak!.

“Kamu habis nangis ya? Kok mata kamu merah gitu”tanyanya sambil memperhatikan kedua mataku.
“Eh…nggak kok, tadi habis kelilipan debu”kata ku berbohong.
“Jangan bohong, mana mungkin kelilipan debu sampai bengkak gitu”ucapnya. Karena aku terus-terusan di paksa Cakka, dengan terpaksa aku mengangguk.
“Kamu nangis gara-gara nyesel kan nolak aku”ucapnya PD, rasanya aku ingin menendang dia sampai antartika. Akhirnya aku menceritakan kejadian tadi siang di sekolah ke Cakka, sakit banget hati ku kalau harus mengingatnya kembali.

“Udah jangan nangis terus jelek tau, cowok kayak gitu di tangisi. Lupakan dia, aku janji bakal bahagiain kamu”pintanya sambil mengusap air mataku. Aku menggeleng rasanya sulit untuk lupain Alvin dalam waktu singkat walau dia sudah menyakiti hatiku, butuh keajaiban supaya aku benar-benar melupakan dia selamanya.
“Kalau dia masih bikin kamu nangis lagi, aku bakal datangin dia”ucapnya berusaha menghibur ku, aku menggelang cepat.
“Nggak…nggak usah”tegasku.
“Iya…iya aku nggak bakal nangis karena dia”ucapku yakin. Tapi ragu dengan kata-kataku tadi ‘nggak bakal nangis karena dia’. Aku nggak mau melibatkan Cakka lebih dalam lagi.


Cakka mengambil gitarnya yang ada di kursi kemudian memulai intro sebuah lagu.
“Udah ya jangan sedih lagi ,mending dengerin aku nyanyi aja…hhe”kata-kata Cakka tadi bisa membuatku tersenyum kembali.


Izinkan aku menjadikanmu
Sinar di dalam hatiku
Karena hangat senyummu
Selalu menggetarkan jantungku

Izinkan aku mengagumimu
Tanpa harus kujelaskan
Karena cantik dirimu
Bagai surga di mataku

Reff:
Dan izinkanlah aku
Mendekapmu membelaimu menjagamu
Memelukmu menyetuhmu
Menyanding hatimu di hatiku

Izinkan aku mengagumimu

(Back to Reff 2x)

 
Itu lagu dia ciptakan sendiri judulnya ‘Izinkan aku’ just for me :).

Sejak kejadian itu kami sering jalan bareng, apalagi pas malam minggu sering banget ke Mall udah kaya orang pacaran saja, tapi sebenarnya nggak ada ikatan apa-apa antara aku dan dia cuman sahabatan aja. Cakka selalu tanya status hubungan kita tapi nggak pernah aku jawab.


***

Suara dering Hp membangunkan ku dari mimpi, aku mengerjap-erjapkan mataku pandangan yang semulai samar kini semakin jelas. Ternyata aku ketiduran dari tadi di ruang ICU, ku lihat Cakka masih tertidur wajahnya begitu tenang dan damai, mungkin dia lebih senang seperti itu setidaknya dia tak harus merasakan sakit, sakit karena dampak kemoterapi atau juga kalau penyakit dia sedang kambuh.


Ku buka Hp ku ada sms dari Ify isinya adalah besok sekolah libur karena gurunya ada rapat. Tiba-tiba perut ku lapar banget soalnya dari tadi belum makan, aku memutuskan untuk keluar sebentar mencari makan. Rasanya tidak ada yang perlu di khawatirkan jika Cakka, aku tinggal sebentar toh juga ada suster yang mengontrol kondisi dia. Kemarin papanya dia meminta aku tuk menemin Cakka.

“Hoammm”aku menguap sambil merentangkan tangan, ku kumpulkan dulu nyawaku yang masih melayang-layang. Kemudian beranjak dari kursi.

Aku menuju kantin yang ada di rumah sakit. Nggak enak rasanya kalau makan sendirian di antara puluhan orang yang tidak aku kenal, ah peduli amat perutku sudah lapar banget kalau telat makan ntar sakit maag ku kambuh lagi gara-gara telat makan.
Aku memesan nasi goreng dan es jeruk ke sukaan ku, setelah pesanan datang aku langsung menyantapnya tak tersisa layaknya orang yang nggak pernah makan seminggu hhee…

Setelah selesai makan, aku kembali lagi ke ruang perawataan Cakka, duduk di samping ranjangnya. Memandangi wajahnya walaupun terlihat pucat tapi itu tapi mengurangi pesonanya.

Bagaimana cara membuat orang yang sedang koma bisa sadar kembali, pikirku dalam hati ini seperti sebuah dongeng ‘The Sleeping Prince’ jaman dahulu. Harus ada yang mencium sang pangeran agar terbangun dari tidur panjangnya. Apa keajaiban dalam dongeng itu bisa terjadi dalam dunia nyata, oh tidak ini mustahil.

Apa? Jangan konyol Oik ini dunia nyata bukan negeri dongeng, lagian aku kan bukan siapa-siapa dia. Arghh…kenapa aku bisa berfikiran seperti itu sih?. Aku dengan ragu-ragu segera mencium pipinya siapa tau keajaiban itu beneran terjadi sekarang

Setelah itu rasanya aku ingin ke toilet sekarang juga. Apa yang barusan aku lakukan, aku menutup muka ku dengan kedua tangan ku. Padahal tak ada siapapun disitu kecuali Cakka tapi aku malu banget.

Saat aku kembali dari toilet, ku lihat jemari Cakka mulai bergerak, aku tersenyum senang mungkin dia akan segera sadar ku dekati dia. Aku membelai tangannya lembut berusaha menguatkan dia agar cepat membuka matanya. Perlahan-lahan Cakka membuka matanya dan memandangi sekelilingnya kemudian melihat ke arahku sambil tersenyum aku membalasnya. Dia mungkin senang karena yang di lihatnya pertama kali adalah aku, cewek yang di pujanya setengah mati…hhee aku terlalu pd.
“O…Oik…”panggilnya terbata.

Kau nyalakan cahaya hati yang t’lah mati…Kau terangi gelap di hati…Bangunkan jiwaku oh…dari mimpi buruk ku…


“ Iya ini aku…Cakka, syukurlah kamu sudah sadar “ ucapku senang sambil membelainya pipinya. Aku memencet bel yang ada di sebelah tempat tidur Cakka, gunanya untuk memanggil dokter.
“Aku dimana?”tanya Cakka.
“Kamu di rumah sakit”aku menjelaskan. Pintu terbuka kemudian dokter dan beberapa petugas medis datang.

“ Aku keluar sebentar ya agar kamu diperiksa dokter bentar“ izinku kemudian keluar dari ruangan agar dokter bisa memeriksa kondisi Cakka saat ini, dia menangguk. Aku mengabari Papanya bahwa Cakka udah sadar. Aku tak tahu mengapa aku  sebahagia ini  dan aku tak mau mencari alasan kenapa aku bahagia. Dokter dan para perawat keluar dari kamar Cakka. Kulihat wajah dokter Dessy ceria sepertinya ada kabar baik yang akan ia sampaikan. Semoga saja

“ Bagaimana kondisi Cakka, Dok? “ tanyaku.
“ Kondisi Cakka sudah mulai stabil, kalau begitu terus lima hari lagi dia boleh pulang“ ucap dokter Dessy yang memang sudah akrab denganku. Aku mengangguk Cakka kemudian di pindah ke ruang rawat biasa karena keadaanya tak begitu mengkhawatirkan untuk berada di ruang ICU.

Beri aku cinta, beri aku rasa agar aku bisa seperti dirimu…Beri aku sentuhmu, beri aku rindumu, agar aku bisa seperti hidup kembali…

“ Kenapa senyum-senyum sendiri? Seneng banget ya karena aku sudah sadar“ucapnya menggoda ku. Aku rasa pipi bersemu merah karena tersipu malu, aduhhhh…….
“ Apaan sih“ ucapku manyun kemudian sedikit memukul bahunya.
“ Ke taman yuk, bosen aku kalau cuman tidur-tiduran aja di kamar“ ucapnya manja.
“Tapi di luar udaranya dingin, apalagi langit berubah mendung bentar lagi mau ujan deh kayaknya. Lagian kamu kan baru saja sadar”ucapanku tak ia hiraukan, dia tetap saja mau keluar. Aku meminta ijin dokter Dessy, setelah di ijinkan kami menuju taman
 
Aku duduk dibangku taman yang sudah tersedia disana sedangkan Cakka duduk dikursi rodanya. Tiba-tiba rintik-rintik air jatuh dari langit membasahi bumi, rintik-rintik air itu makin deras.
“Lihat deh udah mulai hujan tuh”kata Cakka
“Ayo kembali…”ajakku, Cakka malah berdiri dari kursi rodanya dan berlari menembus lebatnya hujan.
“Ik mending hujan-hujanan bentar”Cakka menarik tangan ku untuk mengikutinya.
“Nanti dokter Dessy marah, lagian kondisi kamu kan masih lemah”teriakku di tengah derasnya hujan.
“Santai aja Ik, tenang dia nggak bakal marah kok”ucap Cakka santai.

Kemudian menit kemudian hujan sudah mulai reda, angin berhembus kencang dan dingin, terasa menembus kulitku dan menusuk ke dalam tulang. Aku menggigil kedinginan begitu pula Cakka
“Udah ku bilang kan, kamu sih ngeyel banget”omelku sambil mengenakan jaket ke tubuh Cakka dan mengajaknya kembali ke kamarnya.
“Kok kalian basah kuyup gitu”tanya dokter Dessy saat melihat kami basah.
“Tadi kami habis hujan-hujan dokter, asyik banget lho”jelas Cakka senang.
“Aduh kenapa kamu biarkan Cakka hujan-hujan sih kan dia baru sadar”jadilah aku di omeli dokter Dessy.
“Maaf dokter tadi saya sudah larang dia, tapi Cakka aja yang keras kepala”belaku.

Aku menganti bajuku yang basah dengan baju Cakka yang ada disana.

“Ik sini deh”panggil Cakka dan memintaku untuk duduk di sampingannya, aku pun mendekat ke arahnya dan duduk di sebelahnya.
“Apa?”jawabku jutek.
“ Jangan manyun napa jelek tau, senyum dong. Kan kalau senyum jadinya tambah cantik”ledeknya.
“Ya habis aku kesel sama kamu, udah di bilang ngeyel sih. Kan aku yang jadi kena marah dokter Dessy”jelasku.
“Ia…ia… aku minta maaf”lagi-lagi aku kalah dengan kata-kata dia yang seperti menyihirku. Aku menggigil kedingan kemudian memeluk diriku sendiri, padahal kan aku udah ganti baju.
“Kamu pasti kedinginan ya”Cakka langsung memelukku. Aku bisa merasakan hangatnya cinta dari Cakka menjalar ke seluruh tubuh. Ternyata benar cinta bisa membuat kita nyaman dan damai. Apa aku mulai suka dengan Cakka?.


“ Aku berharap, aku menjadi mataharimu Ik yang bisa menyinari dan menghangatkan hatimu “
“ Kok gitu? Kan enakkan jadi Pelangi daripada Matahari “ protesku manja, aku sangat senang melihat Pelangi setelah selesai hujan.
“ Kalau Pelangi kan cuma datang sesaat Ik. pelangi Cuma sebuah hiasan langit setelah hujan datang, beda dengan matahari. Matahari selalu bersinar dan selalu dibutuhkan oleh semua orang. Oik izinkanlah aku menjadi mataharimu, izinkan aku menggantikan bintang yang ada dihatimu Ik”jelas Cakka.
“ Kamu mau jadi matahariku? Tapi ada syaratnya bantu aku untuk membuat bintang itu pergi ketempat yang seharusnya ia berpijak“ ucapku lirih sambil tersenyum manis menatapnya.

“Aku bukan hanya akan bikin kamu melupakan bintang itu selamanya , namun juga membuat tak pernah bertemu dan mengenalnya”ucapnya yakin sambil mempererat pelukannya.

“ Janji“ucapku nggak yakin.
“Tapi kamu beneran kan cinta dan sayang aku dengan sepenuh hati, bukan kamu kasihan karena aku sakit”ucapnya lirih.
“Aku nggak peduli dengan semua itu. Kamu tau kenapa, karena manusia di ciptakan tak ada yang sempurna. Dan manusia di ciptakan berpasangan adalah untuk saling melengkapi kan”jelasku yakin.
“Terima kasih Oik. Kamu sudah beri aku rasa dan cinta itu, hingga membuatku seperti hidup kembali”Cakka melepaskan pelukannya dan mencium keningku, baru kali ini ada cowok yang berani mencium ku.


Just for you
Mungkin saat inilah aku mesti melupakan Alvin, dan kini aku harus belajar untuk mencintai Cakka. Pepatah bilang ‘kalau pengalaman adalah guru yang paling berharga’.
Terima kasih Alvin telah menyakiti hatiku, dan terima kasih juga buat Cakka yang sudah setia menunggu aku hampir 3 tahun.
Aku akan buktikan, kalau aku bisa hidup tanpa bintang.

_____Selesai_______