Kamis, 12 Mei 2011

Seperti Hidup Kembali Cerpen

Kau temukan aku ketika ku rapuh…Terdampar membisu seperti hidupmu…Matahari seakan tak lagi menyinari hati sepi ini…



Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah gontai. Hingga langkah ku terhenti di ujung lorong tepatnya di depan ruang ICU. Bau alkohol menyeruak saat aku memasuki ruang itu tak lupa aku juga mengenakan baju khusus yang tersedia tujuannya agar ruangan tetap steril.

Ku dekati ranjang Cakka dan duduk di sampingnya, keadaannya tak jauh beda dengan yang kemarin. Udah tiga minggu ini ia terbaring koma, tak ada tanda-tanda kalau keadaannya akan membaik.

”Kapan kamu mau bangun? Jangan tidur terus karena kamu bukanlah putri tidur, lihat ada aku disini, aku capek jika terus-terusan melihatmu seperti ini “ujarku sambil membelai rambutnya meminta dia agar cepat membuka matanya. Rambutnya rontok dan menempel pada tanganku ini efek samping dari kemo itu sendiri. Jika orang lain lebih memilih mati daripada kemoterapi yang sakitnya luar biasa soalnya saat aku menemani dia kemo, dia sering teriak-teriak untung lah suara dia merdu.


“Aku mohon“ pintaku sekali lagi, tak ada jawaban. Tiba-tiba sesuatu yang hangat membasahi pipiku, ternyata aku menangis.
“Lihatlah aku menangis, kamu nggak mau kan lihat aku menangis untuk dirimu”aku mengusap air matiku dengan jemarinya, agar ia bisa merasakan kalau aku benar-benar menangis.


Aku tak tega jika melihat dia harus menderita seperti ini, ia masih terlalu muda. Aku takut jika dia bener-bener pergi meninggalkan ku selamanya. Aku tak sanggup jika itu bener-bener terjadi.
Dokter bilang kalau penyakit yang di derita Cakka sudah memasuki stadium 3, Leukemia.

Leukemia atau kanker darah. Penyakit ganas ini menyerang sel-sel darah putih, dimana sum-sum tulang memproduksi sel darah putih melebihi batas yang di butuhkan oleh tubuh, tujuan dari sel darah putih adalah mengubur sel darah merah yang sudah mati dengan cara memakannya. Jika sel darah putih jumlahnya melebihi batas maka dapat menggangu fungsi utama sel itu sendiri yaitu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sampai saat ini belum di ketahui secara pasti apa penyebabnya, tapi yang sering adalah faktor genetik (keturunan) dan juga akibat dari radiasi seperti radiasi nuklir.
Hanya itu saja yang aku ketahui tentang Leukemia, aku tidak terlalu paham betul dengan penyakit seperti itu lebih dalam lagi (sama kaya’ penulisnya).

Bau alkohol semakin menyengat bercampur dengan obat-obatan membuat kepala ku pusing dan rasa ngantuk mulai menyergapku, ku rasa bau itu seperti obat bius. Hingga tanpa sadar aku mulai tertidur di dekat ranjang Cakka. Kejadian tiga bulan yang lalu berputar kembali dalam mimpiku

Kau temukan aku ketika ku jatuh…Terhempas membisu terbalut pilu…Matahari seakan tak lagi menyinari hati sepi ini...


Alvin Jonathan Sindunata ,aku baru saja selesai menulis nama itu di atas kue dengan coklat…yupp hari ini dia ultah yang ke 17 sekaligus aku mau ngajak dia merayakan anniversary jadian kita yang pertama. Dia adalah orang yang special dihatiku. Saat pulang sekolah aku bermaksud nyamperin Alvin di kelasnya dengan membawa kotak berisi black forrest.

“Alvin pasti suka soalnya ini kan special gue sendiri yang bikin”gumanku sambil terus berjalan menyusuri koridor sekolah.

Sampai juga aku didepan kelasnya dia,kebetulan pintunya tertutup. Aku pun membuka pintu kelas Alvin dan……
Disana Alvin lagi berdua’an sama seorang cewek,aku mencoba positive thinking siapa tau itu temennya,tapi oh no……mereka pegang-pegangan tangan terus Alvin mencium pipi gadis itu dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.

BRAKKKKKKKK…………….kue yang ku pegang jatuh suaranya mengagetkan Alvin dan gadis yang belum ku ketahui.

“Alvinnnnnnnnnnnnnnnnnnnn……..”aku setengah berteriak.
“Oi…Oikk....”ucap Alvin gelagapan. Gadis itu menoleh padaku dan…oh God dia Shilla temen sekelasku sendiri.
“Shilla ngapain lo disini sama Alvin berdua’an pula,dasar cewek gatel”ucapku dengan nada marah sambil memaki Shilla.
“Dia itu cowok gue”lanjutku.
“Apa cowok lo? Hallo…ada juga lo tuh yang kegatelan sama Alvin,jelas-jelas dia itu cowok gue”Shilla balik memaki diriku.
“Asal lo tau ya Alvin tuh nggak pernah ada rasa sama lo”ucapan Shilla semakin membuat hatiku terasa perih tapi aku berusaha tenang.
“Jadi bener apa yang di omongin sama Shilla,ayo bilang Vin kalau itu semua nggak bener”aku mencoba meminta penjelasan Alvin.


Alvin malah diam seribu bahasa,aku mulai kesal dengan sikap Alvin.
“JAWABBBBBBB”ucapku dengan nada membentak.
“Iya…”jawab Alvin singkat. Hatiku serasa ditusuk oleh seribu pedang…ok ini lebay tapi itulah perasaanku saat ini :((.
“Kenapa lo lakuin ini,emangnya apa salah gue…HAH?”ucapku dengan nada kesal.
“Gue bisa jelasin ini ke lo”kata Alvin enteng.
“Nggak ada lagi yang perlu lo jelasin ke gue Vin, mulai sekarang kita putus, aku anggap nggak pernah kenal sama kamu”aku berlari keluar kelas.
“Oik…Oik…Oikkkkkkkk”teriakan Alvin bahkan tak ku hiraukan.

Luka tertinggal di hati terlalu dalam tuk pergi…Melumpuhkan seluruh hidupku…hidupku…

Setelah kejadian tadi siang aku menangis seharian di dalam kamar, hingga akhirnya papa mengajakku pergi menemui rekan bisnisnya itu, aku pun segera mengganti seragam sekolahku dengan pakaian biasa.

Sampailah aku dan papa di rumahnya Cakka. ya…Cakka adalah anak rekan bisnisnya papa, kami sering ketemu, kalau papaku sama papa dia lagi ketemuan untuk menjalankan bisnis. Cakka hanya tinggal berdua dengan papanya. Orang tuanya udah cerai sejak ia masih kecil, nggak tau kenapa dia lebih memilih tinggal sama papanya. Selain itu ia juga manja banget mungkin karena papanya selalu menuruti segala kemauanya. Kalau nggak di turuti dia selalu bilang ‘Kalau besok aku mati emang papa nggak nyesel’. Nyebelin banget tuh anak!.

“Kamu habis nangis ya? Kok mata kamu merah gitu”tanyanya sambil memperhatikan kedua mataku.
“Eh…nggak kok, tadi habis kelilipan debu”kata ku berbohong.
“Jangan bohong, mana mungkin kelilipan debu sampai bengkak gitu”ucapnya. Karena aku terus-terusan di paksa Cakka, dengan terpaksa aku mengangguk.
“Kamu nangis gara-gara nyesel kan nolak aku”ucapnya PD, rasanya aku ingin menendang dia sampai antartika. Akhirnya aku menceritakan kejadian tadi siang di sekolah ke Cakka, sakit banget hati ku kalau harus mengingatnya kembali.

“Udah jangan nangis terus jelek tau, cowok kayak gitu di tangisi. Lupakan dia, aku janji bakal bahagiain kamu”pintanya sambil mengusap air mataku. Aku menggeleng rasanya sulit untuk lupain Alvin dalam waktu singkat walau dia sudah menyakiti hatiku, butuh keajaiban supaya aku benar-benar melupakan dia selamanya.
“Kalau dia masih bikin kamu nangis lagi, aku bakal datangin dia”ucapnya berusaha menghibur ku, aku menggelang cepat.
“Nggak…nggak usah”tegasku.
“Iya…iya aku nggak bakal nangis karena dia”ucapku yakin. Tapi ragu dengan kata-kataku tadi ‘nggak bakal nangis karena dia’. Aku nggak mau melibatkan Cakka lebih dalam lagi.


Cakka mengambil gitarnya yang ada di kursi kemudian memulai intro sebuah lagu.
“Udah ya jangan sedih lagi ,mending dengerin aku nyanyi aja…hhe”kata-kata Cakka tadi bisa membuatku tersenyum kembali.


Izinkan aku menjadikanmu
Sinar di dalam hatiku
Karena hangat senyummu
Selalu menggetarkan jantungku

Izinkan aku mengagumimu
Tanpa harus kujelaskan
Karena cantik dirimu
Bagai surga di mataku

Reff:
Dan izinkanlah aku
Mendekapmu membelaimu menjagamu
Memelukmu menyetuhmu
Menyanding hatimu di hatiku

Izinkan aku mengagumimu

(Back to Reff 2x)

 
Itu lagu dia ciptakan sendiri judulnya ‘Izinkan aku’ just for me :).

Sejak kejadian itu kami sering jalan bareng, apalagi pas malam minggu sering banget ke Mall udah kaya orang pacaran saja, tapi sebenarnya nggak ada ikatan apa-apa antara aku dan dia cuman sahabatan aja. Cakka selalu tanya status hubungan kita tapi nggak pernah aku jawab.


***

Suara dering Hp membangunkan ku dari mimpi, aku mengerjap-erjapkan mataku pandangan yang semulai samar kini semakin jelas. Ternyata aku ketiduran dari tadi di ruang ICU, ku lihat Cakka masih tertidur wajahnya begitu tenang dan damai, mungkin dia lebih senang seperti itu setidaknya dia tak harus merasakan sakit, sakit karena dampak kemoterapi atau juga kalau penyakit dia sedang kambuh.


Ku buka Hp ku ada sms dari Ify isinya adalah besok sekolah libur karena gurunya ada rapat. Tiba-tiba perut ku lapar banget soalnya dari tadi belum makan, aku memutuskan untuk keluar sebentar mencari makan. Rasanya tidak ada yang perlu di khawatirkan jika Cakka, aku tinggal sebentar toh juga ada suster yang mengontrol kondisi dia. Kemarin papanya dia meminta aku tuk menemin Cakka.

“Hoammm”aku menguap sambil merentangkan tangan, ku kumpulkan dulu nyawaku yang masih melayang-layang. Kemudian beranjak dari kursi.

Aku menuju kantin yang ada di rumah sakit. Nggak enak rasanya kalau makan sendirian di antara puluhan orang yang tidak aku kenal, ah peduli amat perutku sudah lapar banget kalau telat makan ntar sakit maag ku kambuh lagi gara-gara telat makan.
Aku memesan nasi goreng dan es jeruk ke sukaan ku, setelah pesanan datang aku langsung menyantapnya tak tersisa layaknya orang yang nggak pernah makan seminggu hhee…

Setelah selesai makan, aku kembali lagi ke ruang perawataan Cakka, duduk di samping ranjangnya. Memandangi wajahnya walaupun terlihat pucat tapi itu tapi mengurangi pesonanya.

Bagaimana cara membuat orang yang sedang koma bisa sadar kembali, pikirku dalam hati ini seperti sebuah dongeng ‘The Sleeping Prince’ jaman dahulu. Harus ada yang mencium sang pangeran agar terbangun dari tidur panjangnya. Apa keajaiban dalam dongeng itu bisa terjadi dalam dunia nyata, oh tidak ini mustahil.

Apa? Jangan konyol Oik ini dunia nyata bukan negeri dongeng, lagian aku kan bukan siapa-siapa dia. Arghh…kenapa aku bisa berfikiran seperti itu sih?. Aku dengan ragu-ragu segera mencium pipinya siapa tau keajaiban itu beneran terjadi sekarang

Setelah itu rasanya aku ingin ke toilet sekarang juga. Apa yang barusan aku lakukan, aku menutup muka ku dengan kedua tangan ku. Padahal tak ada siapapun disitu kecuali Cakka tapi aku malu banget.

Saat aku kembali dari toilet, ku lihat jemari Cakka mulai bergerak, aku tersenyum senang mungkin dia akan segera sadar ku dekati dia. Aku membelai tangannya lembut berusaha menguatkan dia agar cepat membuka matanya. Perlahan-lahan Cakka membuka matanya dan memandangi sekelilingnya kemudian melihat ke arahku sambil tersenyum aku membalasnya. Dia mungkin senang karena yang di lihatnya pertama kali adalah aku, cewek yang di pujanya setengah mati…hhee aku terlalu pd.
“O…Oik…”panggilnya terbata.

Kau nyalakan cahaya hati yang t’lah mati…Kau terangi gelap di hati…Bangunkan jiwaku oh…dari mimpi buruk ku…


“ Iya ini aku…Cakka, syukurlah kamu sudah sadar “ ucapku senang sambil membelainya pipinya. Aku memencet bel yang ada di sebelah tempat tidur Cakka, gunanya untuk memanggil dokter.
“Aku dimana?”tanya Cakka.
“Kamu di rumah sakit”aku menjelaskan. Pintu terbuka kemudian dokter dan beberapa petugas medis datang.

“ Aku keluar sebentar ya agar kamu diperiksa dokter bentar“ izinku kemudian keluar dari ruangan agar dokter bisa memeriksa kondisi Cakka saat ini, dia menangguk. Aku mengabari Papanya bahwa Cakka udah sadar. Aku tak tahu mengapa aku  sebahagia ini  dan aku tak mau mencari alasan kenapa aku bahagia. Dokter dan para perawat keluar dari kamar Cakka. Kulihat wajah dokter Dessy ceria sepertinya ada kabar baik yang akan ia sampaikan. Semoga saja

“ Bagaimana kondisi Cakka, Dok? “ tanyaku.
“ Kondisi Cakka sudah mulai stabil, kalau begitu terus lima hari lagi dia boleh pulang“ ucap dokter Dessy yang memang sudah akrab denganku. Aku mengangguk Cakka kemudian di pindah ke ruang rawat biasa karena keadaanya tak begitu mengkhawatirkan untuk berada di ruang ICU.

Beri aku cinta, beri aku rasa agar aku bisa seperti dirimu…Beri aku sentuhmu, beri aku rindumu, agar aku bisa seperti hidup kembali…

“ Kenapa senyum-senyum sendiri? Seneng banget ya karena aku sudah sadar“ucapnya menggoda ku. Aku rasa pipi bersemu merah karena tersipu malu, aduhhhh…….
“ Apaan sih“ ucapku manyun kemudian sedikit memukul bahunya.
“ Ke taman yuk, bosen aku kalau cuman tidur-tiduran aja di kamar“ ucapnya manja.
“Tapi di luar udaranya dingin, apalagi langit berubah mendung bentar lagi mau ujan deh kayaknya. Lagian kamu kan baru saja sadar”ucapanku tak ia hiraukan, dia tetap saja mau keluar. Aku meminta ijin dokter Dessy, setelah di ijinkan kami menuju taman
 
Aku duduk dibangku taman yang sudah tersedia disana sedangkan Cakka duduk dikursi rodanya. Tiba-tiba rintik-rintik air jatuh dari langit membasahi bumi, rintik-rintik air itu makin deras.
“Lihat deh udah mulai hujan tuh”kata Cakka
“Ayo kembali…”ajakku, Cakka malah berdiri dari kursi rodanya dan berlari menembus lebatnya hujan.
“Ik mending hujan-hujanan bentar”Cakka menarik tangan ku untuk mengikutinya.
“Nanti dokter Dessy marah, lagian kondisi kamu kan masih lemah”teriakku di tengah derasnya hujan.
“Santai aja Ik, tenang dia nggak bakal marah kok”ucap Cakka santai.

Kemudian menit kemudian hujan sudah mulai reda, angin berhembus kencang dan dingin, terasa menembus kulitku dan menusuk ke dalam tulang. Aku menggigil kedinginan begitu pula Cakka
“Udah ku bilang kan, kamu sih ngeyel banget”omelku sambil mengenakan jaket ke tubuh Cakka dan mengajaknya kembali ke kamarnya.
“Kok kalian basah kuyup gitu”tanya dokter Dessy saat melihat kami basah.
“Tadi kami habis hujan-hujan dokter, asyik banget lho”jelas Cakka senang.
“Aduh kenapa kamu biarkan Cakka hujan-hujan sih kan dia baru sadar”jadilah aku di omeli dokter Dessy.
“Maaf dokter tadi saya sudah larang dia, tapi Cakka aja yang keras kepala”belaku.

Aku menganti bajuku yang basah dengan baju Cakka yang ada disana.

“Ik sini deh”panggil Cakka dan memintaku untuk duduk di sampingannya, aku pun mendekat ke arahnya dan duduk di sebelahnya.
“Apa?”jawabku jutek.
“ Jangan manyun napa jelek tau, senyum dong. Kan kalau senyum jadinya tambah cantik”ledeknya.
“Ya habis aku kesel sama kamu, udah di bilang ngeyel sih. Kan aku yang jadi kena marah dokter Dessy”jelasku.
“Ia…ia… aku minta maaf”lagi-lagi aku kalah dengan kata-kata dia yang seperti menyihirku. Aku menggigil kedingan kemudian memeluk diriku sendiri, padahal kan aku udah ganti baju.
“Kamu pasti kedinginan ya”Cakka langsung memelukku. Aku bisa merasakan hangatnya cinta dari Cakka menjalar ke seluruh tubuh. Ternyata benar cinta bisa membuat kita nyaman dan damai. Apa aku mulai suka dengan Cakka?.


“ Aku berharap, aku menjadi mataharimu Ik yang bisa menyinari dan menghangatkan hatimu “
“ Kok gitu? Kan enakkan jadi Pelangi daripada Matahari “ protesku manja, aku sangat senang melihat Pelangi setelah selesai hujan.
“ Kalau Pelangi kan cuma datang sesaat Ik. pelangi Cuma sebuah hiasan langit setelah hujan datang, beda dengan matahari. Matahari selalu bersinar dan selalu dibutuhkan oleh semua orang. Oik izinkanlah aku menjadi mataharimu, izinkan aku menggantikan bintang yang ada dihatimu Ik”jelas Cakka.
“ Kamu mau jadi matahariku? Tapi ada syaratnya bantu aku untuk membuat bintang itu pergi ketempat yang seharusnya ia berpijak“ ucapku lirih sambil tersenyum manis menatapnya.

“Aku bukan hanya akan bikin kamu melupakan bintang itu selamanya , namun juga membuat tak pernah bertemu dan mengenalnya”ucapnya yakin sambil mempererat pelukannya.

“ Janji“ucapku nggak yakin.
“Tapi kamu beneran kan cinta dan sayang aku dengan sepenuh hati, bukan kamu kasihan karena aku sakit”ucapnya lirih.
“Aku nggak peduli dengan semua itu. Kamu tau kenapa, karena manusia di ciptakan tak ada yang sempurna. Dan manusia di ciptakan berpasangan adalah untuk saling melengkapi kan”jelasku yakin.
“Terima kasih Oik. Kamu sudah beri aku rasa dan cinta itu, hingga membuatku seperti hidup kembali”Cakka melepaskan pelukannya dan mencium keningku, baru kali ini ada cowok yang berani mencium ku.


Just for you
Mungkin saat inilah aku mesti melupakan Alvin, dan kini aku harus belajar untuk mencintai Cakka. Pepatah bilang ‘kalau pengalaman adalah guru yang paling berharga’.
Terima kasih Alvin telah menyakiti hatiku, dan terima kasih juga buat Cakka yang sudah setia menunggu aku hampir 3 tahun.
Aku akan buktikan, kalau aku bisa hidup tanpa bintang.

_____Selesai_______

Senin, 25 April 2011

Leukemia

Leukemia adalah jenis kanker yang mempengaruhi sumsum tulang dan jaringan getah bening. Semua kanker bermula di sel, yang membuat darah dan jaringan lainnya. Biasanya, sel-sel akan tumbuh dan membelah diri untuk membentuk sel-sel baru yang dibutuhkan tubuh. Saat sel-sel semakin tua, sel-sel tersebut akan mati dan sel-sel baru akan menggantikannya.

Tapi, terkadang proses yang teratur ini berjalan menyimpang, Sel-sel baru ini terbentuk meski tubuh tidak membutuhkannya, dan sel-sel lama tidak mati seperti seharusnya. Kejanggalan ini disebut leukemia, di mana sumsum tulang menghasilkan sel-sel darah putih abnormal yang akhirnya mendesak sel-sel lain.



Tanda dan Gejala Penyakit Leukemia

Gejala Leukemia yang ditimbulkan umumnya berbeda diantara penderita, namun demikian secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:



1. Anemia. Penderita akan menampakkan cepat lelah, pucat dan bernafas cepat (sel darah merah dibawah normal menyebabkan oxygen dalam tubuh kurang, akibatnya penderita bernafas cepat sebagai kompensasi pemenuhan kekurangan oxygen dalam tubuh).



2. Perdarahan. Ketika Platelet (sel pembeku darah) tidak terproduksi dengan wajar karena didominasi oleh sel darah putih, maka penderita akan mengalami perdarahan dijaringan kulit (banyaknya jentik merah lebar/kecil dijaringan kulit).



3. Terserang Infeksi. Sel darah putih berperan sebagai pelindung daya tahan tubuh, terutama melawan penyakit infeksi. Pada Penderita Leukemia, sel darah putih yang diterbentuk adalah tidak normal (abnormal) sehingga tidak berfungsi semestinya. Akibatnya tubuh si penderita rentan terkena infeksi virus/bakteri, bahkan dengan sendirinya akan menampakkan keluhan adanya demam, keluar cairan putih dari hidung (meler) dan batuk.



4. Nyeri Tulang dan Persendian. Hal ini disebabkan sebagai akibat dari sumsum tulang (bone marrow) mendesak padat oleh sel darah putih.



5. Nyeri Perut. Nyeri perut juga merupakan salah satu indikasi gejala leukemia, dimana sel leukemia dapat terkumpul pada organ ginjal, hati dan empedu yang menyebabkan pembesaran pada organ-organ tubuh ini dan timbulah nyeri. Nyeri perut ini dapat berdampak hilangnya nafsu makan penderita leukemia.



6. Pembengkakan Kelenjar Lympa. Penderita kemungkinan besar mengalami pembengkakan pada kelenjar lympa, baik itu yang dibawah lengan, leher, dada dan lainnya. Kelenjar lympa bertugas menyaring darah, sel leukemia dapat terkumpul disini dan menyebabkan pembengkakan.



7. Kesulitan Bernafas (Dyspnea). Penderita mungkin menampakkan gejala kesulitan bernafas dan nyeri dada, apabila terjadi hal ini maka harus segera mendapatkan pertolongan medis.





Leukemia diklasifikasikan berdasarkan jenis sel

Ketika pada pemeriksaan diketahui bahwa leukemia mempengaruhi limfosit atau sel limfoid, maka disebut leukemia limfositik. Sedangkan leukemia yang mempengaruhi sel mieloid seperti neutrofil, basofil, dan eosinofil, disebut leukemia mielositik.



Dari klasifikasi ini, maka Leukemia dibagi menjadi empat type sebutan;

1. Leukemia limfositik akut (LLA). Merupakan tipe leukemia paling sering terjadi pada anak-anak. Penyakit ini juga terdapat pada dewasa yang terutama telah berumur 65 tahun atau lebih.

2. Leukemia mielositik akut (LMA). Ini lebih sering terjadi pada dewasa daripada anak-anak. Tipe ini dahulunya disebut leukemia nonlimfositik akut.

3. Leukemia limfositik kronis (LLK). Hal ini sering diderita oleh orang dewasa yang berumur lebih dari 55 tahun. Kadang-kadang juga diderita oleh dewasa muda, dan hampir tidak ada pada anak-anak.

4. Leukemia mielositik kronis (LMK) sering terjadi pada orang dewasa. Dapat juga terjadi pada anak-anak, namun sangat sedikit.





Penyebab Penyakit Leukemia

Sampai saat ini penyebab penyakit leukemia belum diketahui secara pasti, akan tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempengaruhi frekuensi terjadinya leukemia.

1. Radiasi. Hal ini ditunjang dengan beberapa laporan dari beberapa riset yang menangani kasus Leukemia bahwa Para pegawai radiologi lebih sering menderita leukemia, Penerita dengan radioterapi lebih sering menderita leukemia, Leukemia ditemukan pada korban hidup kejadian bom atom Hiroshima dan Nagasaki, Jepang.

2. Leukemogenik. Beberapa zat kimia dilaporkan telah diidentifikasi dapat mempengaruhi frekuensi leukemia, misalnya racun lingkungan seperti benzena, bahan kimia inustri seperti insektisida, obat-obatan yang digunakan untuk kemoterapi.

3. Herediter. Penderita Down Syndrom memiliki insidensi leukemia akut 20 kali lebih besar dari orang normal.

4. Virus. Beberapa jenis virus dapat menyebabkan leukemia, seperti retrovirus, virus leukemia feline, HTLV-1 pada dewasa.



Pengobatan apa yang ditawarkan?

Kemoterapi

Sebagian besar pasien leukemia menjalani kemoterapi. Jenis pengobatan kanker ini menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel leukemia. Tergantung pada jenis leukemia, pasien bisa mendapatkan satu jenis obat atau kombinasi dari dua obat atau lebih.

Pasien leukemia bisa mendapatkan kemoterapi dengan berbagai cara:

* Melalui mulut
* Dengan suntikan langsung ke pembuluh darah balik (atau intravena)
* Melalui kateter (tabung kecil yang fleksibel) yang ditempatkan di dalam pembuluh darah balik besar, seringkali di dada bagian atas - Perawat akan menyuntikkan obat ke dalam kateter, untuk menghindari suntikan yang berulang kali. Cara ini akan mengurangi rasa tidak nyaman dan/atau cedera pada pembuluh darah balik/kulit.
* Dengan suntikan langsung ke cairan cerebrospinal – jika ahli patologi menemukan sel-sel leukemia dalam cairan yang mengisi ruang di otak dan sumsum tulang belakang, dokter bisa memerintahkan kemoterapi intratekal. Dokter akan menyuntikkan obat langsung ke dalam cairan cerebrospinal. Metode ini digunakan karena obat yang diberikan melalui suntikan IV atau diminum seringkali tidak mencapai sel-sel di otak dan sumsum tulang belakang.



Terapi Biologi

Orang dengan jenis penyakit leukemia tertentu menjalani terapi biologi untuk meningkatkan daya tahan alami tubuh terhadap kanker. Terapi ini diberikan melalui suntikan di dalam pembuluh darah balik.

Bagi pasien dengan leukemia limfositik kronis, jenis terapi biologi yang digunakan adalah antibodi monoklonal yang akan mengikatkan diri pada sel-sel leukemia. Terapi ini memungkinkan sistem kekebalan untuk membunuh sel-sel leukemia di dalam darah dan sumsum tulang. Bagi penderita dengan leukemia myeloid kronis, terapi biologi yang digunakan adalah bahan alami bernama interferon untuk memperlambat pertumbuhan sel-sel leukemia.



Terapi Radiasi

Terapi Radiasi (juga disebut sebagai radioterapi) menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel leukemia. Bagi sebagian besar pasien, sebuah mesin yang besar akan mengarahkan radiasi pada limpa, otak, atau bagian lain dalam tubuh tempat menumpuknya sel-sel leukemia ini. Beberapa pasien mendapatkan radiasi yang diarahkan ke seluruh tubuh. (Iradiasi seluruh tubuh biasanya diberikan sebelum transplantasi sumsum tulang.)


Transplantasi Sel Induk (Stem Cell)

Beberapa pasien leukemia menjalani transplantasi sel induk (stem cell). Transplantasi sel induk memungkinkan pasien diobati dengan dosis obat yang tinggi, radiasi, atau keduanya. Dosis tinggi ini akan menghancurkan sel-sel leukemia sekaligus sel-sel darah normal dalam sumsum tulang. Kemudian, pasien akan mendapatkan sel-sel induk (stem cell) yang sehat melalui tabung fleksibel yang dipasang di pembuluh darah balik besar di daerah dada atau leher. Sel-sel darah yang baru akan tumbuh dari sel-sel induk (stem cell) hasil transplantasi ini.

Setelah transplantasi sel induk (stem cell), pasien biasanya harus menginap di rumah sakit selama beberapa minggu. Tim kesehatan akan melindungi pasien dari infeksi sampai sel-sel induk (stem cell) hasil transplantasi mulai menghasilkan sel-sel darah putih dalam jumlah yang memadai.

Sabtu, 02 April 2011

Kaulah hidup dan Matiku Cerpen (versi Cakshill)

_________Enjoy This Story________

Kaulah darahku juga nadiku…
Kaulah nafasku juga jantungku…
Engkaulah hatiku dan jiwaku…



Bel tanda istirahat berbunyi,siswa di pulangkan lebih awal dari biasanya karena semua guru ada kepentingan mendadak. Seorang gadis rambutnya sepunggung jalan terburu-buru menuju parkiran,kemudian temannya menghampiri.

“Shill mau kemana buru-buru amat sih?”Tanya Sivia sambil membarengi langkah Shilla.
“Ada kepentingan mendadak nih”jawab Shilla sambil terus berjalan.
“Oh….”mereka berdua sampai diparkiran.
“Vi…aku balik dulu ya”pamit Shilla yang sudah ada didalam mobilnya.
“Ok hati-hati ya”kata Sivia.

Beberapa menit kemudian mobil Shilla meninggalkan halaman parkir SMA Kartika,di jalan Shilla memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Shilla tak mau orang itu menunggu dirinya terlalu lama,sampai akhirnya mobil Shilla berhenti di parkiran rumah sakit,kemudian dia berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit hingga langkahnya terhenti diruang C.09.

Dibuka pintu kamar tersebut.

“Maaf ya udah bikin nunggu kamu terlalu lama”kata Shilla sambil mendekati orang yang duduk ditempat tidurnya.
“Gpp…kok cepet banget pulangnya ini kan baru jam 9”kata Cakka.
“Katanya para guru ada kepentingan jadi semua siswa dipulangkan lebih awal,dan aku langsung kesini takut kamu kelamaan nunggunya”jelas Shilla.


Cakka hanya mengangguk mengerti.
“Tadi dokter bilang aku bisa pulang hari ini”kata Cakka memberi tau Shilla. Sementara Shilla hanya menanggapi dengan senyuman.
“Senang rasanya akhirnya aku bisa pulang,habis bosen dirumah sakit terus”Cakka tersenyum senang,Shilla terdiam dalam hatinya perkataan Cakka barusan malah membuatnya miris.
“Makannya kamu cepet sembuh Kka!” Cakka hanya tersenyum simpul.
“Kita pulang sekarang Shill”kata Cakka yang udah nggak sabar sambil berdiri dari tempat tidurnya.
“Aku bisa jalan sendiri kok”seru Cakka saat Shilla mengambil kursi roda untuknya.
“Kamu yakin?”tanya Shilla,Cakka hanya mengangguk.
Shilla menuntun Cakka menuju mobilnya yang ada ditempat parkir,lalu Shilla membuka pintu depan mobilnya dan membantu Cakka masuk. Beberapa saat kemudian mobil Shilla sudah meninggalkan parkir rumah sakit.


“Ini kan bukan jalan menuju rumahku…Shill”seru Cakka saat ada ditengah perjalanan pulang.
“Memang bukan kita kerumahku,lagian dirumah kamu kan nggak ada siapa-siapa pembantu kamu lagi pulang kampung kan,kalau pulang kerumahku setidaknya aku bisa merawat kamu”Shilla membelai rambut Cakka. Cakka tersenyum pada Shilla,itulah yang disukai Cakka dari sosok Shilla peduli padanya.


Mereka berdua sampai dirumah Shilla,Shilla menuntun Cakka menuju rumahnya.
“Kamu bisa tidur disini,ini ruang tidur tamu kebetulan nggak ada yang nempati”jelas Shilla sambil membantu Cakka berbaring ditempat tidur.
“Kalau gitu aku keluar dulu ya,sekarang kamu bisa istirahat”ucap Shilla.
“Shilla….”kata Cakka sambil menahan lengan Shilla.
“Apa?”tanya Shilla. Cakka menarik Shilla kedalam pelukannya.
“Makasih ya untuk semuanya”kata Cakka tulus,Shilla balas memeluknya.
“Nggak perlu berterima kasih segala,semua yang ku lakukan ini tulus karena aku bener-bener mencintaimu Cakka,aku nggak mau kehilanganmu”mata Shilla mulai berkaca-kaca,segera mungkin ia menghapusnya karena tak mau Cakka melihatnya menangis.



Aku mau hidup denganmu…
Aku mau matipun karenamu…
Aku mau disisa waktuku bersamamu…

Sore hari langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung,beberapa saat kemudian butiran-butiran air jatuh dari langit membasahi bumi dan bertambah lebat,suara gemuruh petir bersahut-sahutan diluar sana cukup mengerikan memang. Udara diluar cukup dingin sekali,Cakka segera bangkit dari tempat tidurnya karena ia ingin melihat suasana diluar seperti apa,membosankan memang jika cuman tidur-tiduran saja pikirnya.
“Hujan…”guman Cakka yang sudah berdiri dibalkon rumah Shilla dilantai atas.
Pemandangan di sekitar tak terlalu jelas dimata Cakka karena tertutupi oleh lebatnya hujan,suara gemuruh petir tak membuatnya gentar.
Cakka menadahkan tangannya ke atas,seketika air hujan membasahi tangannya. Air itu terlalu dingin sampai terasa menusuk jantungnya buru-buru dia menarik tangannya kembali. Angin bertiup kencang.


Shilla menuju kamar Cakka yang ada di lantai dua rumahnya sambil membawa makanan dan susu hangat karena dia tau daritadi pagi Cakka belum makan. Shilla sampai di lantai atas kebetulan kamar Cakka terbuka dia langsung masuk saja,tapi Cakka tak ada disana.
“Cakka……..”panggil Shilla namun tak ada jawaban. Shilla keluar dari kamar Cakka di balkon dia melihat sosok lelaki berdiri disana Shilla segera menghampiri.
“Kok malah diluar sih,kan udara cukup dingin nggak baik untuk kesehatan kamu”ucap Shilla cemas.
“Aku gpp Shilla,kamu nggak perlu khawatir kaya gitu”kata Cakka yang merasa dirinya baik-baik saja.
“Ya udah kita masuk dulu yuk,aku udah siapin makanan buat kamu. Daritadi pagi kamu belum makan kan”ajak Shilla.
“Ini kamu makan dulu ya” kata Shilla sambil menyerahkan semangkuk bubur.Cakka geleng-geleng kepala tanda nggak mau makan.
“Ayo dimakan dong,kan sejak tadi pagi kamu belum makan katanya mau sembuh”bujuk Shilla.
“Iya aku makan tapi suapin ya”pinta Cakka manja. Dengan senang hati Shilla akhirnya nyuapin Cakka ckckck.


Keesokan harinya Cakka membereskan semua pakaiannya yang ada dilemari.
“Kamu mau kemana Cakka?”tanya Shilla heran saat melihat Cakka sambil membawa tas ranselnya.
“Hari ini aku mau pulang kerumahku sendiri Shilla,lagian para pembokat juga udah balik lagi”jelas Cakka.
“Nggak…jangan hari ini”cegah Shilla yang keberatan.
“Disini aku terlalu menyusahin kamu,mending aku pulang saja”.
“Kok gitu ngomongnya,kamu sama sekali nggak nyusahin aku”Shilla menahan tangan Cakka.
“Lagian aku juga ingin lihat keadaan rumah seperti apa,besok aku balik kesini kok”bujuk Cakka.
“Ya udah kalau itu mau kamu,biar supir ku yang ngantar kamu pulang”Cakka hanya mengganguk.



Kaulah senyumku juga tawaku…
Kaulah damaiku juga bahagiaku
Engkaulah teduhku…
Tempat ku bernaung…


“Sebentar lagi ulang tahun Shilla yang ke 17”kata Cakka sambil melihat kalender yang ada di meja kamarnya.
“Aku harus siapkan kado yang spesial buat Shilla,mungkin ini kado terakhir buat kamu sayang”. Cakka segera menganti pakaiannya,beberapa saat kemudian dia sudah siap.
Cakka meminta supirnya untuk mengantarnya ke Mall,dia tak mungkin menyetir mobilnya sendiri dalam keadaan seperti ini.


______Kisah Hidupku________

‘Ashilla Zahrantiara nama yang cukup indah bukan? Sebentar lagi usianya genap 17 tahun saat tanggal 25 Febuari. Dia adalah gadis yang spesial di hatiku,karena dialah aku masih bisa bertahan sampai sekarang ini di tengah kerapuhanku,dia jugalah yang menjadi penyemangat dalam hidupku. Entah sampai kapan aku bisa terus ada disampingnya? Jika boleh memilih aku ingin selalu bersama Shilla selamanya tanpa ada kata ‘pisah’.

Kini aku mengidap suatu penyakit…….’Gagal jantung’ penyakit ini membuatku lemah dan putus asa,dan karena penyakit itu juga mama meninggal sesaat setelah aku di lahirkan. Dari kecil aku tak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu,papalah yang selalu merawat dan membesarkan ku seorang diri. Hingga usiaku beranjak 13 tahun aku harus menerima kenyataan pahit kehilangan seseorang yang berarti di hidupku…yupp papa meninggal karena kecelakaan tepat sehari sebelum ulang tahunku yang ke 13. Kini aku hidup sebatang kara tapi untunglah masih ada pak Hardy dan bi’ Ellis yang masih setia bekerja dirumahku meskipun papa sudah nggak ada. Walaupun mereka cuman pembantu tapi sudah ku anggap sebagai orang tuaku sendiri.

Saat aku berusia 14 tahun,pagi itu entah kenapa tubuhku terasa lemah jangankan untuk jalan, bangun dari tempat tidur saja sulit bahkan aku mulai sesak nafas. Bi’ Ellis yang melihat keadaanku seperti itu langsung membawaku kerumah sakit.
Aku bener-bener syok saat dokter memberi tau penyakit yang ku derita ini,lengkap sudah penderitaanku kini. Dokter bilang aku hanya bisa bertahan untuk 2 tahun mendatang? Apa 2 tahun berarti aku hidup hanya sampai usia 16 tahun,kecuali jika ada seseorang yang mau mendonorkan jantungnya untukku. Hey…tapi adakah orang yang mau? Bukankan organ jantung yang dimiliki manusia cuman satu,jika di donorkan ke orang lain berarti dia harus siap mati.

Saat itulah sikapku jadi berubah,aku jadi suka menyendiri,pendiam dan selalu di penuhi rasa ketakutan (ketakutan tentang bayangan kematian yang selalu menghantuiku). Tapi setelah aku bertemu dengan Shilla gadis cantik dan ceria itu,membuat semangat hidupku kembali lagi dan karena dialah aku bisa bertahan sampai umurku memasuki 18 tahun. Tapi aku tak tau lagi kapan aku bisa terus bertahan,ku serahkan semua pada kuasa-Nya?!.
______End________

“Kira-kira hadiah apa ya yang cocok untuk Shilla”kata Cakka sambil memikirkan sebuah kado yang akan dia berikan pada Shilla.
“Menurut bapak kado yang cocok untuk Shilla apa?”Cakka meminta pendapat pada supirnya.
“Gimana kalau sebuah liontin den”usul supirnya Cakka.
“Boleh juga usulnya”Cakka segera mencari liontin yang cocok untuk Shilla,setelah dua jam mencari akhirnya dia menemukan kado yang cocok untuk hadiah ultah Shilla.


Aku mau hidup denganmu…
Aku mau matipun karenamu…
Aku mau disisa waktuku bersamamu…


Di kelasnya Shilla nggak konsen dengan pelajaran hari ini,entah apa yang ada dipikirannya yang jelas Shilla mulai gelisah. Kemudian bel tanda istirahat berbunyi.
“Shill lu mau kemana?”tanya Sivia saat melihat Shilla membereskan semua buku matpelnya kemudian mengcangklong tasnya.
“Aku mau pulang Vi”jawab Shilla tanpa memandang kearah Sivia.
“Kok pulang awal,lu sakit ya?”tanya Sivia khawatir,Shilla hanya menggeleng.
“Aku lagi nggak siap sama pelajaran hari ini,dari pada ngga konsen mending aku pulang”jelas Shilla sambil berjalan meninggalkan kelas.

Didepan pintu gerbang Shilla melihat supir Cakka disana,saat melihat Shilla dia segera menghampiri.
“Ada apa pak kok kesini?”tanya Shilla.
“Saya mau jemput non Shilla,bisa ikut bapak sekarang”pintanya.
“Kemana pak?”tanya Shilla heran.
“Ke rumah sakit,kemarin penyakit den Cakka kambuh lagi neng”jelasnya singkat.
“Apa kambuh…kok bisa pak?”tanya Shilla kaget.
“Iya sehabis mencari kado buat ultah neng Shilla kemarin”jelas supir Cakka.
“Kado buat saya? Hmm ya udah kita kerumah sakit sekarang saja pak”ucap Shilla khawatir,di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit hati Shilla diselimuti rasa gelisah.


Kau yang selalu setia menemaniku…
Meresapkan harumnya cinta dihatiku…
Kau yang menyayangiku setulusnya…

Shilla berjalan terus menyusuri lorong-lorong rumah sakit,matanya mulai berkaca-kaca langkahnya terhenti di ruang ICU. Tangannya bergetar saat membuka pintu ruang tersebut,hingga air matanya jatuh membasahi pipinya yang chubby.
“Cakka…..”panggil Shilla sambil mendekati Cakka yang terbaring koma,tak ada jawaban.
“Sebentar lagi aku ulang tahun,kita rayain sama-sama ya seperti tahun lalu pasti seru dan menyenangkan”ucap Shilla yang seperti berbicara sendiri,tangannya mengenggam erat jemari Cakka.

Shilla keluar dari kamar Cakka untuk menemui dokter Lia. Dia berjalan menuju ruang dokter yang menangani Cakka.
“Selamat siang dokter”sapa Shilla saat masuk ke ruang dokter Lia.
“Siang juga,ada yang bisa saya bantu? Oh ya silahkan duduk dulu”sapa balik dokter Lia sambil mempersilahkan Shilla duduk.
“Terima kasih dokter”Shilla kemudian duduk.
“Bagaimana keadaan Cakka dokter? Terus kapan dia bisa sadar dari komanya?!”tanya Shilla antusias.
“Saya tidak tau kapan dia sadar,lebih baik kamu berdoa saja. Kalau kondisinya sekarang ini jujur saat katakan terus memburuk,Cakka saat ini membutuhkan donor jantung tapi mencari pendonor itu tidak mudah,kalaupun ada belum tentu cocok”jelas dokter Lia panjang lebar.
“Kalau gitu bagaimana kalau saya saja dokter yang menjadi pendonor untuk Cakka,saya bersedia kok,dan kalau bisa langsung sekarang saja.”kata Shilla enteng tanpa berfikir dulu.
“Tidak semudah dan secepat itu Shilla,saya juga harus meminta persetujuan dari keluarga kamu,itu pun belum tentu kalau hasilnya nanti cocok,dan kamu tau kan resikonya dari semua itu? Nyawa ”dokter Lia memberikan penjelasan pada Shilla.
‘Kalau aku harus meminta persetujuan dulu dari papa mama pasti mereka nggak bakal setuju apalagi kak Iel’batin Shilla.
“Saya tidak perduli dengan resiko itu,yang penting Cakka bisa selamat”paksa Shilla.
“Tidak bisa Shilla”kata dokter Lia lagi.
“Tolong dokter biarkan saya mengikuti tes itu,saya nggak sanggup jika harus kehilangan dia”kata Shilla memelas,dokter Lia yang melihat ketulusan Shilla merasa iba.
“Baiklah kamu bisa melakukan tes itu”ucap dokter Lia akhirnya,Shilla senang mendengarkannya.
“Terima kasih dokter”kata Shilla,kemudian melakukan tes tersebut. Setelah selesai dari ruang labolatorium Shilla menuju ruang dokter Lia lagi.
“Hasilnya bisa di lihat besok”terang dokter Lia.
“Kalau gitu saya permisi dulu dokter”Shilla keluar dari ruang dokter Lia dan menuju kamar Cakka di ruang ICU.

Sesampainya di dalam Shilla mendekati Cakka dan duduk di samping tempat tidurnya,Shilla memperhatikan setiap guratan wajah Cakka yang terlihat tenang dan damai,hal itu membuat Shilla semakin miris. Diraihnya tangan cowok itu.
“Sebentar lagi kamu bakal sembuh Cakka”kata Shilla senang.
“Semoga hasilnya bisa cocok”ucap Shilla optimis.

Karena bau alcohol bercampur obat yang memenuhi ruangan ICU membuat kepala Shilla pusing dan akhirnya dia tertidur disamping Cakka.
Keesokan harinya suara suster yang memasuki ruangan membangunkan Shilla ketiduran sejak tadi malam di ICU.
“Pagi….”sapa suster tersebut pada Shilla.
“Pagi juga suster”kata Shilla yang masih sedikit mengantuk nyawanya masih melayang belum sepenuhnya kembali.
“Ya ampun jadi sudah semalaman aku ketiduran disini”guman Shilla dilihat jam tangannya waktu menunjukkan pukul 6.30 WIB.
“Aku pulang dulu ya sayang,nanti sore aku bakal balik lagi kesini”pamit Shilla ke Cakka sambil mencium keningnya. Beberapa saat mobil Shilla meninggalkan rumah sakit.


Siang harinya Shilla teringat sesuatu…
“Oh ya….aku harus kerumah sakit sekarang juga untuk nemui dokter Lia”kata Oik kemudian dia segera menuju rumah sakit,sesampainya di sana Shilla berjalan menuju ruang dokter Lia. Kebetulan dokter Lia ada diruangannya.
“Selamat siang dokter”sapa Shilla.
“Siang juga Shilla,silahkan duduk”sapa balik dokter Lia sambil mempersilahkannya duduk.
“Gimana hasil tesnya kemarin dokter Lia?”tanya Shilla udah nggak sabar. Dokter Lia yang sudah tau maksud kedatangan Shilla langsung membuka tumpukan mapnya dan mengambil selembar amplop berwarna putih dan memberikan pada Shilla.
“Ini hasil langsung dari labolatorium dan belum saya buka”jelas dokter Lia sambil menyerahkan amplop yang masih tersegel rapi.
“Tidak ada manupulasi apapun dalam tes itu,asli dari lab nya”Shilla menerima amplop itu,dia sudah tak sabar ingin membukanya.
“Terima kasih dokter”kata Shilla sambil membukanya…Dan Shilla tak percaya setelah melihat hasilnya ‘Tidak Cocok’.

“Apa nggak cocok?”pekik Shilla.
“Nggak…nggak mungkin,ini hasilnya pasti salah kan dokter”kata Shilla tak percaya.
“Bukan Shilla,hasil yang ada di situ memang asli,jantung kamu memang nggak cocok untuk Cakka,selain itu juga nggak ada kecocokan darah antara kamu dan Cakka”jelas dokter Lia.
Shilla segera bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan dokter Lia dengan perasaan kecewa dan tak percaya.
“Shilla…Shilla….”panggil dokter Lia namun Shilla tak menjawab apalagi menoleh.

Shilla berjalan lunglai menuju keruangan tempat Cakka di rawat,air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya. Tangannya meremas kertas hasil tesnya barusan lalu membuangnya.
Didepan ruang Cakka Shilla melihat seorang suster berbicara serius dengan bi’Ellis,Shilla segera menghampiri.
“Kenapa bi…”seru Shilla saat mendengar bi Ellis dengan suster tersebut membicarakan dirinya.
“Itu…den Cakka udah sadar dan dari tadi memanggil nama neng Shilla terus”jelas bi Ellis.
“Udah sadar bi”kata Shilla senang.
“Iya sebaiknya neng Shilla masuk saja”suruh bi Ellis Shilla menurut dan langsung masuk.
Shilla mendekati Cakka.
“Cakka…kamu udah sadar”panggil Oik. Cakka menatap kedatangan Oik,dia tersenyum senang karena masih bisa melihat wajah itu. Perlahan tangannya membuka masker oksigen, agar ia lebih mudah berbicara.

“Shill…Shilla.”rintihnya.
“Iya ini aku….Shilla”tangan Shilla membelai lembut rambut Cakka.
“Selamat ulang tahun ya,maaf mengucapakannya sekarang dan semoga apa yang kamu impikan selama ini bisa tercapai”suaranya Cakka terlihat jelas tidak seperti orang sakit lainnya.
“Kok kamu ngucapinnya sekarang kan ultahku sepuluh hari lagi”kata Shilla sambil mengenggam tangan kanan Cakka.
“Karena aku nggak bisa menemani ultahmu seperti tahun lalu,oh ya aku juga udah mempersiapkan kado buat kamu”jelas Cakka,kini ditangan kirinya sudah memegangi sebuah kotak berwarna ungu.
“Nggak…jangan sekarang Cakka ultah ku bukan hari ini”tolak Shilla. Cakka tak memperdulikan omongan Shilla,dia segera menyerahkan kotak yang ditangannya itu ke Shilla.
“Sekarang kamu bisa buka hadiah dari ku”suruh Cakka,Shilla menurut.
“Liontin….”kata Shilla.
“Kamu pakai ya terus ya liontin ini”kata Cakka,Shilla memakainya.
“Hadiah dari kamu bagus banget”kata Shilla sambil terisak menahan tangis.
“Kok malah nangis harus kamu senang kan bentar lagi mau ultah yang ke 17,jangan nangis lagi ya karena nanti aku tak kan sanggup lagi untuk menghapusnya”perintah Cakka sambil menghapus air mata Shilla dengan tenaga yang masih tersisa.
“Aku senang dan nggak nangis lagi kalau kamu sembuh”Shilla mempererat genggamannya.
Perlahan Cakka tertidur lagi bersamaan dengan datarnya garis dimonitor yang menunjukan kalau detak jantungnya sudah tak ada. Cakka pergi untuk selamanya.
“CAKKKKKKKKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”teriak Shilla sambil memeluk tubuh Cakka yang sudah tek bernyawa.


Aku mau hidup denganmu…
Aku mau hidup denganmu…
Aku mau matipun karenamu…
Aku mau disisa waktuku bersamamu…
Hanya bersamamu…


Setelah kepergian Cakka,akhir-akhir ini Shilla lebih sering mengurung diri di dalam kamarnya,saat ini dia tak ingin melakukan apapun. Dia terus saja melamun seperti orang yang nggak punya semangat hidup.

Gabriel masuk ke kamar Shilla sambil membawakan makanan untuk adiknya itu,dia miris melihat keadaan adiknya sekarang ini yang berubah menjadi orang pendiam dan pemurung.
“Mau sampai kapan kamu terus kaya gini? Kamu harus bisa terima kenyataan ini,kalau Cakka udah pergi untuk selamanya”jelas Gabriel,Shilla tak menjawab.
“Oh ya besok kakak mau pergi ke Bali karena ada study tour,kamu baik-baik ya di rumah”ucap Gabriel sambil membelai rambut adiknya itu. Kemudian dia segera beranjak dari kamar Shilla.

Shilla tak henti-hentinya memandangi foto dirinya bersama Cakka.
“Kenapa kamu ninggalin aku sendirian,kamu jahat…Cakka”umpat Shilla,dia melihat liontin yang melingkar di lehernya.
“Gara-gara kado sialan ini kamu harus pergi secepat ini”Shilla melepas paksa liontin yang melingkar di lehernya,liontin itupun putus.
“AKU BENCI HIDUP INIIIIIIIII………………..”teriak Shilla sambil melemparkan liontin tersebut.
“Buat apa aku hidup jika nggak ada kamu lagi di dunia ini…Cakka”kata Shilla putus asa,dia melihat pisau buah yang ada di mejanya. Shilla segera mengambilnya.
“Tak ada yang bisa pisahkan kita meskipun kau telah tiada kan ku pastikan itu. Ku akan memeluk dan mencium mu di surga”kata Shilla sambil mensayatkan pisau itu ke pergelangan tangannya.
“Awww….”rintih Shilla menahan rasa perih akibat luka sayatan,darah segar menetes dari pergelangan Shilla. Rasa perih itu tak sebanding dengan rasa perih di hatinya saat Cakka pergi untuk selamanya.
Kemudian pandang berubah menjadi gelap di mata Shilla,dia pun jatuh pingsan,darah terus mengalir dari pergelangan tangannya.


Kaulah hidupku dan juga matiku…

Hari ini Shilla baru pulang setelah mengikuti study tour ke Bali selama 3 hari.
“Shilla……”panggil Gabriel namun tak ada jawaban,kebetulan pembantunya lagi pulang kampung jadi dirumahnya hanya ada Shilla seorang diri.
“Kemana sih…Shilla”guman Gabriel karena sudah beberapa kali dia memanggil Shilla namun tak ada jawaban. Dia memutuskan untuk ke kamar Shilla kebetulan kamarnya juga tidak di kunci jadi Gabriel langsung masuk saja.
“Shilla kamu di dalam ya”panggil Gabriel namun kamar Shilla kosong sampai akhirnya….
Dayat menemukan tubuh Shilla tergeletak dilantai kamarnya dalam keadaan sudah tak bernyawa di tangan kirinya memegangi secarik kertas,serta luka sayatan di pergelangan tangan Shilla dan darah yang sudah mengering. Gabriel menyesal karena meninggalkan Shilla seorang diri,dan nggak nyangka kalau Shilla bakal senekat ini.

Sehari setelah pemakaman Shilla. Gabriel membaca surat dari Shilla yang ditulis untuk dirinya.

To:Kakak ku tersayang.
Maafin Shilla ya kak,kalau Shilla sudah melakukan hal sebodoh ini.
Setelah kepergian Cakka,aku nggak bisa menerima kalau dia udah nggak ada lagi disampingku lagi,kakak tau kan kalau aku sangat mencintai dia,aku nggak sanggup harus kehilangan Cakka.

Waktu penyakit Cakka kambuh saat itu aku menemui dokter Lia,dokter yang menangani nya untuk melakukan tes,aku ingin mendonorkan jantungku untuk dia walau ku tau kalau bayaran atas semua ini adalah NYAWA,aku mau asal Cakka bisa sembuh. Namun malang tak dapat di halang,ternyata hasil nggak cocok.

Buat apa aku hidup jika udah nggak ada Cakka lagi di sampingku…kak,cintaku hanya untuk dia seorang.
Semoga aku bisa bahagia di sana ‘Di Alam Keabadian’ selamanya bersama Cakka tanpa ada kata perpisahan lagi.
Dan semoga juga kakak bisa bahagia bersama dengan wanita yang kakak sayangi.


~~~~~~Selesai~~~~~~~

Selasa, 29 Maret 2011

Haruskah Ku Mati Karena Mu? Prolog

Cerita ini pakai sudut pandang Oik. Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata lho antara Roti dan Aski :D. (nama samaran). Emang ada yang nanya ya?.
Tapi nggak sama persis kan ini namanya terinspirasi.
Semoga aja mereka berdua baca ini cerita :),dan kalian semua suka :D.


____Enjoy This Story____


Bagimana mestinya…
Membuat mu jatuh hati kepada ku…
Tlah ku tuliskan sejuta puisi….
Yakinkan mu membalas cintaku…

Haruskah ku mati karena mu…
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu…
Haruskah ku relakan hidupku…
Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku…
Hentikan denyut nadi jantungku…
Tanpa kau tau betapa suci hati ku…
Untuk memilikimu…

Adakah keikhlasan…
Dalam palung jiwamu mengetukku…
Ajarkan mu bahasa perasaan….
Hingga hatimu tak lagi membeku…

Haruskah ku mati karena mu….
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu…
Haruskah ku relakan hidupku…
Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku…
Hentikan denyut nadi jantungku…
Tanpa kau tau betapa suci hati ku…
Untuk memilikimu…

Tiadakah ruang di hatimu untukku…
Yang mungkin bisa untuk ku singgahi…
Hanya sekedar penyejuk di saat ku layu…
Ku tlah lama menantimu hingga akhir masa…


Sebuah puisi tertempel rapi di Mading sekolah. Setiap baris mempunyai makna yang berarti untuk sang pujaan hati.

***

Suasana hiruk pikuk di bandara Soekarno-Hatta,orang hilir-mudik dengan membawa koper. Itulah pemandangan yang kulihat disana. Pesawat tujuan Asterdam akan berangkat satu jam lagi.


“Gue paling cuman 3 tahun kok di Belanda”jelas Cakka pada ku.
“Lama juga nggak apa-apa kok”ucapku dengan nada cuek.
“Tapi gue nggak bisa lama-lama jauh dari lo Ik. 3 tahun buat gue tuh bagaikan 30 tahun”jelas Cakka.
“Gue bisa tuh”.
“Gue nggak”.
“Iya…iya gue pasti…nggak bakal kangen sama lo :p”.
“Hahaha…nggak percaya gue sama lo,tapi pasti lo bakal kangen sama ini kan?”Cakka mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dia menyedorkan BB nya ke arah ku.
“Apa???”tanya ku heran.
“Buat lo,gue tau lo suka banget kan sama BB gue. Harusnya kan lo sukanya sama gue hehehe”.
‘Tau aja nih anak,BB lo kan udah banyak bantu’in gue’aku membatin.
Cakka melambaikan tangannya ke arahku. “Oik….”.
“Ya…”Cakka menyerahkan BBnya ketanganku.
“Nggak ah…gue kan bukan cewek matre kali”ucapku ngejaim.
“Ya udah deh,kalau gitu gue pinjem’in ke lo,kalau gue udah balik ke indo. Gue ambil lagi dari lo”paksa Cakka.
“Ya udah deh apa boleh buat lo yang maksa,terpaksa gue terima”aku dengan terpaksa menerimanya,padahal dalam hati senang banget.
“Ik…”.
“Hah???”.
“Setelah pulang nanti dari Asterdam,gue pengen tau jawaban lo”ucap Cakka serius.
“Jawaban apa ya?”aku pura-pura nggak tau. Cakka malah mengacak-acak rambutku.
“Iya…iya lagian gue masih punya waktu tiga tahun kok,dan itu cukup lama”.
“Gue tunggu”.
“Tiga tahun waktu yang cukup lama kok buat…ngelupain lo hahahaha….”.
“Gue serius Ik”.
“Gue juga kok,ya udah sana entar lo ketinggalan pesawat lagi”.
“Jangan kangen ya hehehe”ucap Cakka kepedean.
“Nggak bakal :p”.

Aku hanya pergi 'tuk sementara....
Bukan 'tuk meninggalkanmu selamanya....
Ku pasti 'kan kembali pada dirimu.....



Beberapa jam kemudian aku sudah sampai rumah,ku rebahkan badanku di atas kasur yang empuk untuk menghilangkan rasa lelah.

“Hp gue jadi sepi tanpa sms dari Cakka,tanpa gombalan dia,tanpa denger suara dia”gumanku sambil tidur-tiduran di kasur.
“Oh iya…BB dia kan ada sama gue,dia kan nggak punya hp lain,selain nih BB hahahaha…”aku baru sadar.
‘Gue nggak akan ketemu Cakka dalam waktu tiga tahun ke depan,huft…kenapa gue jadi merasa kehilangan gini ya? Apa gue mulai suka sama dia??? Ah…nggak mungkin,nggak boleh…arghhh’.



Segini dulu ya prolognya,

Maaf aja kalau kalian nggak suka hhe….
Kalau suka gue lanjutin,kalau nggak ada yang suka ya udah…nggak gue terusin.
Kalau beneran suka tanpa paksa’an sumbanglah coment atau jempolnya hhe….

Kamis, 10 Maret 2011

Love Miracle Part 25 (Kau Masih Kekasihku/First Love)

_____Enjoy This Story______

Beberapa hidangan ala negara Eropa sudah tersedia di meja Sivia dan Sion mulai dari pesto chicken,cannelloni,croque monsieur,coq au vin. Awalnya mereka mau nonton film di bioskop,tapi berhubung film yang di sukai Sivia udah habis tiketnya. Maka mereka sepakat untuk dinner saja.
“Mau kemana Vi?”tanya Sion yang melihat Sivia hendak beranjak dari kursinya.
“Toilet…toilet,kenapa? Mau ikut ya”jelas Sivia singkat sambil berlalu dari mejanya.
“Hehehe nggak…jangan lama-lama ya”kata Sion sementara Sivia hanya tersenyum saja.

Ternyata Sivia nggak ketoilet,dia mencari seseorang. Orang yang telah lama ia rindukan walaupun kini Via udah ada yang punya.
“Kemana ya dia?”guman Sivia sambil terus berjalan menyusuri lorong-lorong Mall.


Dan…orang itu berdiri didekat KFC.
Sivia berjalan terus dan pura-pura nggak lihat,otomatis dia langsung nabrak orang itu.
“Eh maaf ya saya nggak sengaja”ucapnya,orang itu melihat ke arah Sivia.
“Lho Sivia,sendirian aja nih?”.
“Iya nih Day,kamu sendiri sama siapa? Terus ngapain berdiri didepan KFC sgala”tanya balik Sivia.
“Sendiri juga…Habis bosen dirumah terus yaudah mending jalan-jalan aja kesini,ini juga mau makan soalnya laper sih hhe”jelas Dayat.
“Kebetulan aku juga laper nih,gimana kalau kita makan disini aja”ajak Sivia.
“Hmm gimana ya”Dayat tampak berfikir.
“Hadehh mau makan aja pakai mikir segala,mau nggak?”ucap Sivia sambil menyeret Dayat masuk ke KFC,dia nurut aja.


Setelah mendapatkan tempat duduk mereka memesan makanan.
“Mau pesen apa Vi?”tawar Dayat.
“Colonel’s yakiniku aja lah”Sivia membolak-balik daftar menu.
“Terus minumnya Fruity Fresh ya,yang rasa strawberry pine lime”lanjut Sivia sambil menunjukan gambar yang ada di daftar ke Dayat.
Dayat segera bergabung dengan orang yang mengantri untuk mendapatkan pesanan.



Semetara di Italian Restaurant,meja Sion.
“Yang namanya cewek kalau ke toilet lama banget sih”gerutu Sion sambil melihat kearah jam tangannya. Kemudian mengaduk-aduk pesto chicken yang udah dingin dengan garpu di tangan kirinya.


Setelah mendapatkan pesanannya Dayat kembali ke meja Sivia.
“Terima kasih”ucap Sivia singkat kemudian mengambil pesanannya dari tangan Dayat.
“It’s Ok”Dayat segera duduk.
“Emang kamu pesen apa’an sih?”tanya Sivia.
“Power B’fast,mau coba?”tawar Dayat.
“Boleh deh”Sivia mengangguk setuju. Dengan sepotong B’fast Dayat menyuapin Sivia.
“Lumayan juga rasanya”coment Sivia.
“Nah…sekarang kamu coba ya yakiniku”sekarang giliran Sivia yang nyuapin Dayat.

Sambil makan mereka bernostalgia saat masih belum putus. Kala malming tiba mereka sering jalan bareng mulai dari nonton,dinner,main di timezone dll.

Setelah selesai makan.
“Temenin aku main di Timezone ya,udah lama aku nggak main kesana”pinta Sivia.
“Eh Vi,emang nggak ada yang marah kalau aku jalan berdua sama kamu?”tanya Dayat was-was.
“Duh santai aja lagi,nggak kok emang siapa ya yang marah”kata Sivia santai.
“Ya cowokmu,ok lah lagian ini juga masih jam 8”Dayat mengangguk setuju,tak ada yang perlu di khawatirkan batinnya.
“Tenang dia nggak bakal marah”.


Sivia dan Dayat main beberapa permainan yang ada di Timezone dan cukup banyak juga poin yang mereka dapat.
Setelah dirasa cukup,Dayat menukar poin-poin tersebut dengan boneka panda lumayan besar juga.
“Lihat deh Vi,mirip kamu ya hihihi…”goda Dayat.
“Ihh masa aku disama’in ma tuh boneka -,-”ucap Sivia sambil manyun.
“Biarpun manyun tetep cantik kok :’)”puji Dayat.
“Udah jam 10 nih,waktunya pulang”Sivia melihat kearah jamnya
“Naik taksi? Gimana kalau aku anterin saja,bahaya tau cewek pulang sendirian larut malam”tawar Dayat.
“Nggak usah,ntar ngrepotin lagi”tolak Sivia sok jaim.
“Ngrepotin? Sama sekali nggak kok. Mau ya?!”
“Ya udah deh”Sivia mengangguk setuju.

Mobilnya Dayat sampai didepan gerbang rumah Sivia,dia segera turun.
“Ma’ kasih ya udah di anterin pulang”ucap Sivia setelah turun dari mobil Dayat.
“Nggak perlu berterima kasih segala”.
“Mau mampir dulu?”tawar Sivia.
“Lain kali saja,nggak baik juga bertamu ke rumah orang malam-malam gini”tolaknya.
“Ok lain kali mampir ya”suruh Sivia.
“Sipp…kalau gitu aku pulang dulu ya Vi”pamit Dayat kemudian menutup kaca pintu mobilnya.

Sivia seneng banget hari ini bisa jalan berdua sama Dayat,kaya waktu dulu. Tapi tunggu ada yang menganjal di hati Sivia.
“Oh God…gue ninggalin Sion sendirian direstaurant tadi”Sivia memukul jidatnya sendiri.
“Aduh gimana ini,masa’ gue harus balik lagi ketempat tadi…ishh”keluh Sivia.
Dia mencoba menghubungi Sion,ternyata di Hp nya ada 40 panggilan tak terjawab+ 5 pesan baru.
“Ini siapa lagi yang miscall gue”setelah di buka ada nama Sion disitu.
“Pasti dia call gue,karena keasyikan ketemu sama Day sampai lupa gue kalau lagi jalan bareng sama Sion -.-“.

To: Via Azizah
Kamu kmna sih Vie,kq nggak balik2?.

Sms berikutnya isinya sama kaya yang pertama.

From:Via Azizah
Sorry aku udh smpe rmah nih.

Sivia memencet tombol send,kemudian segera masuk ke rumahnya.Merebahkan tubuhnya di sofa yang empuk untuk melepas rasa lelah gara-gara main di Timezone tadi.
Drtttt….hp Sivia bergetar ada 1 pesan masuk. Via segera membukanya.

To:Via Azizah
Whattttttt? Kamu udah nyampe rmah! Tau nggak aq tuh nunggu’n kmu d’restorn tdi smpe lumutan :@. Trus knpa mw plang ngga blang2?!.

“Tuh kan dia marah”Sivia makin bingung cari alasan yang selogis mungkin. Nggak mungkin dia ngasih alasan yang sesungguhnya.

From:Via Azizah
Tdi mama nyuruh q plng cpet ad urusn mnda2k,dn ngga smpet ngasih tw km maaf ya :’(.

To:Via Azizah
Ngga ush nangis sgala ya udh klu gtu,maaf ya udh mrah2 :’). Tpi lain kle blang za.

Setelah melihat sms balasan dari Sion tadi,Sivia tersenyum lega walaupun harus berbohong.

From:Via Azizah
Oc ;). Thx ya syang :*.



Hari ini…hari minggu Alvin baru saja bangun dari tidurnya tepat jam 5.00.
“Hoooaaaaaaaammmmmmm”Alvin menguap lebar-lebar sambil merentangkan tangannya.
“Ya ampun masih pagi banget sih”guman Alvin sambil melirik jam wekkernya di meja.
“Olahraga aja kali ya,mungkin bisa bikin pikiran fresh :D”Alvin beranjak dari tempat tidurnya dan menganti pakaiannya.

Kemudian turun ke lantai 1.

“Mau kemana Vin pagi-pagi gini?”tanya Oik yang melihat Alvin sudah rapi.
“Jogging donk,lu mau ikut?”ajak Alvin.
“Nggak ah males,lagian dingin di luar”tolak Oik.
“Susah ya mau ngajak orang buat hidup sehat ckckck”Alvin berdecak.
“Up to you lah”ucap Oik cuek kemudian meninggalkan Alvin.

“Mending ngajak Cakka saja deh”Alvin bergegas menuju kamar Cakka. Didepan kamarnya Cakka udah siap-siap ternyata.
“Rapi banget,pasti mau jogging ya?”tanya Alvin,Cakka mengangguk.


Dijalan sekitar perumahan.
“Emang lu udah berapa lama sih jadian sama Oik? Kok lu mau sama tuh cewek. Oh ya dia tuh cerewet,bawel,nyusahin,nyebelin hidup pula”cerocos Alvin.
“Berapa lama ya Vin? Kayanya sejak kelas satu deh”jawab Cakka.
“Tapi menurut gue Oik nggak kaya gitu”.
“Ya sama lu kan sok manis-manis gitu,tapi kalau sama gue beda lagi hho,udah ah jangan ngomongin dia”Alvin menutup pembicaraannya.

Selesai upacara sekolah Alvin hendak menuju perpus dengan membawa banyak buku ditangannya,dan……….
BRAKKKKKKKK……..
Seseorang menabrak Alvin dari depan tanpa sengaja. Orang itu dan Alvin jatuh bebarengan bersama buku-bukunya yang berserakan di lantai.
“Aduh maaf ya aku nggak sengaja”ucap orang itu meminta maaf.
“Hey kalau jalan lihat-lihat donk,gue tuh berat bawa nih buku. Eh lu main tabrak gue aja”omel Alvin.
Dia kemudian membantu Alvin mengambil buku-buku yang berserakan.
‘Semalam gue mimpi kejatuhan duren,dan pagi ini gue ketemu sama bidadari secantik ini’batin Alvin senang.
“Hallo…”cewek itu melambaikan tangannya kewajah Alvin.
“Eh iya”Alvin tersadar dari lamunannya. Cewek itu menyerahkan buku itu ke Alvin.
“Oh ya nama lu siapa?”tanya Alvin yang bermaksud mengajak kenalan.
“Shilla. Kamu sendiri siapa?”tanya balik cewek yang bernama Shilla tersebut.
“Nama gue Alvin”.
“Nama yang bagus”puji Shilla.
“Nama lu juga cantik,secantik orangnya hhe…”Alvin senyam-senyum geje.
“Kalau gitu aku bantu’in ya bawa buku-buku ini”tawar Shilla.
“Nggak usah ngerepotin,gue bisa kok bawa sendiri”tolak Alvin.
“Gpp lagi,aku juga mau ke perpus”.


Sementara itu dikelasnya Obiet merebahkan kepalanya di meja,kemudian mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Kenapa gue bisa jadi kaya gini sih…arghhh”erang Obiet,dia tau kalau saat ini masalah yang dihadapi sangat rumit.
“Kali ini gue harus minta bantu’an temen-temen,setidaknya mereka punya saran gitu. Tapi siapa yang enak di ajak curhat”guman Obiet.
“Debo…ah nggak mungkin,pacaran aja belum pernah mana ngerti dia soal cinta”.
“Minta saran ke Patton saja…tapi tunggu,ya sama saja kaya si Debo -,-“kata Obiet pasrah.
Beberapa menit kemudian.
“Oh ya…mending gue minta saran saja ke Cakka,pasti dia bisa bantu”Obiet tersenyum senang.
“Tapi dia kemana ya?”kata Obiet yang tak melihat Cakka ada di bangkunya.
“Cari dia dulu ah….”Obiet beranjak dari kelasnya.

Kebetulan Cakkanya lagi ada di luar,Obiet langsung nyamperin dia.
“Cakka ada yang mau gue bicarain ke lu penting”kata Obiet tanpa basa-basi.
“Penting…soal apa ya?”Cakka balik nanya.
“Ngomongnya nggak disini tapi hhe”.

Cakka dan Obiet kembali ke kelasnya,kebetulan jam pelajaran kosong dan yang ada di kelas cuman beberapa anak sibuk dengan kegiatan masing-masing.

“Mau bicara soal apa Biet,serius amat kayanya”kata Cakka.
Obiet kemudian menceritakan semuanya ke Cakka tentang hubungannya sama Gita saat ini sedang renggang.
“Gimana lu punya saran nggak buat gue. Apa yang meski gue lakukan?”.
“Kalau menurut gue sih,mending lu temu’in Gita sekarang. Terus lu minta maaf dan jelasin semua ke dia”jelas Cakka,Obiet nampak ragu dengan usulan Cakka.
“Tapi gimana kalau gagal,dan dia malah semakin membenci gue”kata Obiet was-was.
“Yang penting lu udah usaha,kalau lu nya gini terus nih masalah nggak bakal selesai Biet”.
“Betul juga kata lu ya…Kka,kalau gue gini terus yang ada masalah ini tambah rumit. Gue harus siapin mental nih sebelum ketemu dia”kata Obiet semangat.
“Thanks ya Kka atas sarannya”kali ini Obiet sudah merasa agak tenang.
“Itulah gunanya teman Biet”.


Semenatar itu di kelas Sivia.
“Via kemaren lu jalan sama siapa?”tanya Zahra.
“Kemaren…ya sama Sion lah”jawab Sivia singkat.
“Masa sih? Kayanya bukan Sion deh,gue lihat lu kemaren makan di KFC”kata Zahra lagi.
“Beneran deh gue sama dia”sahut Sivia.
“Ah bukan deh Vi,siapa sih dia wajahnya kaya nggak asing lagi”Zahra sambil berfikir.
“Udah ah nggak usah di bahas nggak penting juga kan”Sivia berusaha mengalihkan perhatian.
“Kekantin yuk lapar ini”Sivia langsung beranjak dari kursinya.
“Eh tunggu Vi,gue ingat-ingat lagi siapa tuh cowok,yang pasti dia bukan Sion deh”Sivia tak memperdulikan ocehan temannya tersebut.

Sore harinya Cakka jalan-jalan di sekitar perumahan tempat tinggal Oik. Bosen jika harus di rumah terus.
Tiba-tiba saja ada mobil yang berhenti disampingnya,orang yang ada di dalam mobil itu turun.
“Shilla….????!!!!!!”kata Cakka.
“Ia…lagi apa,kok sendirian disini?”tanya Shilla heran.
“Jalan-jalan aja bosen aja kalau di rumah terus
“Kamu sendiri mau kemana Shill?”giliran Cakka yang bertanya.
“Hari ini aku mau ziarah kepemakaman mama”jawab Shilla dengan nada sedih.
“Kalau gitu aku temenin ya”tawar Cakka. Shilla mengangguk setuju.
“Maaf kalau merepotkan”kata Shilla tak enak hati.
“Sama sekali nggak”jawab Cakka tak keberatan.

“Maaf ya…Ma. Shilla baru bisa ziarah kemakam mama sekarang ini”bisik Shilla di pusara mamanya. Sementara Cakka diam sambil memperhatikan Shilla.
“Shilla datang sama Cakka,yang dulu pernah Shilla ceritakan ke Mama”.Cakka menundukkan kepalanya,ia tau apa yang di rasakan Shilla saat ini.
‘Semua orang itu pasti bakal mati…Cakka,tinggal nunggu aja kapan waktunya. Termasuk gue,tapi gue nggak pengen mati secepat ini’batin Cakka sambil menguatkan hatinya.

Di samping mobil Shilla setelah selesai berziarah.
“Aku punya permintaan satu untuk kamu Cakka”ucap Shilla tiba-tiba.
“Apa?”Cakka balik nanya.
“Tapi kamu mau kan ngikuti saranku ini”kata Shilla tak yakin.
“Saran….? Saran apa ya”kata Cakka tak mengerti.
“Kamu mau kan ikut kemoterapi,ya walaupun tujuannya bukan menyembuhkan tapi setidaknya bisa mencegahkan”jawab Shilla
“Nggak…Shill. Aku nggak mau ikut kemoterapi atau sejenisnya itu”tolak Cakka.
“Lagian aku pasti bisa bertahan tanpa itu semua”lanjutnya.
“Tapi nggak selamanya….Cakka”kata Shilla.
“Pokoknya aku nggak mau. Pasti rasanya sakit banget dan nyiksa”tolak Cakka.
“Mana kamu tau kalau belum dicoba,kamu pengen sembuh kan,aku juga nggak mau kamu itu seperti mamaku yang harus berakhir dengan kematian”Cakka tersentak dengan kalimat terakhir Shilla.

Akhirnya dengan berat hati Cakka mengangguk setuju.
“Iya”.
“Ini nggak akan berlangsung lama kok,aku punya kenalan seorang dokter spesialis mungkin dia bisa bantu kamu”Shilla tersenyum senang.
“Ya udah balik yuk,sebentar lagi kaya’nya mau hujan nih”Shilla mengantar Cakka balik ke rumah Oik.

~~~~~~~~Bersambung~~~~~~~~~

Huaaaaaaa sekian dulu ya ceritanya :p.
Thanks yang udah setia nunggu ini cerita setelah berbulan-bulan ngaret.
Thanks juga buat Isti,Yessoy,Dinni dan Dessy atas saran-sarannya. Dan juga buat semua yang udah nunggu.
Keep Your Coment and Like ;).

Selasa, 25 Januari 2011

Harus Sampai Disini (Cerpen)

Hai saya balik lagi dengan cerpen baru…

Awan kelabu menyelimuti birunya langit matahari enggan menampakkan sinarnya,deru angin menyapu dedaunan di pohon sehingga gugur satu persatu.
Hari ini seperti biasa aku berangkat ke sekolah,tapi sebelumnya aku harus kerumah Alvin untuk berangkat bareng dengannya.
Oh…ya namaku Oik Cahya Ramadlani saat ini duduk di bangku SMA tepatnya kelas XI. Alvin Jonathan Sindunata dia adalah sahabatku sejak kecil bahkan sudah ku anggap seperti saudara sendiri.
Aku sudah sampai di halaman rumah Alvin,ku lihat pemandangan yang tidak seperti biasanya seluruh rose,tanaman kesayangan Alvin bunganya berguguran.
“Ya ampun kenapa ini??”tanya Oik heran,biasanya yang gugur adalah bunga yang sudah layu tapi ini tidak bahkan yang baru mekar juga ikut gugur.

Perasaan Oik jadi gelisah,perasaan yang membuatnya tak nyaman. Oik tak menghiraukannya dan terus melangkah menuju rumah Alvin.
Oik mengetuk pintu rumah Alvin,beberapa saat kemudian seseorang dari dalam membuka pintu tersebut. Ternyata yang keluar pembantu Alvin.
“Alvinnya ada…Bi?”tanya Oik pada pembantu Alvin.
“Maaf neng beberapa hari yang lalu den Alvin pergi dan sampai sekarang dia belum pulang”jelas pembantu Alvin.
“Pergi kemana?”.
“Saya kurang tau neng”.
“Hmm…yaudah deh Bi kalau gitu saya permisi dulu”pamit Oik,dengan terpaksa dia berangkat sendirian naik taksi.


Biasanya aku bingung ke sekolah berangkat bareng siapa?(Alvin,Cakka atau Iel) Tapi kali ini aku bingung mau numpang siapa :(.
Sampai disekolah bel tanda masuk telah berbunyi,aku berlari menuju pintu gerbang yang hampir ditutup pak satpam.

“Pak jangan di tutup dulu pintunya”pinta Oik.
“Ini udah waktunya masuk dan kamu udah telat”jelas satpam itu,Oik mencari akal supaya dia di ijinkan masuk.
“Tadi saya telat gara-gara nolongin orang yang kecelakaan di jalan pak”jelas Oik dengan tampang melas.

Satpam tersebut iba melihat Oik dan akhirnya…
“Ya udah kamu boleh masuk”ucap satpam mengijinkan.
“Makasih pak”usaha Oik merayu satpam itu berhasil senyum mengembang di bibirnya walaupun harus dengan cara berbohong.

Aku segera menuju kelasku dan berharap bu Oki belum masuk kelas.
“Kelas sepi pasti mata pelajaran bu Oki sudah di mulai”tebak Oik.
Perlahan ku buka pintu ruang kelas namun tak ada bu Oki disana,teman-teman kelasku malah sibuk mencatat. Aku segera menuju bangku ku.
“Tumben bu Oki belum datang biasanya dia rajin banget”tanya Oik pada Keke teman sebangkunya,kemudian dia duduk.
“Bukannya belum datang Ik,tapi beliau emang nggak datang”jelas Keke.
“Oh pantesan”.

Hari ini aku melihat papan absen yang tertempel di dinding ada beberapa mana disana,aku menghela nafas pendek.
‘Huh Cakka udah 5 hari nggak masuk,kemana sih dia?’ batin Oik heran.
‘Alvin juga,Hp nggak bisa di hubungi pula’Oik menenggelamkan wajahnya dikedua tangannya.

Kini perasaan itu muncul lagi,perasaan yang membuatku gelisah dan takut,kenapa ini?.
“Oikkk…..”tegur Keke saat Oik tertunduk di mejanya.
“Hmm…..”Oik mengangkat wajahnya melihat ke arah Keke.
“Ke kantin yuk? Kenapa sih melas amat wajah lu Ik”ajak dan tanya Keke melihat raut Oik yang tampak sedih.
“Nggak tau kenapa hari ini aku lagi nggak mod banget”bales Oik.
“Pasti karena Cakka nggak masuk kan”tebak Keke,Oik melonggo.
“Udah nggak usah kaget gitu kali,kalian kan akhir-akhir ini deket banget”kata Keke.
“Jadi ke kantin nggak nih?”tanya Oik berusaha mengalihkan perhatian Keke.
“Yupp”Keke dan Oik keluar kelas dan melangkah menuju kantin.


Oik memesan mie ayam tapi nggak dimakan cuman di aduk-aduk mulu,sekarang dia di kantin tapi pikirannya entah kemana.
“Oik lu lagi mikirin apa sih?”tanya Keke khawatir saat melihat Oik yang melamun.
“Eh gpp kok”Oik tersadar dari lamunannya.

Bel pulang berbunyi aku berjalan menuju pintu gerbang,langkah ku terhenti saat melihat seorang cowok menghadangku,sepertinya dia bukan siswa sini.
“Hmm…kamu ya yang namanya Oik?”tanya cowok itu.
Ku perhatikan dia sekilas,rambutnya agak gondrong tingginya hmm? Masih tinggian aku dikit.
“Iya…kamu siapa?”tanya Oik heran.
“Nanti gue jelaskan,lu bisa ikut gue sekarang?”ajak cowok itu pada Oik.
“Ikut kamu? Kemana?!.”tanya Oik lagi.
“Lu mau atau nggak” karena penasaran Oik ikut aja,kelihatannya dia cowok baik-baik.
“Oke deh”Oik mengangguk setuju dan mengikuti cowok tersebut menuju mobilnya.

Cowok itu mengajakku menaiki mobilnya,entah dia mau mengajakku kemana,mobil dia akhirnya meninggalkan halaman SMA Pertiwi.
“Oh ya kenalin nama gue Ray”ucap cowok itu kepada Oik saat ditengah perjalanan.
“Ray…kamu tau namaku dari mana?”tanya Oik.
“Cakka cerita banyak tentang lu…ke gue”.
“Cakka….?”Oik tak mengerti apa yang barusan Ray jelaskan.
“Oh ya gue saudara sepupunya Cakka”jelas Ray.
“Hmm…Cakka kemana Ray? Soalnya beberapa hari ini dia nggak masuk”tanya Oik mungkin Ray tau kenapa dia sering nggak masuk.
“Nanti lu juga tau sendiri”ucap Ray setelah itu mereka saling diam,begitu pula Oik,dia penasaran banget ini cowok mau mengajaknya kemana.

“Kayaknya Cakka itu suka banget deh sama lu Ik? Lu sendiri suka nggak sama dia”kata Ray membuka kembali percakapan.
Aku terdiam mendengar ucapan Ray barusan,kemudian aku teringat kembali 2 minggu yang lalu saat Cakka mengajakku ke taman belakang sekolah.

~Flashback Turn On~

Jam pelajaran telah usai para siswa beranjak dari kelas,beberapa saat kelas sepi aku bangkit dari kursi dan hendak menuju kantin kemudian Cakka menghadang langkahku saat sampai di depan pintu’.
“Bisa ikut aku sebentar?”tanya Cakka.
“Kemana”tanya Oik.Cakka menggengam tangan Oik dan mengajaknya kesuatu tempat dia nurut saja.
Hingga akhirnya mereka sampai di taman belakang sekolah,tempatnya sejuk dan nyaman tapi sepi. Didekatnya ada sebuah danau.
“Ngapain sih kamu ngajak aku kesini??”tanya Oik kemudian ikut duduk disebelah Cakka.
“Aku sering datang kesini,rasanya tenang dan nyaman kalau ada ditempat ini”Cakka menyandarkan kepalanya di bahu Oik.

Untuk beberapa saat mereka diam tak ada percakapan,Oik menikmati suasana di taman itu,hatinya merasa nyaman dan damai.
“Asal kamu tau Ik,saat ini aku ingin terus ada disampingmu…aku nggak mau ada kata pisah diantara kita”lanjutnya.
“Tapi keinginanku takkan sejalan dengan kenyataan”lanjutnya.
Aku tersentak mendengar kata-kata barusan.
“Maksud perkataan kamu tadi apa sih aku nggak ngerti”tanya Oik.
Cakka tidak menjawab,hal itu membuat tanda tanya besar di otakku.

~Flashback Turn Off~

“Oikkkkk…”panggilan Ray membuat Oik tersadar dari lamunannya dan kembali ke alam nyata .
“Eh ia Ray”Oik tersadar dari lamunannya.
“Lu ngelamuin apa sih? Ada masalah ya?!”tanya Ray Oik menggeleng.

Saat itu juga mobil Ray sampai dirumah sakit hmm…ngapain sih dia ngajak aku kesini? Emang siapa yang sakit?!. Aku mengikuti langkah Ray memasuki rumah sakit,menyusuri lorong-lorong hingga langkah kami terhenti disebuah ruang…yupp ruang ICU tulisan itu terpampang jelas di pintu.
“Lu masuk aja”saran Ray,karena penasaran Oik nurut saja.

Karena ruang ICU steril aku harus memakai pakaian khusus yang sudah tersedia disana,begitu masuk langsung tercium bau alkohol yang sangat menyengat di hidungku.
Ku dapatinya seseorang sedang terbaring koma ditempat tidur dengan balutan alat-alat medis ditubuhnya,aku mendekati orang itu dan…
“Cakka”lirih Oik,Ray kemudian masuk dan berdiri di belakangnya.
“Iya lu nyari dia kan Ik”kata Ray. Oik duduk disamping tempat tidur Cakka di ikuti Ray.
“Jadi selama ini lu belum tau,emang Cakka nggak pernah cerita ke lu”kata-kata Ray membuat Oik harus menoleh kearahnya.
“Belum tau soal apa?”tanya Oik tak mengerti.
“Sejak lama Cakka mengindap gagal jantung dan dokter bilang dia harus menjalani transpalantasi karena itulah jalan satu-satunya Ik,agar nyawanya bisa tertolong”jelas Ray.
“Beberapa hari yang lalu penyakitnya kambuh dan sampai sekarang lu lihat sendiri kan”lanjutnya.
Tanpa ku sadari bulir-bulir air mataku jatuh membasahi pipiku,aku mengusapnya. Aku segera bangkit dari kursi.
“Mau kemana Ik?”tanya Ray.


Aku tak memperdulikan Ray yang memanggil namaku,saat ini aku ingin cepat-cepat sampai dirumah,segera ku cari taksi. 30 menit kemudian aku sampai rumah lalu menuju kamarku dan mengunci pintu. Saat ini aku lagi ingin sendiri,ucapan Ray di rumah sakit tadi masih teringang jelas ditelingaku. Segera ku ambil bantal dan menutup kedua telingaku.

Saat aku bangun pagi sudah menjelang seragam sekolah masih menempel di tubuhku,ternyata sejak dari sore aku ketiduran.


Aku segera kerumah Alvin,saat sampai dihalaman rumah dia seorang tukang kebun sedang membersihkan tanaman Alvin. Aku segera menghampiri tukang kebun itu.
“Kenapa tanamannya di potong semua?”tanya Oik heran.
“Itu neng entah kenapa tiba-tiba rose…den Alvin mati semua padahal saya rajin menyiramnya”jelas tukang kebun yang bekerja dirumah Alvin.
“Alvin sudah tau belum kalau rose kesayangannya itu mati semua”ucap Oik lagi.
“Belum neng karena beberapa hari ini den Alvin nggak dirumah,dia pergi 3 hari yang lalu”jelas tukang kebun itu lagi.

Perasaan itu datang lagi,membuatku tak nyaman dan takut.
“Jadi sampai sekarang Alvin belum pulang pak?”.
“Belum neng”.
“Bapak tau kemana dia pergi?”.
“Kalau itu saya kurang tau”.
Seisi rumah Alvin nggak ada yang tau kemana dia pergi,beberapa hari ini Alvin menghilang gitu aja. Rio…mungkin dia tau kemana Alvin.

Bel istirahat telah berbunyi aku segera menuju kelasnya Rio,kebetulan kami tidak satu kelas,aku tau kalau Alvin dekat banget sam Rio.
“Rio…”panggil Oik kemudian menghampiri Rio yang lagi duduk di bangkunya.
“Eh…Oik tumben nyari gue ada perlu ya?”tanya Rio PD.
“Ialah kalau nggak ada perlu aku nggak bakalan nyamperin kamu dikelas”jelas Oik.
“Kamu tau nggak Alvin kemana? Beberapa hari ini dia ngilang gitu aja”.
“Alvin…hmm gu…gue nggak tau Ik”kata Rio gelagapan.
“Yakin nggak tau soalnya kan kamu yang paling akrab sama dia dibandingkan sama aku”.
“Lah lu kan satu kelas,rumah lu kan dekat ma rumah Alvin kenapa nggak lu samperin aja”saran Rio.
“Aku udah kerumahnya,tapi kata pembantunya beberapa hari yang lalu dia pergi dan sampai sekarang dia belum pulang”jelas Oik.
“Aduh gu…gue bener-bener nggak tau Ik,soalnya gue hubungi nomornya nggak aktif”kata Rio.

Sepertinya Rio menyembunyikan sesuatu,dia pasti tau dimana Alvin cuman dia nggak mau ngaku,dari ekspersi wajahnya ketika ku tanya sepertinya gugup banget jawabnya.Semua teman-temannya sudah ku tanya tapi tak yang tau kemana Alvin berada.

Bel tanda pulang berbunyi menandakan kalau mata pelajaran hari ini telah usai,dengan langkah malas aku keluar dari kelas,sampai di pintu gerbang kulihat cowok yang kemarin itu sudah berdiri didekat pintu gerbang sambil celingukan yuppp….dia adalah Ray. Disaat yang sama Ray juga melihat ke arahku,dia lantas berjalan ke mendekatiku.
“Ray…..”kata Oik.
“Gue kesini mau jemput lu Oik”jelas Ray.
“Jemput aku…”Oik menunjuk dirinya sendiri.
“Iya soalnya dari kemarin Cakka nyari’in lu terus”jelas Ray.
“Kalau dia nanya’in aku berarti…”belum sempet Oik melanjutkan kalimatnya tapi sudah di potong oleh Ray.
“Dia udah sadar kemarin”selak Ray.
Oik hanya mengangguk kemudian mengikuti langkah Ray menuju mobilnya.

Didalam mobil Ray entah kenapa aku jadi terus kepikiran sama Alvin,tiga hari nggak ketemu rasanya udah kaya 5 tahun. Ku ambil Hp dan memencet nomor Alvin.
Calling Alvin….
Maaf nomor yang anda tuju’ berada diluar service area.
Aku mengendus kesal malah operator yang bicara,huh berarti Hpnya dimati’in.

Hingga akhirnya kami sampai dirumah sakit.
Aku masuk di ikuti Ray di belakangku,miris sekali melihat keadaan Cakka yang sekarang terlihat rapuh dengan berbantuan alat-alat medis,jauh lebih memprihatinkan ketimbang kemarin saat belum sadar. Aku pun mendekati Cakka dan duduk disebelahnya.
“Cakka...”panggil Oik.
“Oik.......” suara lirih itu terdengar seperti rintihan yang membuat hati Oik makin miris.
“Alvin mana Ik?”tanya Cakka tiba-tiba yang melihat Oik cuman datang berdua dengan Ray tadi.
“Kenapa kamu jadi nanya’in Alvin”tanya Oik heran.
“Gpp...tapi dia baik-baik aja kan”pertanyaan Cakka barusan membuat Oik bingung.
“Iya...”kata Oik singkat.
Aku nggak mungkin bilang kalau,aku nggak tau gimana Alvin sekarang.

“Mungkin dia lagi sibuk kali,maklum kan dia ketua osis lagian sebentar lagi ada olimpiade saint”jelas Oik bohong.
Diruang itu cuman ada aku dan Cakka.

Degggggg!!!!!!!
“Akhhhhhhhhh”rintih Oik sambil memegangi dadanya.
“Kamu kenapa Oik...?”tanya Cakka panik.
“Ngg....nggak....tau...ke...kenapa....sakit banget....”keluh Oik sambil menundukkan kepalanya.
Cakka berusaha menenangkan Oik.

Kenapa ini perasaanku jadi nggak tenang,jantungku terasa berhenti berdetak untuk sesaat,aku berusaha menenangkan diri.

“Kamu udah gpp kan?”tanya Cakka saat Oik sudah mulai tenang.
“Udah gpp kok”kata Oik yang sudah tenang.


Kemudian setelah itu Hp Oik bergetar.
Rio calling....... Oik kemudian mengangkatnya.
“Hallo”sapa Oik
“Aku lagi di”Oik nggak mungkin bilang kalau dia lagi dirumah sakit.
“Di...di rumah”.
“Emang siapa yang sakit Io”.
“Apa...Al...Alvin...ke...kecelakaan”kata Oik kaget.
“Terus sekarang kalian dimana”
“Ok aku kesana sekarang”.
“ALVINNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN”jerit Oik hp nya langsung jatuh,dia segera keluar dari ruangan ICU tanpa memperdulikan Cakka.

Ya...Tuhan apa yang terjadi dengan Alvin,mudah-mudahan dia baik saja,aku terus berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit hingga akhirnya langkahku terhenti di ruang UGD,disana sudah ada Rio,Agni,Obiet dan juga Debo. Aku segera menghampiri.
“Gimana keadaan Alvin?”tanya Oik pada yang lain.
“Kritis”jawab Agni singkat.
“Kok bisa sih sampai kecelakaan? Gimana ceritanya”tanya Oik sambil duduk dibangku.
“Menurut orang yang ada dilokasi kejadian tadi Alvin bawa mobilnya ngebut dijalan terus ditikungan dia nggak ngurangi kecepatannya,dari arah yang berlawanan ada truk Alvin berusaha menghindar,karena tak bisa mengendalikan laju mobilnya akhirnya mobil dia nabrak pembatas jalan dan langsung masuk ke jurang”kali ini Agni yang menjelaskan panjang lebar sambil menitihkan air mata.
“Alvin tak bisa menyelamatkan dirinya,dia terjebak di mobilnya sendiri”lanjut Agni.

Aku hanya bisa menghela nafas mendengar penjelasan Agni barusan.
“Maaf Ik kemaren gue udah bohong sama lu soal Alvin”kata Rio tiba-tiba.
“Bohong soal Alvin???”kata Oik tak mengerti.
“Waktu lu nanya’in dia gue kan jawab nggak tau,padahal selama tiga hari yang lalu Alvin nginep dirumah gue Ik”jawab Rio.
“Jadi kamu tau sebenarnya Alvin dimana selama tiga hari yang lalu” Rio hanya mengangguk.
“Oh ya Alvin nitip’in ini buat lu”Rio menyodorkan sebuah bingkisan kepada Oik. Oik menerima bingkisan itu.
“Apa ini Io?”tanya Oik.
“Gue nggak tau Ik”Rio mengangkat kedua bahunya.

Ku terima sebuah bingkisan warna biru tua itu,aku penasaran apa isinya. Selang beberapa waktu kemudian dokter keluar dari UGD.
“Gimana dokter keadaan Alvin,dia masih bisa selamat kan?”tanya Debo. Dokter itu tak menjawab.
“Jawab dokter”seru Rio.


Karena tak sabar menunggu jawaban dokter yang menangani Alvin,aku langsung saja masuk di ikuti oleh Rio, disana tubuh Alvin sudah tertutupi selimut. Aku mendekati ranjang Alvin.
“Vin...”lirih Oik sambil membuka selimut yang menutupi tubuhnya.

Aku memekik sekuatnya saat melihat tubuh Alvin penuh luka-luka kena pecahan kaca mobil. Wajahnya penuh darah.
“Alvin....bangun Vin”kata Oik. Dokter kemudian masuk dan berdiri di antara kami.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun tuhan berkendak lain,luka yang dialaminya cukup parah jadi kesempatan untuk hidup sangatlah kecil”jelas dokter.

Aku berusaha untuk lebih tegar,tapi aku tak kuasa untuk membendung air mataku saat melihat Agni dan Rio nangis,mungkin benar perasaan yang membuatku gelisah dan takut ternyata ini jawaban semua,sebelum Alvin meninggal tanaman kesayangannya mati semua.
“Mending kita pulang yuk”ajak Obiet.


Sore itu juga aku sudah ada di pemakaman,semua teman-teman datang untuk melihat Alvin untuk terakhir kalinya.
Beberapa menit kemudian semua membubarkan diri tinggal aku,Rio,Agni,Obiet,Debo sahabat yang paling dekat dengan Alvin.
“Sampai kapanpun lu akan tetap hidup didalam hati gue”kata Debo.
“Vin lu sahabat terbaik yang pernah gue miliki”lanjut Rio.
“Kamu jahat Vin,kenapa kamu pergi secepat ini”maki Oik.

Cuman itu yang mampu aku ucapkan saat ini untuk Alvin.

Keesokan harinya aku tetap masuk,hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku harus terbiasa tanpa Alvin.
Dihalaman sekolah berjejer rapi karangan bunga di situ tertulis jelas nama Alvin itu artinya sekolah masih dirundung duka. Aku tak ingin kesekolah apalagi pulang kerumah hal itu akan membuatku teringat Alvin,aku pengen bolos hari ini. Ku langkahkan kaki meninggalkan halaman SMA Pertiwi.

Aku duduk di halte bus.
‘Cakka’ Oh ya gimana dia sekarang? Kemarin aku ninggalin dia gitu aja. Kebetulan ada bus yang berhenti aku segera naik.

Beberapa menit kemudian aku sudah berada di rumah sakit. Aku segera menuju ruang ICU.Sesampai disana kulihat seorang suster sedang membereskan kamar Cakka. Dia tidak ada disana.
‘Ya tuhan,nggak mungkin’aku berusaha membuang jauh-jauh perasaan itu.
“Suster pasien yang dirawat di kamar ini kemana?”tanya Oik berusaha tenang.
“Oh Cakka ya? Dia udah di pindah ke ruang perawatan”jelas suster tersebut.
Apa di pindah keruang perawatan? Berarti kondisinya sudah membaik donk,kini perasaanku lega.

Aku sampai di depan kamar Cakka,ku buka pintu kamar dan segera masuk sekilas aku melihat bayangan Alvin disana.
“Alvin....”ucap Oik tak percaya kemudian bayangan itu lenyap.Oik segera mendekati Cakka yang masih tertidur.


Saat ini aku masih mengenakan seragam sekolah,aku teringat sesuatu. Segera ku buka bingkisan dari Alvin yang dititipkan ke Rio. Setelah terbuka ternyata isinya adalah surat dan kepingan CD serta sebuah cincin.
Aku penasaran dengan isi surat dari Alvin,akupun membukanya surat itu dan membacanya.


~Buat Oik peri kecilku~
Sebelumnya aku mau minta maaf untuk Oik,karena beberapa hari ini aku menghindar dari kamu. Aku cuman mau bilang,kalau aku sayang banget sama Oik bukan hanya sekedar sahabat saja. Tapi aku takut untuk mengungkapkan ke kamu,karena aku tak ingin merusak persahabatan kita yang sudah terjalin lama.
Saat ku tau kamu akhir-akhir ini dekat dengan Cakka,sakit banget hati ini melihat kamu dengan Cakka. Kadang aku berfikir apasih lebihnya dia?.
Empat hari yang lalu aku harus menerima kenyataan pahit,tanpa sengaja ku mendengar percakapan papa dan mama,kalau aku bukan anak kandung mereka. Saat aku masih bayi mereka mengadopsiku dari panti asuhan.,kenapa mereka nggak bilang dari dulu,tapi aku juga senang karena mereka sudah merawatku seperti anak kandungnya sendiri. Saat itu juga ku putuskan untuk pergi dari rumah tanpa sepengetahuan mereka,dan aku numpang menginap dirumahnya Rio untuk beberapa hari.
Senin yang lalu Rio mengajakku kerumah sakit untuk menjenguk saudaranya yang lagi sakit parah. Kemudian aku ijin ke Rio untuk ketoilet.
Saat di tengah jalan aku lihat Ray lagi didepan ruang ICU,mungkin kamu sudah tau kan siapa Ray?.
Ternyata Ray lagi nunggu’in Cakka,setelah ku Tanya emang Cakka sakit apa? Ray bilang kalau penyakit Cakka kambuh lagi. Akhirnya Ray cerita banyak tentang Cakka ke aku. Saat kulihat kondisinya saat itu miris sekali.
Ku temui dokter yang menangai Cakka,saat itu juga Cakka membutuhkan donor jantung,dan untuk mencari seseorang pendonor itu tidaklah mudah,dan bayaran dari semua itu adalah nyawa. Ku putuskan juga aku bersedia untuk menjadi pendonor untuk Cakka,entah apa yang ada di pikiranku saat itu. Mungkin kamu berfikir kalau aku saat itu melakukan hal bodoh.
Aku tak sanggup melihat kamu jika harus kehilangan Cakka,karena aku tau kamu sangat mencintai dia. Sedangkan aku? Ku rasa tak akan ada yang kehilangan jika aku yang mati. Itulah yang ada di pikiranku saat aku memutuskan untuk mendonorkan jantungku untuk Cakka.
Dengan cara itu mungkin aku akan terus hidup terus hidup bersamamu.
Mungkin hanya itu saja yang bisa aku tulis dengan kata-kata,maaf aku tak bisa ngomong langsung ke kamu,ini ada sebuah CD didalamnya aku menciptakan lagu untukmu…Oik

From
Alvin J.S





Setelah membaca surat itu Oik mengambil notebook ditasnya dan memasukkan CD. Didalam CD itu ada Alvin yang duduk dikursi jemarinya dengan lincah memainkan senar gitar.
“Tunggu...setau ku kan Alvin nggak bisa memainkan gitar”guman Oik.
“Hai Oik cantik,oh ya pasti kamu bertanya kenapa aku sekarang bisa memainkan gitar”kata Alvin.
“Selama ini aku meminta Rio untuk mengajariku untuk memainkan gitar karena aku tau kamu suka banget sama cowok yang bisa memainkan gitar kan”.
“Oh ya disini aku akan menyanyikan sebuah lagu,lagu ini cipta’anku sendiri dengan di bantu Rio khusus buat kamu.”lanjut Alvin.
“Dengerin ya Oik....”

Alvin memainkan intro sebuah lagu yang ia ciptakan sendiri,disamping Alvin juga ada Rio yang juga memegang gitar.

Tibalah waktunya...
Dipenghujung rinduku...
Perpisahan adalah kenyataan...
Katakan padaku walau dengan air mata...
Yang jatuh membasahi bumi...

Mata Alvin mulai berkaca-kaca,sepertinya dia menghayati lagu yang ia ciptakan sendiri.

Harus disinilah kita perpisah...
Lambaikan tanganmu...
Pejamkan matamu...
Dipenghabisan seluruh rindumu...
Harus sampai disini....

Sepertinya Alvin sudah lancar memainkan gitar

Terbenam sang fajar bukan berarti juga...
Seluruh cinta ku kan pudar untukmu...

Alvin kembali ke Reff lagu tersebut.

Harus disinilah kita berpisah lambaikan tanganmu...
Pejamkan matamu....
Dipenghabisan seluruh rindumu...
Harus sampai disini...
Kenanglah diriku...
Kenanglah pahit dan manis saat bersama...

Alvin memainkan gitarnya dengan sangat terampil hingga sampai pada reff kedua lagu itu.

Oh…harus disinilah kita berpisah lambaikan tanganmu…
Pejamkan matamu di penghabisan seluruh rindumu…
Harus sampai disini…Harus sampai disini…

Alvin selesai menyanyikan lagu tersebut,tanpa terasa butir-butir air mataku menetes dari kedua pelupuk mataku.
“Lagu ini aku beri judul Harus Sampai Disini ,dan perjumpaan kita memang cukup sampai disini kan Oik”kata Alvin.
“Aku ingin kamu terus mengingat lagu ini sampai kapanpun”lanjutnya.

Setelah selesai aku segera menutup notebook ku,aku senang melihat tindakan Alvin tapi kenapa harus dia?.
Saat itu juga ku lihat Cakka mulai sadar,keadaannya juga membaik.
Beberapa hari kemudian keadaan Cakka membaik, dia sembuh dengan cepat.

“Oh ya Alvin kemana Ik,beberapa hari ini aku nggak lihat dia”tanya Cakka.
“Alvin...dia..hmm”kata Oik bingung mau jawab apa.

Akupun mengajak Cakka ke pemakaman.
“Ngapain kita kesini Oik?”tanya Cakka heran.
Aku tak menghiraukan Cakka yang bertanya,sampai akhirnya langkahku berhenti di makam Alvin. Cakka heran melihat batu nisan itu bertuliskan Alvin Jonathan Sindunata.
“Ini Alvin teman kita kan Oik?”tanya Cakka
“Iya...beberapa minggu yang lalu Alvin meninggal karena kecelakaan Cakka...”jelas Oik air matanya kembali pecah.
Setelah itu aku mengajak Cakka meninggalkan pemakaman,aku tak ingin berlama-lama disana. Hal itu akan terus membuatku teringat dengan Alvin.

Aku duduk di taman belakang sekolah setelah dari makam,kebetulan pelajaran hari ini kosong,tempat favorit Cakka. Disana suasana sangat tenang,tiupan angin yang sepoi-sepoi membuat udara disana sejuk. Setidaknya aku bisa menenangkan diri dan melupakan Alvin. Cakka kemudian duduk disampingku.

“Hari ini adalah hari yang membuatku senang dan sedih”ucap Cakka tiba-tiba.
“Maksud kamu apa?”tanya Oik tak mengerti.
“Senangnya karena aku bisa sembuh juga,dan kini aku bisa menjalankan hidupku layaknya orang normal lainnya tanpa ada rasa ketakutan tentang bayangan kematian yang selalu mengahntui ku”jelas Cakka.
Oik tersentak mendengar penjelasan Cakka barusan,jadi Cakka tidak tau bahwa Alvin yang menjadi pendonor untuknya,saat ini hanya Oik saja yang tau.
“Sedihnya Alvin harus pergi secepat ini,dan aku tak bisa hadir saat pemakam dan melihat Alvin untuk terakhir kalinya”lanjut Cakka.

Saat didekat Cakka aku merasa seperti dekat dengan Alvin. Alvin memang akan terus hidup didalam diri Cakka.
“Aku juga senang kamu bisa sembuh seperti sekarang ini”Oik menyandarkan kepalanya di bahu Cakka. Cakka balas merangkul Oik.
“Dan kamu tau apa Ik yang ada di hatiku saat ini?”kata Cakka.
“Apa?”tanya Oik.
“Entah kenapa aku mulai suka sama kamu?”Cakka mempererat rangkulannya ke Oik.
“Masa sih?”Oik tak percaya. Cakka melepaskan rangkulannya dari Oik.

Cakka menatapku lekat-lekat.

“Kamu mau kan jadi cewekku...Oik”kata Cakka.

Hah...aku langsung cengo mendengar perkataan Cakka barusan,aku butuh waktu untuk berpikir sebelum menjawab. Aku sendiri juga tak bisa membohongi perasaanku saat ini,kalau aku sayanga banget sama Cakka. Aku cuman bisa mengangguk,pertanda kalau aku juga mau.Cakka tersenyum saat melihat reaksiku barusan.
“Jadi kamu mau kan...Oik?”tanya Cakka kurang puas dengan anggukan Oik.
“Iya aku mau”kata Oik singkat. Oik mengeluarkan sesuatu dalam sakunya.
“Aku mau kamu memakai ini terus dan jangan sampai hilang ya”pinta Oik sambil memakaikan sebuah cincin di jari manis Cakka.
“Iya”jawabnya singkat

Saat itu juga Cakka langsung memelukku,aku seperti dekat dengan Alvin. Bukan hanya aku saja tapi juga Rio,Agni,Debo dan juga Obiet kini mulai akrab dengan Cakka,padahal dulu mereka nggak suka banget dengan dia. Mungkin ini semua karena Alvin yang ada didalam diri Cakka. Aku pun bisa merasakan hal itu



~~~~~~~~~Selesai~~~~~~~~~~~


Akhirnya selesai juga nulis cerpen ini,setelah beberapa hari nggak bisa melanjutkan cerpen selain UAS,ini Lepi baru saja sembuh setelah beberapa hari yang lalu operasi gagal jantung hho...#gayapenulisedan. Maaf juga kalau ceritanya kurang menyentuh soale saya bkan penulis profesional.
Untuk yang meluangkan waktu membaca cerpen yang geje ini,qw ucapkn matur nuwun...... ƪ(˘⌣˘)┐┌(˘⌣˘)ʃ ____Keep your comment ok____ ƪ(˘⌣˘)┐┌(˘⌣˘)ʃ

Senin, 10 Januari 2011

Saat Kau Pergi


Langit begitu kelam matahari enggan menampakkan sinarnya,derai angin menyapu dedauan cuaca kali ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya,semua orang memakai pakaian serba hitam tanda sedang berkabung,berdiri mengelilingi salah satu makam dan membawa bunga tabur.

Beberapa saat kemudian setelah selesai berdoa dan menaburkan bunga para pelayat membubarkan diri,kecuali dua orang yang masih bertahan disitu yaitu seorang gadis ditemani seorang lelaki masih terduduk didekat makam itu sambil terisak sepertinya gadis itu masih terpukul dengan kepergian orang tersebut,tangan kanannya memegangi batu nisan.

“Oik ayo balik,bentar lagi mau hujan nih”ajak Gabriel.

“Aku nggak mau pulang…kak”tolaknya dengan suara yang agak lirih.

“Besokkan kamu bisa datang lagi kesini”bujuk Gabriel agar Oik mau pulang.

“Pokoknya Oik nggak mau pulang,kakak pulang saja duluan”suruh Oik.

“Sampai kapan kamu mau disini terus”tanya Gabriel,dia berusaha membujuk Oik lagi agar mau pulang.

“Oik mau disini kasihan Kak Cakka dia pasti kesepian”ucap Oik sambil menahan air matanya agar tak jatuh.

“Cakka nggak bakal kesepian disini akan ada dua malaikat yang bakal jagain dia”Gabriel berusaha menghibur Oik,entah kenapa dia merasa bersalah.

‘Harusnya gue yang ada disitu Cakka,bukan lo’batin Gabriel,dia berusaha menahan tangisnya agar tak pecah.

“Oik nggak mau pulang,Oik akan tetap disini,bakal nemenin kak Cakka,biar nggak kesepian”tegas Oik.

“Cakka pasti sedih kalau lihat kamu kaya gini”ucap Gabriel

Terlarut aku dalam kesendirian……

Saat aku menyadari…….

Tiada lagi dirimu kini……

Sampai kapankah aku mampu bertahan…..

Tertatih aku jalani semua kisah hidupku ini…..

~ Flashback~

Sore hari disebuah rumah sakit tampak beberapa pemuda duduk dibangku depan ruang ICU dengan perasaan gelisah,salah satu diantara mereka hanya mondar-mandir membuat yang lainnya merasa terganggu.

“Cakka bisa nggak lo duduk tenang”tegur Rio.

“Gue nggak bisa tenang dalam situasi kaya gini Io”ucap Cakka,sambil terus mondar-mandir.

“Tapi lo bisa membuat yang lainnya jadi nggak tenang”Rio berusaha menasehati Cakka.

“Gue sangat mengkhawatirkan keadaan Gabriel kaya gimana”ucap Cakka dengan nada gelisah.

“Bukan hanya lo aja yang mengkhawatirkan dia tapi kita semua…Cakka,jadi gue harap lo tenang ok”ucap Rio akhirnya.

“Yang dikatakan kak Rio ada benernya kak?”Agni berdiri lalu menarik tangan kakaknya itu agar duduk.

Kemudian Cakka melirik kearah Oik,dia melihat gadis itu menangis,Cakka bisa memahami itu karena Oik sangat mencintai Gabriel sosok cowok yang menjadi penghalang dalam hidupnya untuk menyayangi Oik sepenuhnya,Cakka mengalah untuk mencintai Oik demi sahabatnya.

Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruang ICU,Cakka,Rio,Alvin,Debo,Agni,Ray dan Oik tentunya langsung menghampiri Dokter tersebut.

“Gimana keadaan Gabriel…dok”tanya Cakka langsung pertanyaan itu tertuju pada dokter yang menangani Gabriel.

.“Kita boleh lihat keadaan kak Gabriel kan…dok”pinta Oik.

“Boleh…..tapi hanya 1 orang saja”ucap dokter tersebut,lalu Oik masuk keruang ICU karena semua tau yang dibutuhkan dia adalah Oik,Ray pun terpaksa mengalah padahal dia ingin melihat kondisi kakaknya.

“Hmm…terus gimana kondisi Gabriel…dok”tanya Cakka sekali lagi.

“Bisa ikut keruangan saya sekarang”pinta Dokter tersebut.

“Ada yang ingin saya bicarakan….penting”lanjutnya.

“Baik lah,dokter”Cakka lalu mengikuti dokter tersebut menuju ruangnya.

“Kak gue ikut”pinta Agni,Cakka hanya mengangguk.

“Gue juga…..”ucap Rio,lalu Alvin mengikutinya dari belakang.

Saat diruang dokter.

“Gimana kondisinya gabriel,terus sebenernya dia sakit apa?dok…”tanya Cakka lagi.

“Silahkan anda duduk dulu”dokter Irfan mempersilahkan Cakka dan yang lainnya duduk.

“Gagal ginjal akut…..dan kondisinya sudah parah,sama sekali sudah tidak ada harapan,”ucap dokter Irfan pasrah.

“A... Apa dok?”ucap Cakka tak percaya begitu pula yang lainnya.

“Dan satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah Transpalantasi ginjal,harus ada seseorang yang mau mendonorkan salah satu ginjalnya untuk Gabriel”jelas dokter Irfan.

“Apa dengan itu Gabriel bisa sembuh dokter”seru Rio.

“Iya hanya itu jalan satu-satunya karena kondisi ginjalnya sudah rusak parah bahkan hampir tidak berfungsi,jadi operasi transplantasi itu harus dilakukan segera”tegas dokter Irfan.

Agni,Cakka,Rio,Alvin keluar dari ruang dokter Irfan dan terduduk lemas di bangku,disitu sudah ada Debo dan juga Ray.

“Apa kata dokter Cakk???”tanya Debo udah nggak sabar.

“Dokter bilang Gabriel harus melakukan operasi transpalantasi”jelas Cakka dengan nada berat.

“Hah!!!transplantasi????”ucap Debo dan Ray secara bersamaan plus terkejut.

“Emangnya kakak gue sakit apa???”tanya Ray bingung.

“Gagal Ginjal”kali ini Rio yang menjawab.

“Apa kak…gagal ginjal”ucap Ray tak percaya dengan apa yang diucapkan Rio barusan.

“Emang selama ini lo nggak tau Ray”tanya Agni,Ray hanya menggeleng.

“Gue cuman tau kakak gue sering ngeluh sakit dibagian belakang perutnya kalau selesai kegiatan basket disekolahnya bahkan sering pingsan,tapi dia nggak pernah cerita”jelas Ray.

Sementara diruang ICU,Oik duduk disebelah ranjang Gabriel,air matanya sudah tak terbendung lagi,sudah 5 hari ini cowok itu koma dan sampai sekarang belum membuka matanya.

“Kapan kamu sadar sih kak”ucapnya suaranya mulai bergetar air matanya bertambah deras,tangan Oik terus menggengam erat tangan Gabriel.

“Kita semua,berharap kakak segera bangun”Oik berbicara didekat telingan Gabriel ia berharap cowok itu bisa mendengar suaranya,tak lelah ia berdoa untuk cowok yang dicintainya itu.

Diluar ruangan.

“Cakk lo mau kemana”tanya Alvin saat melihat Cakka berdiri.

“Gue mau lihat keadaan Gabriel dulu”Cakka lalu beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju ruang ICU.

Cekrekkk……Cakka membuka pintu ruang ICU,pandangannya tertuju pada seseorang yang terbaring lemah diranjang dengan bantuan alat-alat medis,Cakka merasa miris melihat keadaan sahabatnya tersebut,dan dia merasa sedih melihat sosok gadis yang duduk disebelah ranjang dengan mata sembab karena habis nangis.

“Gimana….Iyel udah sadar”tanya Cakka lalu mendekati ranjang Gabriel.

“Belum kak…”jawab Oik dengan suara bergetar,air matanya masih mengalir lagi.

“Jangan nangis lagi”pinta Cakka lalu duduk disebelah Oik.

Cakka lalu menghapus air mata Oik.

“Gabriel pasti sedih kalau lihat kamu nangis”ucap Cakka.

“Kak….”Oik mulai berkata walau nada bicaranya rada nggak jelas.

“Iya…”jawab Cakka singkat.

“Kenapa sampai sekarang kak Gabriel kok belum sadar sih…kak”tanya Oik pada Cakka yang membuatnya bingung.

“Eh…Hmm pasti dia bakal sadar,karena dia nggak akan biarin kamu terus-terusan menangis”kata Cakka asal dia tak ingin gadis yang disayanginya itu terus-terusan sedih,sebenernya dia juga tidak tau kapan sahabatnya itu sadar.

“Tapi kapan kak…”tanya Oik lagi dengan nada manja.

“Se…secepatnya”jawab Cakka ngasal,Cakka kemudian keluar ruangan.

“Kak lo mau kemana”tanya Agni yang melihat Cakka berjalan menjauh dari ruang ICU.

“Ketoilet…..”jawab Cakka sambil terus berjalan.

Setelah lumayan agak jauh Agni mengikutinya dari belakang,ternyata Cakka nggak ketoilet tapi menuju ruang dokter,Agni mengintip dari balik pintu.

“Berapa lama lagi dokter,teman saya bisa bertahan”tanya Cakka antusias.

“Tidak lama lagi…keadaannya sudah parah,dia membutuhkan donor itu secepatnya”jelas dokter Irfan.

“Kalau gitu saya,bersedia mendonorkan ginjal saya untuk Gabriel dok….”, tawar Cakka.

Kemudian Agni muncul dari balik pintu dan menghampiri Cakka

“Lo jangan ngaco Kak”seru Agni yang membuat Cakka kaget.

“Agni ngapain lo disitu”tanya Cakka.

“Gue ngga setuju kak,lo tau kan apa resikonya….nyawa”ucap Agni tegas sambil memberi penekanan di kalimatnya.

“Gue tahu itu Ag…tapi lo nggak bisa cegah gue”kata Cakka berusaha tenang.

“Tapi kak…”.

“Lo yakin kan,gue nggak bakal kenapa-napa”ucap Cakka sambil meyakinkan Agni,tak bisa berbuat apa-apa lagi.

“Apa anda yakin,dan sudah memikirkan kemungkinan resiko yang bakal terjadi”tanya dokter Irfan meyakinkan.

“Iya dok”.

“Agni lo jangan bilang yang lainnya ya,termasuk Oik”pinta Cakka.

“Tapi kenapa mereka nggak boleh tau”ucap Agni bingung.

“Lo bisa kan buat nggak ngasih tau semua”perintah Cakka,Agni hanya mengangguk,dia sudah pasrah,Agni tidak mengerti jalan pikiran kakaknya,menantang maut menurutnya,kakaknya rela berkorban untuk sahabatnya demi gadis yang dipujanya setengah mati.

“Kalau gitu anda bisa ikut saya untuk melakukan tes dulu”kata dokter itu.

Agni berjalan keluar dari ruang dokter,dia melangkah menuju yang lainnya,sambil terus memikirkan apa yang dilakukan kakaknya itu,dia berjalan lunglai menuju ruang ICU.

“Lo habis dari mana Ag”tanya Alvin yang tampak tak bersemangat.

“Toilet….”singkat.

“Lo kenapa lemes gitu”.

“Gu…gue gpp kok”jawab Agni bohong,dia ingat pesan kakaknya tadi untuk tak menceritakan apa yang dilihatnya tadi.

Beberapa hari kemudian.

Oik menuju rumah sakit sendirian tak ditemani siapapun,dia berjalan menuju ruang ICU,tempat Gabriel dirawat,dia mendapati hal yang sama,cowok itu masih terbaring koma,tak ada tanda-tanda kondisi cowok itu membaik.

“Kak ini aku…Oik”ucapnya lalu duduk di samping ranjang Gabriel,tangan Oik meraih tangannya lalu menggengam erat.

“Kapan kamu sadar kak….”tanya Oik.

Tiba-tiba sesuatu terasa bergerak di genggaman Oik,ia tersentak dan buru-buru melepas genggamannya dari tangan Gabriel.

“Kak…..”panggil Oik sambil menggengam erat tangan Gabriel menguatkan sosok itu.

Gabriel membuka matanya dengan susah payah,bayangan yang semula samar di hadapannya, lama-lama semakin jelas. Di depannya kini ada sosok perempuan yang tersenyum,betapa senangnya akhirnya dia bisa kembali menatap wajah cewek itu.

“Oi…Oik”panggilnya terbata.

“Ia kak…aku disini”ucap Oik senang akhirnya cowok itu sadar juga.

“Aku panggil dokter dulu ya….”Oik melepaskan genggamnya dari tangan Gabriel,lalu keluar mencari dokter.

“Dokter…kak Gabriel sudah sadar….”ucap Oik memberitahu,lalu mengajak dokter itu.

“Oh…ya...”

“Syukurlah anda sudah sadar”ucap dokter Irfan setelah selesai memeriksa Gabriel.

“Berapa lama saya disini dokter”tanya Gabriel lirih.

“Udah seminggu kamu nggak sadar kak”kali ini Oik yang menjawab.

“Se..seminggu”.

“Ada berita baik untuk kamu…Gabriel”seru dokter Irfan.

“Berita baik apa dok”tanya Gabriel bingung.

“Kamu punya harapan untuk sembuh sekarang,donor untuk kamu sudah ada”ucapan dokter Irfan membuat Gabriel dan Oik tentunya…..senang.

“Alhamdulilah....kak”ucap Oik ikut senang.

Oik segera memberitahu yang lainnya,Alvin,Debo,Rio dan Ray ikut senang.

Beberapa hari kemudian keadaan Gabriel pasca operasi mulai membaik,kini dia sudah tidak lagi diruang ICU tapi diruang perawatan biasa.

“Gimana keadaan lo Yel”tanya Debo.

“Lo lihat sendiri kan,keadaan gue udah membaik”jawabnya,terlintas senyum dibibirnya.

“Cakka…mana kok dari kemaren nggak kelihatan”tanya Gabriel tiba-tiba,karena beberapa hari dia tak melihatnya.

“Gue sendiri juga nggak tau”Alvin mengangkat kedua bahunya pertanda tidak tau.

“Iya…dia ngilang gitu aja,padahal dia yang paling khawatir dengan kondisi lo”kata Rio heran.

“Begitu juga Agni…kak,beberapa hari terakhir aku tidak melihatnya”ucap Oik.

Disekolah,pelajaran telah selesai bel tanda pulang telah berbunyi,Oik segera menuju kelas X-1 mencari Agni sahabatnya,kebetulan mereka beda kelas.

“Kamu lihat Agni nggak”tanya Oik pada salah satu siswa tersebut.

“Tuh dia masih dibangkunya”siswa itu menunjuk kearah Agni,Oik lalu menghampiri Agni.

“Agni…”sapa Oik lalu mendekati bangkunya.

“Oik,ngapain lo disini”tanya Agni.

“Nggak apa-apa kok,udah beberapa hari ini kamu nggak kelihatan kemana aja”tanya Oik polos.

“Gu..gue nggak kemana-mana”jawab Agni sekenannya.

“Oh ya…kak Cakka kemana Ag ,udah beberapa hari ini aku nggak bertemu dia”tanya Oik lagi.

Seketika wajah Agni berubah,dia menatap Oik tajam.

“Lo beneran pengen ketemu dengan kakak gue”ucap Agni dengan nada agak tinggi,Oik sedikit ketakutan.

“I…iya”ucap Oik terbata.

“Kamu kenapa…Ag…”tanya Oik bingung,Agni tak menjawab.

“Sekarang lo ikut gue”paksa Agni lalu menarik Oik untuk mengikutinya.

“Ke…kemana…”Oik berfikir Agni kesambet.

Agni mengajak Oik menuju rumah sakit.

“Kamu mau jenguk kak Gabriel ya”tebak Oik.

“OIK TOLONG LO BERHENTI BICARA SEKARANG”bentak Agni,membuat Oik ketakutan.

“DAN PERLU LO INGAT GUE SEDANG TIDAK INGIN JENGUK GABRIEL…PAHAM ”lanjutnya dengan suara tinggi Oik terdiam,mata Agni mulai berkaca-kaca,mereka berdua menelusuri lorong-lorong rumah sakit,kemudian langkah mereka terhenti depan ruang ICU.

‘Agni ngapain ngajak aku keruang ICU,kalau bukan mau jenguk kak Gabriel lalu siapa…???’batin Oik sambil bertanya-tanya.

“Kenapa kita keruang ICU,emangnya siapa yang sakit”tanya Oik bingung.

“Lo ikut gue masuk sekarang”Agni menarik tangan Oik.

‘Agni ngapain ngajak aku masuk keruang ICU,emangnya mau ngapain sih’batin Oik

Sebelum Agni dan Oik masuk keruang ICU,mereka mengenakan pakaian steril dulu.

Perlahan-lahan Oik membuka pintu ruang ICU,didapatinya seseorang sedang terbaring koma ditempat tidur dengan balutan alat-alat medis ditubuhnya,Oik mendekat betapa terkejutnya dia.

“Agni i…ini kan”mulut Oik terasa kaku melihat pemandangan didepan matanya. “Iya ini kak Cakka”jelas Agni tangisnya pecah.

“Agni tolong jelasin ke aku,kenapa dengan kak Cakka”tanya Oik.

“Lo masih tanya kenapa…”nada bicara Agni agak tinggi.

“Kenapa kamu marah sih”Oik bingung melihat Agni sahabatnya itu berubah tiba-tiba.

“Asal lo tau Ik…kakak gue begini juga demi lo”jelas Agni.

“Demi aku….emangnya apa yang kak Cakka lakuin”tanya Oik semakin bingung dengan ucapan Agni.

“Lihat kan Gabriel bisa sembuh seperti sekarang ini karena kak Cakka yang donoron ginjalnya buat dia”lanjutnya.

“A…a…Apa,jadi kak Cakka,kenapa kamu nggak bilang ke kita”ucap Oik kaget sambil bertanya kepada Agni.

“Kak Cakka ngelarang gue tuk kasih tau yang lainnya termasuk lo”.

“Kakak gue lakuin ini semua demi lo,karena cinta banget sama lo Ik,bahkan dia tak peduli dengan dirinya sendiri,dia tau lo cinta banget sama Gabriel,makanya kak Cakka lakuin ini semua”jelas Agni air matanya tak terbendung lagi.

Perkataan Agni barusan sukses membuat Oik nangis.

“Jadi selama ini kak Cakka suka sama aku”ucap Oik tak percaya.

“Iya…tapi nyatanya apa yang ada di hati lo cuman Gabriel…Gabriel…dan Gabriel,tanpa lo pernah mikir gimana perasaan kak Cakka…Ik”kata Agni.

Oik merasa bersalah banget ia tak mampu berkata-kata lagi,dia hanya menangis.

“Maaf…nggak seharusnya gue marah-marah sama lo”ucap Agni lirih,ia merasa bersalah pada Oik.

“Gpp…”jawabnya singkat lalu keluar dari ruang ICU.

“Oik…Oik…Oik….”panggil Agni,Oik tak menyahut,dia pergi gitu aja.

Esok harinya.

Oik datang lagi kerumah sakit kali ini tujuannya untuk jenguk Gabriel melainkan Cakka.

Didapatinya lagi cowok itu masih belum sadar,masih sama kaya kemaren,malah jauh memprihatinkan ketimbang Gabriel dulu.

“Kapan kamu sadar sih kak?”tanya Oik,Ia lalu menggenggam jemari Cakka,lalu tertidur.

Baru beberapa saat Oik memejamkan matanya ada yang bergerak di genggamannya,ia tersentak dan mengangkat wajah, dan menatap Cakka. mata cowok itu mengerjap beberapa kali,dan perlahan-lahan terbuka,alangkah senangnya dia bisa melihat lagi wajah gadis itu.

“Kak kamu udah sadar”ucap Oik senang sambil mengusap lembut tangan Cakka, menguatkan sosok itu.

“Oi…Oik”rintihnya.

“Iya ini aku kak,Oik panggil dokter dulu ya”kata Oik.

“Ngg…ngga usah…”tolaknya.

Sementara diluar ruangan.

“Agni kenapa lo nggak ngasih tau gue,kalau Cakka yang donorin ginjalnya buat gue”ucap Gabriel ada rasa sedikit kekecewaan di wajahnya.

“Maaf…”ucap Agni sambil tertunduk.

“Harusnya lo cerita sama kita”nada Alvin agak tinggi,dia agak sedikit kesal.

“Kak Cakka sendiri yang meminta gue untuk nggak menceritakan sama kalian”jelas Agni.

“Udah donk kalian jangan nyalahin Agni,ini bukan salah dia”bela Rio.

Ruang ICU

“Gi…gimana keadaan Gabriel sekarang…Ik”tanya Cakka.

“Sekarang keadaanya udah membaik,dia udah pulang 3 hari yang lalu”jelas Oik.

“Syukur deh….”ucap Cakka agak lega.

“Tapi kenapa sekarang malah kak Cakka yang jadi kaya gini”ucap Oik sedih air matanya berlinang membasahi pipinya.

“Hahaha kakak nggak apa-apa ini”ucap Cakka berusaha tenang,ia tak ingin membuat Oik cemas padahal kondisinya memburuk.

“Argh!!”rintih Cakka tiba-tiba sambil memengangi perutnya.

“Kak…kamu kenapa….”ucap Oik panik.

“Kalau gitu aku panggil dokter dulu”Oik hendak melangkah keluar tapi tangan Cakka mencegahnya.

“Ngg…nggak usah,yang lain…ke..kemana Ik”tanya Cakka karena dari tadi dia hanya melihat Oik disampingnya,Oik hanya mengangguk dan keluar ruangan.

“Kak Cakka nyari’in kalian semua”ucap Oik dengan nada lemas,mereka masuk ruang ICU.

Gabriel,Alvin,Rio,Debo dan Agni duduk disebelah Cakka.

“Gimana keadaan lo Cakk”tanya Gabriel.

“Lo….tau…sendiri..kan hhh keadaan gue sekarang…lo…lo sendiri gimana???”kata Cakka terbata.

“Keadaan gue udah membaik,thanks Cakk”ucap Gabriel senang.

“Hha lo nggak perlu berterima kasih sama gue….”.

“Yel…Gue…hhh…minta satu hal sama lo…hhh”pinta Cakka,diselingi nafas yang memberat.

“A….apa itu Cakk”tanya Gabriel bingung.

“Lo…hh…harus…jagain Oik,dia….hhh sangat mencintai lo…hhh”Gabriel menahan air matanya.

“Pas…pasti itu Cakka”ucap Gabriel yakin,Cakka tersenyum lalu pandangannya beralih pada Debo dan Alvin.

“Kalian…hhh…memang sahabat terbaik gue,kalian harus bisa hidup tanpa gue lagi”ucap Cakka serius.

“Lo ngomong apa’an sih Cakk”kata Alvin kesal,sementara Debo mengusap air matanya yang jatuh.

Cakka lalu melihat kearah Agni.

“Terus buat Agni….,kakak hhharap lo bisa jadi cewek yang baik,nggak berantem lagi….”pinta Cakka pada Agni,agar adiknya itu bisa berubah,Agni mengusap air matanya.

Pandangannya kemudian beralih kearah Rio,Cakka tersenyum pada Rio.

“Gue…hhh…minta sama lo Rio,tolongin jaga’in Agni,gue percaya sama lo”Rio hanya tersenyum matanya mulai berkaca-kaca.

Pandangannya kini tertuju pada sosok Gadis yang berdiri dibelakang Gabriel,sambil tertunduk menangis.

“O…Oi…Oik…”panggilnya,Oik masih diam beberapa saat.

Kemudian Oik menghampiri Cakka dan memeluknya.

“Kak jangan tinggalin Oik…hu…huuu”tangisnya pecah.

“Jangan nangis…hh….kakak nggak pengen lihat kamu nangis lagi”tangan Cakka menghapus air mata.

“Kakak mau minta hhh satu hal sama Oik…hhh…”kata Cakka nafasnya mulai memberat,Oik merasakan sesuatu hal yang buruk yang akan terjadi sama Cakka.

“Ap…apa itu kak”tanya Oik.

“Kamu ha….hhhharus bahagia sama Gabriell….”pinta Cakka,tangan kanannya memengangi tangan Gabriel,dan tangan kirinya memegangi tangan Oik,lalu menyatukannya,Cakka tersenyum,Gabriel dan Oik saling berpandangan,Cakka lalu melepaskan tangannya.

“ Oik .. hh.. aku.. aku cinta sama kamu.. cinta sekali..tapi semua su..sudah terlambat…hhh”ujar Cakka Napasnya makin memberat dan tak beraturan.

“Kenapa kakak baru bilang sekarang….”sesal Oik.

“Kakak ngg…nggak mungkin suka…sss…sama kamu,sudah ada Gabriel disisi kamu…dia yang bakal ngejaga dan ngelindungi kamu,kakak harap kkamu bahagia sama dia”kata Cakka.

“Tapi kak…”tangan Oik mengengam tangan Cakka,lalu Cakka berusaha melepasnya.

Agni,Gabriel dan yang lainnya berusaha menahan Air matanya.

“Maaf…hhh…sayang….kakak…hhh…harus…pergi….hhhh”ucap Cakka sambil menghela nafas panjang,matanya tertutup perlahan-lahan,bersamaan dengan datarnya garis di monitor yang menunjukkan detak jantung Cakka sudah tak ada.

Kehilangan dirimu menyakitkan nurani…Separuh nyawa terbawa…Menyisakan perih dihatiku…

Hanya terus berharap…Ini bukan kenyataan…Kau pergi tinggalkan dunia fana

…………………………………………………………………………………………………………………

Baiknya kulepaskan segala kepedihan tuk merelakanmu…Mengapa semua ini terjadi…Betapa ku mencintai dirimu …Ku tak kuasa menahan kesedihan yang begitu dalam….

……………………………………………………………………………………………………………….

“Kak Cakka….bangun kak…kak…….”panggil Oik sambil menggoyang-goyangkan tubuh Cakka yang terdiam,semua panik,Alvin keluar mencari dokter.

Tak berapa lama dokter datang memeriksa keadaan Cakka,dokter itu menggeleng.

“Suster tolong lepaskan alat-alat ditubuh Cakka”perintah dokter Irfan.

Semua hanya bisa menangis.

Oik mendekati Cakka dan memeluknya,dia berusaha tegar melepas kepergian Cakka.

“Kakak jahat kenapa tinggalin Oik hiks…”ucap Oik,Gabriel berusaha menenangkan Oik dan membawanya menjauh dari ruang ICU,begitu juga Rio mengajak Agni keluar.

~Flashback End~

“Oik janji nggak bakal nangis lagi,sesuai pesan kakak”jelas Oik sambil senggukan karena habis nangis.

“Dan bahagia sama kak Gabriel”lanjutnya.

Gabriel menunduk sambil diam,tapi didalam hatinya dia mulai berkata didekat batu nisan Cakka.

‘Gue bakalan jagain Oik demi lo…Cakka,semoga lo tenang dialam sana’batinnya.

“Kak Gabriel…kakak janjikan sama Oik,nggak bakal ninggalin Oik”pintanya.

“Aku janji nggak bakal ninggalin kamu”ucap Gabriel yakin lalu memeluk Oik,dalam pelukkan Gabriel ia merasa dekat Cakka,kini Cakka akan hidup terus hidup diraga Gabriel.

Tiba-tiba Angin berhembus kencang,Oik hendak berdiri sesosok bayangan yang memakai pakaian serba putih muncul dihadapanya.

“Kak…kak Cakka…”ucap Oik tersentak,bayangan itu hanya tersenyum lalu menjauhi Oik.

“Oik kamu kenapa”tanya Gabriel bingung.

“Kak itu…kak Cakka…kak”tangan Oik menunjuk kearah barat.

“Mana…”Gabriel tak melihat apa-apa disana,dia mengira Oik terlalu berhayal.

“Itu disana kak”Gabriel tak melihat apapun,hanya Oik yang melihatnya

Lalu bayangan itu hilang seiring datangnya sinar matahari yang memancarkan sinarnya langit yang tadinya mendung kini cerah.

“Sudahlah Oik mungkin itu cuman perasaan kamu aja,lebih baik kita pulang saja”ajak Gabriel,Oik hanya mengangguk.

Beberapa minggu setelah kepergian Cakka semua sudah kembali normal.

“Lo mau ajak gue kemana Io?”tanya Agni.

“Ada deh dan lo pasti suka”Rio membawa Agni kesebuah taman yang ada dibelakang bukit.

“Ini taman favorit gue,gue selalu curhat ditaman ini tentang semua hal termasuk perasaan gue ke lo”kata Rio lalu duduk Agni mengikutinya.

“Hah curhat perasaan lo!sama siapa?”tanya Agni bingung.

“Hahaha dasar lo ini”Rio malah ketawa.

“Kok malah ketawa siy -_-“seru Agni.

“Gue mau ngomong isi hati ini ke lo”kata Rio ragu.

"Ngomong soal isi hati lo ke gue"Agni menunjuk dirinya sendiri.

"Gue suka sama lo Ag dari dulu,lo mau kan jadi pacar gue??"ucap Rio tanpa basa-basi lagi.

Agni bingung mau jawab apa,untuk beberapa saat dia diam.

"Halloo..."Rio melambaikan tanganya di depan muka Agni.

"Gue nggak tau harus bilang apa"jawab Agni.

"Lo ingat kan permintaan terakhir Cakka,gue harus jagain lo sampai kapanpun"tegas Rio.

Agni mengangguk.

"Jadi???mau kan"tanya Rio sekali lagi.

"Iya gue mau"jawab Agni akhirnya.

"Thanks Agni"tanpa malu-malu Rio langsung meluk Agni.

"Ehmm"Wajah Agni langsung memerah :").

Rio melepaskan pelukannya

"Kita kesana yukk,lihat sunset"Rio mengajak Agni di atas bukit sebelah barat,sambil gandeng tangannya.

~~~~~Ending~~~~~